Sambangi Puslit Arkenas, Shabela Sampaikan Polemik Ceruk Mendale

Sambangi Puslit Arkenas, Shabela Sampaikan Polemik Ceruk Mendale
Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar bersama Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional I Made Geria. | Foto: Ist

KBA.ONE, Jakarta - Berangkat dari hingar bingar pembahasan terkait pekerjaan proyek penataan dua Situs Nasional Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang, dengan anggaran sebesar Rp681.912.000 yang dikerjakan oleh CV Ugel Mentari melalui dana DOKA tahun 2021.

Tak alang, berujung berbagai hujatan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan Dinas Pendidikan Kebudayaan selaku pelaksana proyek program pemeliharaan tersebut, baik langsung maupun lewat pemberitaan di media. Kini mendapat tanggapan serius dari Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar.

Tidak tanggung-tanggung, selain melayangkan surat resmi bernomor 430.218684/Prokopim, tertanggal 15 November 2021 M / 10 Rabiul Akhir 1443 Hijriah, kepada Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) di Jakarta, perihal evaluasi kegiatan pemeliharaan Situs Cagar Budaya Curuk Mendale dan Loyang Ujung Karang.

Kemarin, orang nomor satu di Kabupaten Aceh Tengah tersebut menyambangi langsung Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jalan Condet Pejaten Nomor 4, Pejaten, Kecamatan Pasar Minggu, Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta, guna mengkonfirmasi evaluasi serta konsultasi lebih lanjut terhadap pengerjaan proyek pemeliharaan di dua lokasi cagar budaya Mendale dan Ujung Karang.

Kehadiran Shabela tersebut diterima langsung oleh Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional I Made Geria, beserta jajaran di Ruang Rapat Kerja Puslit Arkenas Jakarta, Rabu 17 November 2021.

Dalam kesempatan tersebut Bupati Aceh Tengah, terlebih dahulu menyampaikan apresiasinya atas capaian dan kebijakan riset Puslit Arkenas semasa kepemimpinan I Made Griya, sebagai kepala pusat, serta kembali mengingatkan komitmen serius Pemerintah Aceh Tengah untuk melestarikan dan mengembangkan situs budaya di Aceh Tengah, untuk menjadi destinasi wisata sejarah dan edukasi di bagi dunia pendidikan.

"Bahkan sedari kami akan menjabat pada Maret 2017 lalu, bertepatan pada kunjungan tim arkeolog dari seluruh Indonesia yang dipimpin oleh Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Drs. I Made Griya, M.Si," ulas Shabela.

Ia telah menyampaikan komitmen serius untuk melestarikan dan mengembangkan situs tersebut, untuk pengembangan Destinasi Wisata Sejarah dan Pendidikan, sesuai dengan harapan dari Peneliti Utama Center of Prehistoric and Austronesia Studies, Prof Truman Simanjuntak.

Selanjutnya dalam kesempatan tersebut, Shabela memohon kepada Kapuslit Arkenas untuk menurunkan tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, guna melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pemeliharaan cagar budaya situs Ceruk Mendale dan Loyang Ujung Karang.

"Sangat disayangkan berawal dari postingan Saudara Ketut Wiradnyana, selaku Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara pada media sosial Facebook tertanggal 14 November 2021, yang menyampaikan keluhan lewat media sosial dengan bahasa yang kami rasa kurang etis, serta dinilai mengiring opini publik dan menjadi pemicu kesalahpahaman masyarakat," imbuhnya

Padahal sedari awal, kata dia, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tengah sudah pernah menyampaikan secara langsung terkait rancangan kegiatan pekerjaan proyek penataan dua Situs Nasional Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang, tersebut kepada Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional I Made Griya, mengatakan Pihak pemerintah Aceh telah mendaftar situs ini sebagai salah satu cagar budaya Indonesia. "Terkait permasalahan yang muncul belakangan ini, kami rasa hal tersebut hanya dikarenakan miskomunikasi saja karena pada dasarnya tujuan kita adalah kebersamaan dalam membangun dan membantu daerah dalam mengembangkan sumber daya budaya," terangnya.

"Barangkali dengan komunikasi  yang baik, untuk menyelesaikan hal ini, agar tidak akan berkembang menjadi polemik yang meluas, kami akan mengatur waktu, untuk dapat berdiskusi, turun kelapangan, dan duduk bersama pemerintah daerah, membahas upaya pelestarian budaya yang kita banggakan tersebut," Katanya.

"Situs bersejarah ini menjadi nilai edukasi bagi generasi mendatang. Pasalnya penemuan luar biasa keberadaan kerangka manusia prasejarah ini menjadi bagian penting awal peradaban, bukan hanya di Tanah Gayo namun juga berkontribusi bagi penguatan identitas nusantara bahkan bagi Asia Tenggara,” sebutnya.

Made Griya pimpinan Puslit Arkenas, lembaga unit di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, yang mengemban tugas melaksanakan penyiapan bahan kebijakan teknis di bidang penelitian dan pengembangan Arkeologi tersebut.

Anara

Komentar

Loading...