Rumah Sakit Bukan (Praktik) Dukun

Rumah Sakit Bukan (Praktik) Dukun
Ilustrasi | Paragram

Jarang ada dukun menyuruh asistennya mengobati pasien. Jika pun ada, paling penyakit kecil-kecil seperti gatal-gatal. Dukun harus melakukan itu supaya nama baiknya terjaga.

PERNAH berobat ke dukun? Cobalah sesekali kalau encok Anda tak kunjung sembuh setelah bertahun-tahun. Jika ke rumah sakit berkali-kali, bahkan tenggak obat generik hingga yang mahal sekalipun, encok tak kunjung enyah dari badan, dukun jawabannya.

Walaupun dilihat dari kesahihan kesehatan, dukun jelas tak bisa dipercaya, banyak orang sembuh, kok. Di tangan dukun, banyak penyakit berkurang. Minimal ambeien musnah dan rematik tercerabut dari akarnya.

Walaupun tak punya struktur jelas, sebuah tempat perdukunan punya manajemen kerja sistemik. Semua penyakit ditangani oleh seorang dukun. Tunggal ia. Tidak ada dua dukun membuka praktik bersama. Entah kenapa, mungkin tak elok di dunia perdukunan.

Anda ke sana, keluhkan penyakit apa, langsung ditangani sang dukun. Kalau pun ada asisten, kerjanya, ya, cuma bersih-bersih ruangan atau mengambil segelas air untuk disembur. Jarang ada dukun menyuruh asistennya mengobati pasien. Jika pun ada, paling penyakit kecil-kecil seperti gatal-gatal. 

Dukun harus melakukan itu supaya nama baiknya terjaga. Tentu ia tak mau ada pasien mengeluh gara-gara asistennya salah meraba. Bisa runtuh nama baiknya di mata rival, dukun kampung sebelah.

Kalau ada kejadian pasiennya yang malah makin parah setelah diobati, biasanya si dukun langsung tutup praktik. Dia buru-buru gulung lapak dan pindah ke tempat yang jauh: lokasi di mana orang-orang tak kenal padanya. Jika ia tak mampu pindah karena memang rumahnya di kampung itu, sesegera mungkin akan pensiun. Lalu sesudahnya mencari mata pencaharian baru.

Nah, dukun yang mungkin sekolah saja tak tamat, punya etika luar biasa dalam memandang sesosok makhluk hidup bertajuk pasien. Ia memandang nyawa orang sebagai hadiah tertinggi dari Sang Pencipta. Tak mau ia memain-mainkan hidup mati seseorang di tangannya.

Anehnya, sebuah rumah sakit di Meulaboh malah sebaliknya. Tempat perawatan manusia dan lokasi di mana sains lebih diagungkan itu justru abai terhadap hidup mati manusia. Nyawa orang lenyap gara-gara suntikan. Dan si penyuntik  bukan orang profesional yang telah mendapatkan pengakuan negara bahwa ia boleh melakukan itu.

Seharusnya, rumah sakit yang selalu dipercayai pasien untuk mengurangi rasa sakitnya itu, tidak memandang remeh kepercayaan tersebut. Jika semua orang boleh menyuntik atau menangani pasien, buat apa dokter dan perawat?

Salah satu kode etik dokter adalah harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup mahluk insani. Sedangkan salah satu  kode etik perawat senantiasa mengutamakan perlindungan dan keselamatan klien.

 Itu tugas berat sebenarnya. Kewajiban melindungi hidup orang lain. Tak mampu semua orang melakukannya. Tapi di tangan dokter dan perawat kewajiban itu disematkan. Kita sudah terlanjur percaya pada mereka.

Jika kasus seperti di Meulaboh itu dialamatkan ke oknum nantinya, rumah sakit sebagai tempat dokter dan perawat mencari nafkah, semestinya lebih dulu bertanggung jawab secara moral. Bukannya membela diri. Nyatakan ke publik kalau Anda itu abai terhadap nyawa dan berjanjilah tak akan mengulangi lagi.

Selain itu, menjauhlah dari pemikiran bahwa itu sebuah kesalahan manusia. Rumah sakit harus malu dengan kata profesionalisme. Jika terus mewajarkan sebuah kesalahan, jangan-jangan besok profesionalisme rumah sakit cuma dongeng. Dan bakal ada lagi yang mati karenanya. Jangan begitu dong, malu sama dukun!

Komentar

Loading...