Sambal Oen Peugaga, Kuliner Warisan Indatu Hanya Ada saat Ramadan

Sambal Oen Peugaga, Kuliner Warisan Indatu Hanya Ada saat Ramadan
Sambal Oen Peugaga. | Foto: KBA.ONE, Ayu

KBA.ONE, Aceh Selatan - Dari balik dinding beralaskan tikar anyaman, tampak seorang wanita sibuk menyiapkan dedaunan herbal yang diramu untuk dijadikan kuliner.

Dengan perlahan, wanita itu dan sang ibu memilah beberapa jenis daun yang sudah dibersihkan. Sesekali ia melihat jam di dinding untuk memulai kegiatan di bulan Ramadan.

Dengan lihainya, wanita bernama Maisyitah membalut dedaunan yang didapatkan dari sawah dan pegunungan itu untuk diiris-iris, dan dibuatkan sambai Oen Kaye, sebutan daerah Aceh Selatan lebih dikenal sambal Oen Peugaga.

Sambil bercerita dengan sang ibu, tangan Maisyitah mulai membuat balutan dedaunan agar bisa diiris tipis.

Menurut pengakuannya, sejak lima tahun terakhir ia mengikuti jejak sang ibu yang sudah 30 tahun, membuat sajian untuk kuliner khas bulan Ramadan ini.

Tumbuhan dengan latin Centella Asiatica ini, biasanya tumbuh di sekitaran rumah, perkebunan, pematangan sawah, bahkan di pegunungan, yang memiliki banyak khasiat, salah satunya mampu mengatasi masuk angin.

Sambal Oen Peugaga juga dinilai mampu mengatasi penyakit lain seperti darah manis (diabetes) dan kolestol. Menurut kepercayaan masyarakat di desa di Aceh Selatan, kata Maisyitah, jika menyantap Sambal Oen Peugaga saat berbuka puasa bisa menjadikan saksi bahwa kita berpuasa di akhirat kelak.

Sambal Oen Peugaga ini, diyakini sudah ada sejak zaman kerajaan Aceh, namun nasibnya tidak sama dengan kuliner khas Aceh lainnya. Sedangkan kuliner  Sambai Oen Pegaga hanya hadir di bulan Ramadan saja.

Dalam meracik sambal yang kaya manfaat dan  hanya di jumpai bulan Ramadhan ini, ia memerlukan 44 jenis daun segar. "Kita gunakan 44 jenis daun yang berkhasiat untuk obat alami," kata Maisyitah kepada KBA.ONE, sambil mengiris dedaunan tersebut, Jumat 23 April 2021.

Halaman12

Komentar

Loading...