Referendum Swiss Pilih Larang Penutup Wajah Niqab dan Burka

Referendum Swiss Pilih Larang Penutup Wajah Niqab dan Burka
Poster kampanye Partai Rakyat Swiss memperlihatkan perempuan dengan penutup wajah berwarna hitam. Poster itu bertuliskan "Hentikan ekstremisme!" and "Setop Islam radikal!". | Foto: Bbc.com

Mayoritas rakyat Swiss, dengan selisih suara yang tipis, menyetujui larangan pemakaian penutup wajah, seperti burka dan niqab yang biasa dikenakan muslimah.

Sebanyak 51,2% suara dalam referendum yang digelar, Minggu 7 Maret 2021, menyetujui pelarangan tersebut. Sisanya, sebesar 48,8% menyatakan hal sebaliknya.

Partai Rakyat Swiss yang berhaluan sayap kanan mengajukan usulan pelarangan itu. Mereka menggaungkan sejumlah slogan, antara lain "Hentikan Islam Radikal".

Kelompok Muslim di Swiss menyebut hasil referendum ini sebagai hari kelabu bagi umat Muslim.

"Keputusan hari ini membuka luka lama, semakin memperluas ketidaksetaraan hukum, dan mengirim sinyal yang jelas untuk mengucilkan minoritas Muslim," kata Dewan Pusat Muslim Swiss dalam sebuah pernyataan.

Lembaga ini menyatakan akan menentang keputusan dan hasil referendum tersebut melalui pengadilan.

Sebelumnya, pemerintah Swiss telah menyatakan menolak pelarangan itu, dengan alasan bukan urusan negara untuk mendikte pakaian perempuan.

Menurut penelitian University of Lucerne, hampir tidak ada perempuan Muslim di Swiss yang memakai burka dan hanya sekitar 30 orang yang mengenakan niqab.

Setidaknya 5% dari 8,6 juta penduduk Swiss beragama Islam. Kebanyakan dari mereka berasal dari Turki, Bosnia, dan Kosovo.

Head coverings worn by Muslim women. | Foto: Bbc.com

Rakyat Swiss diberi hak suara dalam menentukan urusan mereka sendiri dalam sistem demokrasi secara langsung. Mereka secara teratur diundang untuk memberikan suara terkait berbagai masalah, baik dalam referendum berskala regional maupun nasional.

Ini bukan pertama kalinya Islam menjadi isu yang ditentukan dalam mekanisme referendum Swiss. Pada tahun 2009 sebagian masyarakat negara itu menentang saran pemerintah dan memilih melarang pembangunan menara masjid.

Ketika itu, proposal referendum terkait pelarangan menara masjid yang juga digagas Partai Rakyat. Mereka menilai bahwa menara masjid merupakan simbol Islamisasi.

Terminologi Islam tidak secara langsung disebut proposal referendum yang berlangsung akhir pekan kemarin.

Partai Rakyat Swiss berargumen bahwa pelarangan penutup wajah juga ditujukan untuk menghentikan pengunjuk rasa jalanan memakai topeng. Meski begitu, pemungutan suara itu secara luas disebut sebagai "larangan burka".

Proposal soal larangan penutup wajah ini diajukan sebelum pandemi Covid-19. Artinya, semua orang dewasa di Swiss harus memakai masker di banyak tempat.

Pilihan terbelah para pemegang suara

Analisis oleh Imogen Foulkes, BBC News, Jenewa

Apakah pemungutan suara hari Minggu kemarin seluruhnya mengenai penutup wajah, baik niqab, burka hingga syal yang kadang-kadang dipakai perusuh jalanan untuk menutupi wajah mereka?

Pertanyaan itulah yang ditegaskan para juru kampanye Partai Rakyat Swiss.

Namun poster dan literatur yang dibuat partai sayap kanan ini mengatakan sebaliknya karena memperlihatkan perempuan berniqab hitam yang tampak mengancam.

Materi kampanye Partai Rakyat Swiss itu memperingatkan para pemilih tentang ekstremisme Islam.

Lantas, apakah dengan hasil referendum ini Swiss menjadi lebih ekstrem? Apakah negara ini mengalami Islamofobia?

Jawabannya mungkin tidak.

Pada akhirnya, proposal larangan itu menang dengan selisih suara yang tipis. Sebelumnya Partai Rakyat Swiss mendapatkan dukungan mayoritas untuk sejumlah usulan kebijakan populis, yang sering ditujukan untuk membatasi pencari suaka dan memperketat imigrasi.

Partai ini berhasil mendorong larangan menara masjid tahun 2009. Ketika itu mereka menggelar kampanye yang serupa dengan larangan penutup wajah.

Namun perdebatan seputar penutup wajah menyentuh berbagai segi.

Banyak kaum feminis Swiss memandang burka dan niqab merupakan penindasan terhadap perempuan. Akan tetapi mereka juga menentang regulasi yang mengatur apa yang mereka boleh dan tidak boleh dipakai perempuan.

Dalam referendum kali ini, jawaban mereka terbelah.

Jawaban yang umumnya diberikan perempuan saat ditanya apakah mereka akan mendukung larangan itu adalah "Jein".

Terminologi dalam bahasa Jerman ini adalah persilangan antara "Ja" atau ya dan "Nein" alias tidak. Pemungutan suara ini mungkin juga sangat "Jein".

Sanija Ameti, anggota komunitas Muslim Swiss, mengatakan kepada BBC bahwa kampanye Partai Rakyat Swiss itu mencemaskan. Dia juga merujuk citra perempuan Muslim yang ditampilkan dalam poster kampanye partai tersebut.

"Begitu banyak Muslim di Swiss akan merasa terhina, tidak dianggap sebagai bagian dari masyarakat Swiss, dan didorong ke sudut di mana mereka tidak dianggap ada," kata Ameti.

"Kami tidak terlihat seperti perempuan-perempuan di poster itu. kami tidak melakukannya," ujarnya.

Namun, ada komunitas Muslim di Swiss yang mendukung larangan tersebut.

Imam Mustafa Memeti, dari kota Bern, mengatakan kepada BBC bahwa motivasi di balik kampanye itu "mungkin Islamofobia". Meski begitu, dia tetap mendukung larangan itu karena bisa membantu emansipasi perempuan Muslim di Swiss.

Jelang pemungutan suara kemain, Walter Wobmann, Ketua Komite Referendum sekaligus anggota parlemen Partai Rakyat Swiss, menyebut penutup wajah Muslim sebagai simbol identitas politik Islam ekstrem yang semakin menonjol di Eropa.

Wobmann menyebut hal seperti itu tidak memiliki tempat di Swiss.

"Di Swiss, tradisi kami adalah menunjukkan wajah Anda. Itu tanda kebebasan dasar kami," katanya.

Amnesty International menentang larangan yang diusulkan Partai Rakyat Swiss ini. Mereka menyebutnya sebagai kebijakan berbahaya yang melanggar hak-hak perempuan, termasuk kebebasan berekspresi dan beragama

Sebelumnya, pemakaian cadar di tempat publik menjadi topik kontroversial di sejumlah negara Eropa.

Prancis melarang penggunaan cadar di depan umum pada tahun 2011, sementara Belanda, Denmark, Austria, dan Bulgaria memberlakukan larangan secara penuh atau sebagian terhadap pemakaian penutup wajah di ruang publik.

Komentar

Loading...