Sang Penjaga Islam Pertama di Nusantara

Sang Penjaga Islam Pertama di Nusantara
Al-Markazul Islami Lhokseuamwe; magnet baru wisata spiritual. | Foto: Try Vanny.

Berdiri menjulang di jantung kota Lhokseumawe, Al-Markazul Islami merupakan ikon baru objek wisata spiritual yang mampu menambat hati para musafir.

KBA.ONE, Lhokseumawe – Menghampar di atas tanah seluas 33,784 meter persegi, berdiri seonggok bangunan megah bernilai seni tinggi; bergaya arsitektur Timur Tengah. Jika malam tiba, sinar dari ratusan bola lampu yang ditanam di sekujur bangunan itu tak henti-hentinya mengirim cahaya ke langit kota “petro dollar” Lhokseumawe, Aceh. Al-Markazul Islami nama komplek bangunan itu. Atau, orang-orang lebih mengenalnya sebagai Islamic Center.   

Menengok bangunan seluas 16,475 meter persegi ini seakan memanggil kembali ingatan lama tentang kejayaan Islam di Aceh. Begitu juga sentuhan warna cokelat dan biru yang menguasai pewarnaan bangunan itu; menegaskan jejak kerajaan Islam Samudera Pasai masih bernyawa. Dari sinilah mula Islam Nusantara bernafas.  

Al-Markazul Islami memang dirancang untuk pusat pengkajian dan pengembangan Islam di Kota Lhokseumawe. Dibangun pada 2001 dan mulai berfungsi sejak 2009, Al-Markazul Islami berdaya tampung sekitar 8000 jamaah. Ada perpustakaan, mess, basement dan madrasah yang bisa menampung 362 orang anak.

Di komplek ini juga terdapat empat kantor istimewa yaitu Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Baitulmal, Majelis Pendidikan Daerah (MPD) dan  Majelis Adat Aceh (MAA).

Tadabbur Alqur’an di  Al-Markazul Islami. | Foto: Try Vanny.

Klaster kegiatan Islam ini biasanya digunakan untuk melaksanakan ibadah salat, pengajian, perkantoran dan tempat wisata bagi masyarakat lokal, wisatawan domestik, maupun manca negara. Saban hari, orang-orang ramai menyambangi Al-Markazul Islami.

Berdiri menjulang di jantung kota Lhokseumawe, Al-Markazul Islami merupakan ikon baru objek wisata spiritual yang mampu menambat hati para musafir. Hampir setiap saat masjid di komplek ini ramai dipadati jamaah dari berbagai kalangan mulai para pejabat, masyarakat biasa, hingga turis antarnegara.

Berbeda lagi di bulan Ramadan! Pada bulan penuh rahmat dan pengampunan ini, antusiasme  masyarakat mendatangi Al-Markazul Islami meningkat luar biasa.Tujuannnya beragam mulai dari melaksanakan salat, i’tiqaf, ngabuburit  hingga mengantri mendapatkan bubur kanji rumbi gratis untuk 600 orang setiap harinya.

Kaisar, salah seorang pengunjung, mengaku senang dan selalu mendatangi Al-Markazul Islami untuk menunaikan salat dan menunggu waktu berbuka tiba. Kaisar tak pernah bosan meski berada di antrean panjang  demi mendapatkan secawan bubur kanji rumbi yang khas dan lezat itu. 

Anak-anak tengah belajar salat lima waktu. | Foto: Try Vanny

“Masjid ini sangat strategis karena di pusat kota. Lahannya cukup luas sehingga nyaman untuk parkir dan cocok saat kita membawa keluarga untuk ngabuburit,” kata Kaisar.  Tapi, pria 30 tahun ini mengaku agak heran karena pembangunan Al-Markazul Islami yang indah dan megah ini tak kunjung selesai.

Koordinator Peribadatan Islamic Center, Tgk Zulkifli Daud atau biasa disapa Abi Pase, tak membantah pendapat Kaisar. Kepada KBA.ONE, Abi Pase mengurai sedikit sejarah tersendatnya pembangunan Al-Markazul Islami. Bahkan Abi mengaku kecewa dengan pemerintahan lama yang pernah menjanjikan akan membantu dana sebesar Rp5 miliar untuk Islamic Center ini.  Sayang, janji itu tak tertunaikan hingga kini.

Meski belum rampung pembangunannya, masjid di komplek Al-Markazul Islami mampu menyihir orang untuk datang mengunjungi. Halamannya yang luas, pepohonan yang ditanami dan tumbuh di sekelilingnya, termasuk tanaman keladi yang tertata rapi di sekitarnya, membuat suasana masjid bertambah sejuk dan asri.

Di halaman luas itulah masyarakat memanfaatkan sebagai wahana bermain anak-anak, foto pra-wedding, bahkan bermain sepeda. Lokasi ini juga kerap dijadikan tempat eksekusi hukuman cambuk oleh pemerintah Kota Lhokseumawe.

Bangunan masjid Agung di komplek Islamic Centre Lhokseumawe ini terdiri dari tiga lantai, dua lantai sebagai area salat dengan daya tampung  6000 jemaah di lantai satu dan 2000 jemaah di lantai dua,  ditambah dengan lantai basement.

Selain hari-hari biasa, kegiatan keagamaan selama bulan Ramadan boleh dibilang cukup padat. Misalkan saja tadarus setiap malam oleh pemuda-pemuda terpilih dari wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara, tausiyah Subuh, Juma’at baraqah, ceramah ba’da Zuhur, ceramah Tarawih, pesantren kilat, salat  tasbih dan i’tiqaf di malam 21 Ramadan mulai pukul 23:00 WIB hingga sahur. 

Al-Markazul Islami (Islamic Center) Lhokseumawe di siang hari. | Foto. shellarafiqah.blogspot.com

Penceramah yang didatangkan juga orang-orang terpilih dari Samalanga hingga Aceh Timur. Tapi, karena keterbatasan dana untuk kebutuhan konsumsi, jamaah i’tiqaf terpaksa dibatasi panitia untuk 400 orang saja. “Kebutuhan untuk itu lumayan besar. Abi cari sumbangan ke masyarakat dan donatur. Insya Allah selalu ada yang menyumbang,” kata Abi Pase.

Bangungan Islamic Center atau Al-Markazul Islami memang belum sepenuhnya rampung, baru sekitar 70% yang terselesaikan. Plafon dan plaster dinding masjid hingga kini belum dikerjakan karena minimnya anggaran. Pembangunan awal Al-Markazul Islami dimulai dari sumbangan masyarakat, para tokoh, pemerintah Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara.

Tujuan awal Islamic Center ini dibangun adalah untuk: Mewujudkan masjid yang makmur sebagai sentrum pembinaan umat dan budaya Islam; Menyelenggarakan kegiatan pengembangan sumberdaya muslim melalui dakwah, pendidikan dan pelatihan; Pengkajian pengembangan pemikiran dan wawasan Islami, seni budaya Islam, masyarakat dan layanan sosial, data dan informasi Islam; Kegiatan usaha dan pengembangan bisnis Islami; Mewujudkan tataruang lingkungan Islamic Center kota Lhokseumawe yang bernuansa Islami, indah, dan nyaman.

Kini, untuk memastikan roda kegiatan keagamaan berjalan, Al-Markazul Islami memiliki 8 orang imam, 10 orang muadzin, 13 security dan 16 petugas kebersihan. Dari keringanan tangan dan keikhlasan hati mereka inilah nadi Islam pertama Nusantara tetap berdenyut di Al-Markazul Islami Lhokseumawe yang megah dan monumental itu.***

Komentar

Loading...