Ruang Pinere Saksi Bisu Perjuangan Melawan Covid-19

Ruang Pinere Saksi Bisu Perjuangan Melawan Covid-19
Suasana lokasi ruang pinere RSUZA Banda Aceh beberapa waktu lalu. | Foto: KBA.ONE, Ulfah

KBA.ONE, Banda Aceh – Ruang Pinere menjadi saksi bisu bagaimana lelahnya petugas kesehatan berjuang melawan Covid-19 dan bagaimana ganasnya virus corona menghantam pasien.

Hal ini disampaikan Direktur Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh, saat acara zikir dan doa rutin pagi digelar Pemerintah Aceh, di area Ruang Pinere Covid-19, Rabu 24 November 2021.

Isra menyebutkan sebanyak 500 lebih pasien Covid-19 meninggal dunia yang dirawat di ruang Pinere RSUDZA belum sama sekali menerima vaksin. Kata dia, tidak ada cara lain melawan Covid ini, selain dengan protokol kesehatan (prokes) juga dengan vaksin Covid-19.

“Apabila masih mempercayai kami sebagai tenaga kesehatan, maka percayalah apa yang kami sampaikan,” kata Isra.

Dokter spesialis Paru Ruang Pinere, Heri mengatakan dirinya melihat berbagai gejala pasien yang diserang virus corona selama dua tahun bertugas menangani pasien Covid-19 di ruang Pinere RSUDZA.

“Umumnya mereka yang dirawat adalah pasien dengan gejala berat. Pernafasan pasien begitu berat akibat alat pernafasannya digerogoti virus corona,” ungkapnya.

Pengalaman menjalani hari-hari sebagai pasien Covid-19 yang harus dirawat dan diisolasi di ruang Pinere RSUDZA juga diceritakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, Abdul Hanan. Ia mengaku sedikit trauma saat kembali ke ruang Pinere tersebut. Hari-hari yang dirasanya sulit kembali terbayang dalam pikiran.

“Alhamdulillah berkat dukungan dan bantuan dokter kita bisa sembuh. Mari kita patuhi program vaksin pemerintah sehingga kita terhindar dari Covid-19,” ajak Hanan.

Kepala Ruangan Pinere, Marlina mengatakan selama dua tahun bertugas di tempat pasien Covid, dirinya harus terus berusaha menyemangati dan melakukan berbagai hal agar seluruh staf yang bertugas tetap semangat bekerja.

“Pada bulan enam lalu saya terpapar Covid, Alhamdulillah karena sudah vaksin gejalanya tidak berat dan isoman hanya empat hari. Melawan Covid-19 ini hanya dengan tiga hal, doa, prokes, dan vaksin,” ujar Marlina.

Sementara, Petugas Pemularasan Jenazah Covid-19, Ustad Yusbi Yusuf, menceritakan pengalaman pilu saat memandikan jenazah pasien Covid-19 dari ruang Pinere RSUDZA.

Ia mengaku pernah satu waktu dalam satu hari, tidak berselang lama saat sedang memandikan salah satu jenazah, masuk telepon untuk memandikan jenazah lainnya. Hal tersebut berulang sampai tiga kali dalam satu hari.

“Saya sangat shok hari itu, apakah akan ada lagi setelah ini? karena itu kami sangat berharap kesadaran masyarakat untuk melakukan vaksinasi Covid-19,” kata Yusbi.

Cerita pilu dalam bertugas menangani pasien Covid-19 juga diceritakan oleh sopir ambulan. Ia mengatakan mengantarkan jenazah pasien Covid-19 berbeda dengan pasien sakit lainnya.

“Kami harus mengenakan baju hazmat agar bisa mengantar jenazah Covid-19, kadang selama dalam perjalanan saat mengantar jenazah ke daerah kami tidak makan, kami takut singgah karena banyak orang akan takut melihat kami,” kata sopir ambulan tersebut.

Ia tidak ingin lagi ada jenazah Covid karena itu dirinya mengharapkan masyarakat ikut vaksin dan menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari–hari dengan memakai masker, mencuci tangan atau memakai handsanitizer, dan menjaga jarak.

Anara

Komentar

Loading...