Sandal Jepit Mahatma Gandhi

Sandal Jepit Mahatma Gandhi
Mahatma Gandhi | Sumber Foto: http://talliumelkom.com

Mahatma Gandhi adalah ikon pemimpin dunia yang amat bersahaja. Setidaknya perlu satu, dua, atau tiga generasi lagi untuk menemukan sosok Gandhi di negeri ini.

Suatu ketika, Winston Churchill, Perdana Menteri Britania Raya semasa Perang Dunia II, bilang; “menyedihkan...melihat Mr. Gandhi, seorang pengacara Kuil Tengah yang menghasut, sekarang tampil sebagai seorang fakir yang tipenya umum di Timur, menaiki tangga Istana Viceregal dengan badan setengah-telanjang."

Ketika masih hidup, Albert Einstein juga berkomentar tentang Gandhi: "(mungkin) generasi berikut akan sulit mempercayai bahwa ada orang seperti ini pernah hidup di dunia." Mengapa mereka berkomentar tentang Gandhi? Keduanya tertarik pada cara hidup mendiang tokoh spiritual dan politikus India itu.

Mohamdas Karamchand Gandhi (2 Oktober 1869-30 Januari 1948) adalah tokoh perintis kemerdekaan India. Gandhi aktivis yang tidak menggunakan kekerasan  dan mengusung sebuah perjuangan dengan jalan damai. Karena kearifannya, dia dipanggil Mahatma Gandhi (bahasa Sansekerta berarti; jiwa agung).

Gandhi lahir di Gujarat, India. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk belajar ilmu hukum. Setelah jadi pengacara, dia hijrah ke Afrika Selatan, sebuah koloni Inggris. Di sana dia mengalami diskriminasi ras; apartheid. Dia kemudian memutuskan menjadi aktivis politik agar bisa mengubah diskriminasi itu. Gandhi membentuk sebuah gerakan non-kekerasan.

Ketika kembali ke India, dia membantu proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris. Rakyat dari agama dan suku berbeda, yang hidup di India kala itu, yakin bahwa India perlu dipecah menjadi beberapa negara agar kelompok berbeda memilik negara sendiri.

Banyak orang India ingin agar para pemeluk Hindu dan Islam punya negara masing-masing, tapi dia tidak setuju. Gandhi seorang Hindu. Namun, dia menyukai pemikiran-pemikiran agama lain, termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara.

Prinsip Gandhi, satyagraha, sering diterjemahkan sebagai "jalan menuju kebenaran". Prinsip ini menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan anti-rasisme, seperti Martin Luther King dan Nelson Mandela.

Sayang, pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu. Pelakunya marah karena kearifan Gandhi menginginkan rakyat Hindu dan Muslim diperlakukan seimbang.

Nilai berharga yang patut ditiru dari seorang Gandhi adalah kesederhanaan. Gandhi seorang yang diagungkan, tapi dia lebih suka mengenakan sandal jepit dan kain putih ketika bertemu siapa saja. Dalam otobiografinya, Gandhi mengatakan bahwa dia tidak pernah menyukai gelar dan sering terluka oleh hal itu.

Kisah hidup Mahatma Gandhi banyak dituangkan ke dalam film, sastra, dan teater. Ben Kingsley yang memerankan Gandhi dalam film berjudul Gandhi yang dirilis pada 1982, memenangkan Academy Award untuk Aktor Terbaik. Sedangkan The Making of the Mahatma yang dirilis pada tahun 1996 mendokumentasikan kehidupan Gandhi di Afrika Selatan. Gandhi juga merupakan tema sentral dalam film Bollywood tahun 2006 Lage Raho Munna Bhai. Pada 2007, sebuah film berjudul Gandhi, My Father,  menceritakan hubungan antara Gandhi dan putranya Harilal.

Sosok Gandhi kini semakin menjauh dari kehidupan pemimpin sekarang. Ibarat berdiri di depan “cermin retak“, pemimpin masa kini sering merasa rendah diri bila tidak mengenakan setelan jas tuxedo, dasi belang, dan sepasang sepatu mengilap saat bertemu rakyat, relasi atau kerabat. Di suatu acara seremoni di kantor pemerintahan, misalnya, pejabat-pejabat kerap  memamerkan busana, aksesori, dan mobil mewah layaknya selebritas.

Inilah yang membuat kita semakin pesimis menemukan sosok Gandhi, sekalipun kita menggelar ajang reality show seperti Indonesian Idol. Butuh waktu lama untuk memukan sosok pemimpin seperti Gandhi. Tapi, jika ada sayembara pemimpin korup di negeri ini, bisa saja penampakannya ditemukan dalam sekelebat pandang mata.

Ya. Sulit, memang, mencari simbol pemimpin arif seperti sosok Gandhi. Setidaknya kita harus menanti satu, dua, hingga tiga generasi lagi untuk menemukan Gandhi. Di manakah Gandhi-Gandhi masa kini yang bersandal jepit tanpa gengsi dan korupsi? Ah, jikapun ada pemimpin kita yang coba ingin meniru cara hidup Gandhi, barang kali itu cuma ekspresi janji agar kepemimpinannya tak di-bully setiap hari!

Komentar

Loading...