Ronaldo Terjerat Beckham Law

Ronaldo Terjerat Beckham Law
Christiano Ronaldo dalam pusaran penggelapan pajak. Foto: skysport.com

Setelah Messi dan Mascherano, giliran Ronaldo terseret pusaran penggelapan pajak.

KBA.ONE - Portugal memetik kemenangan besar kala melawat ke markas Latvia di dalam pertemuan babak kualifikasi Piala Dunia 2018 di Skonto, Sabtu, 10 Juni 2017. Mega bintang Cristiano Ronaldo mencetak dua gol secara beruntun pada menit 41 dan di babak kedua pada menit 63. Gol penutup juara Eropa it dicetak oleh Andre Silva.

Malam itu, Ronaldo kembali menunjukkan taji. Setelah mengantarkan Real Madrid menjuarai Liga Champion kedua dalam dua tahun terakhir, Ronaldo menunjukkan dirinya tak pernah berpuas diri. Gol pada menit 63 itu adalah gol ke-73 untuk tim nasional Portugal. Setelah menjuarai La Liga, dia dijagokan sebagai kandidat utama untuk meraih Ballon d'Or, 2017.

Namun di luar lapangan, kiprah Ronaldo bakal tercoreng setelah kejaksaan di Madrid, Spanyol, menuduh bekas bintang Manchester United itu menggelapkan pajak. Laporan ini disampaikan kepada Pengadilan Pozuelo de Alarcon. Dalam laporan tersebut, Ronaldo disebut melanggar empat pasal terkait pajak di Spanyol. Pelanggaran tersebut dilakukan dalam periode tahun 2011 hingga 2014 dengan total kerugian hingga mencapai angka 14,7 juta euro.

Masih dari tuntutan yang dibuat oleh jaksa, Ronaldo diduga melakukan pelanggaran yang sama dengan kasus pajak Lionel Messi. Pemain Barcelona tersebut sebelumnya sudah dinyatakan bersalah atas penggelapan pajak citra diri dengan menciptakan sebuah 'struktur bisnis' di luar wilayah Spanyol.

Gestifute, perusahaan milik agen Ronaldo, Jorge Mendes, sejauh ini masih belum memberikan keterangan atas tuntutan yang diajukan oleh jaksa. Pada kesempatan sebelumnya, saat kasus ini mencuat, Gestifute sempat menyangkal jika Ronaldo mengemplang pajak.

“Sesuai dengan ‘Beckham Law’ yang berlaku di Spanyol saat itu, Ronaldo sebenarnya hanya perlu membayar pajak uang yang dihasilkannya di Spanyol, bukan di luar negeri,” terang perwakilan Gestifute kepada El Confidencial. Petugas penyilidik pajak Spanyol memberi batasan waktu hingga 30 Juni 2017 bagi Ronaldo untuk membuktikan dia tidak bersalah.

Sebelumnya, Pengadilan Spanyol mendakwa Javier Mascherano, pemain Barcelona dan tim nasional Argentina, hukuman satu tahun karena kasus sama. Rekan setimnya, Lionel Messi, juga didakwa kasus serupa.

Lionel Messi (kiri) dan ayahnya Jorge Horacio Messi dalam sidang penggelapan pajak di Barcelona. Foto: AFP Photo

Pajak sepak bola adalah sumber pemasukan luar biasa besar. Premier League musim 2013/2014 menyumbang pemasukan pajak sebesar 2,4 miliar poundsterling untuk pemerintah Inggris. Jika dikonversi ke rupiah, nilai mencapai Rp 35,6 triliun. Angka ini jauh lebih besar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh yang “hanya” Rp 14 triliun.

Beberapa pemain memilih bermain di liga kelas dua, seperti Rusia atau Cina. “Pemain ingin mendapatkan jaminan (keuangan) untuk keluarganya dan untuk dana pensiun di sisa hidupnya. Beberapa dari mereka rela membuat pengorbanan besar ini dalam hal klub mana yang mereka perkuat demi mendapatkan ini," terang Tom Brookes, seorang agen yang juga menjabat sebagai direktur pelaksana International Football Management.

Maka adalah sebuah pilihan yang logis dan juga ekonomis saat banyak pesepakbola asal Amerika Selatan, Asia, atau Afrika memilih negara-negara Eropa dengan tingkat pajak rendah sebagai batu pijakan. Dari situ mereka berharap bisa melompat ke kompetisi yang lebih baik, dengan gaji serta bonus lebih besar, dan bersiap juga membayar pajak yang lebih banyak.

Penelitian yang dilakukan The National Bureau of Economic Research di 14 negara Eropa menunjukkan kalau pesepakbola punya kecenderungan untuk memilih negara yang punya pajak relatif rendah. Salah satu negara Eropa dengan pajak sepakbola paling kecil adalah Turki, yakni sebesar 15 persen.

Di Turki, pemain sepakbola dikenai pajak yang lebih rendah dibanding pekerja di sektor publik lain yang mencapai 27 persen. Pemain seperti Lukas Podolski, Robin van Persie dan Luis Nani, Dirk Kuyt, Oscar Cardozo, Wesley Sneijder, Ryan Babel, Ricardo Quaresma, Guti Hernandez, Roberto Carlos, Florent Malouda, Raul Meireles, Manuel Fernandes dan Felipe Melo memilih datang ke negara perbatasan Asia dan Eropa itu. Kebijakan ini disebut “Beckham Law”.

Istilah ini adalah aturan untuk menarik atlet kaya untuk datang dan tinggal di Spanyol. Diterbitkan pertama kali pada Juni 2005, Beckham Law membuat para pemain asing di Spanyol dikenakan pajak flat sebesar 24,75 persen. Padahal mereka bisa dikenakan pajak progresif mencapai 43 persen. Kebijakan tersebut hanya berusia lima tahun dan dicabut pada 2010 lalu. Ronaldo sempat menikmati aturan ini saat pindah dari Manchester United ke Real Madrid. Di Inggris, dia dikenai pajak 50 persen. 

 

Komentar

Loading...