Saran dari Jantong Hate Rakyat Aceh

Oleh ,
Saran dari Jantong Hate Rakyat Aceh
Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah dan Rektor Unsyiah Prof Samsul Rizal di Rapat Kerja Nasional II Forum Dewan Guru Besar Indonesia | unsyiah.ac.id

KBA.ONE, Banda Aceh - Rektor Universitas Syiah Kuala Profesor Samsul Rizal menyatakan optimismenya terhadap perekonomian Aceh pada 2019. Pakar dari lembaga pendidikan yang merupakan "jantong hate" rakyat Aceh ini, menilai begitu banyak parameter yang menjadikan sikap dan keyakinan atas ekonomi Aceh akan berada pada posisi lebih baik.

Instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh 2019, kata Samsul, dapat dijadikan parameter untuk memicu pertumbuhan sektor lain. Untuk itu, Samsul menyarankan Pemerintah Aceh fokus pada penciptaan ekonomi kreatif, dengan mendorong sektor pariwisata dapat tumbuh. "Sebab bidang ini memberikan dampak langsung terhadap perputaran uang di provinsi ujung pulau Sumatera ini," ujar Samsul Rizal, Jumat, 4 Januari 2019.

Aceh memiliki begitu banyak potensi pariwisata. Karena itu, kata Samsul, Aceh harus dapat mengambil peluang tersebut dengan mendorong pertumbuhan ekonomi yang disandarkan pada kepariwisataan. Di sisi ini, kata Samsul yang juga Dosen Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Pemerintah Aceh bisa mengambil peran dengan membangun sarana dan prasarana, serta pembenahan infrastrukur yang mendukung pariwisata.

Nilai Tawar Potensi Wisata

Salah satu kota dengan begitu banyak potensi pariwisata adalah Banda Aceh. Sebagai ibu kota provinsi, Banda Aceh memiliki wisata islami sebagai salah satu daya tariknya. Mulai dari Masjid Raya Baiturrahman, zikir akbar, maulid nabi selama tiga bulan penuh, suasana Ramadan, hingga kegiatan keagamaan lainnya, menjadi objek wisata religi. Apalagi Banda Aceh baru saja dinobatkan pesona destinasi wisata halal terpopuler di Indonesia oleh Kementerian Pariwisata RI. Poin ini menambah nilai tawar Banda Aceh.

Selain itu, Banda Aceh juga terkenal dengan objek wisata sejarah seperti Taman Putroe Phang, Gunongan, Peucut Kerkhof, Makam Sultan Iskandar Muda, Makam Syiah Kuala, dan Gedung Bank Indonesia. Ada juga objek wisata edukasi tsunami seperti Museum Tsunami Aceh, PLTD Apung, dan Kapal di Atas Rumah.

Banda Aceh juga mempunya river walk di sisi Krueng Aceh dan Krueng Daroy. Belum lagi pesona pantai Ulee Lheue yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Di Samudera tersebut ada Sabang yang dikenal sebagai salah satu pulau destinasi wisata bawah laut terbaik. Sabang memiliki 20 titik diving terbaik dunia. Lomba diving yang diikuti penyelam dari mancanegara kerap digelar di sana, seperti Sabang Internasional Diving Festival 2018.

Sementara Aceh Besar sebagai kabupaten yang menyangga Banda Aceh memiliki beragam objek wisata alam. Sebut saja wisata pantai yang membentang mulai dari Pantai Lampuuk, Pantai Babah Dua, hingga Pantai Lhok Mee. Ada juga Air Terjun Kuta Malaka dan Peukan Biluy serta Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan.

Potensi-potensi wisata tersebut mulai dilirik pihak luar. September tahun lalu misalnya, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menerima kunjungan Political Officer, Carolyn Wilson didampingi Detective Inspector, Julian Rinckes dari Kedutaan Besar Selandia Baru dalam rangka menjajaki peluang kerjasama dalam berbagai bidang dengan Pemerintah Aceh.

Pada kesempatan tersebut, Nova menyampaikan peluang investasi dalam bidang pariwisata di Sabang dan Pulau Banyak. Objek-objek wisata di dua daerah ini, kata Nova, terus dikembangkan oleh Pemerintah Aceh dan telah banyak wisatawan baik dari dalam dan luar negeri datang berkunjung. “Mungkin kita juga bisa melakukan kerjasama antara kota Banda Aceh dan Kota di Selandia Baru dengan program sister city seperti yang sudah dilakukan dengan beberapa negara,” kata Nova.

Selain bidang investasi, Nova juga mengusulkan kerjasama bidang pendidikan baik itu beasiswa, program pendidikan dan pelatihan jangka pendek bagi putra – putri Aceh. “Kami sangat terbuka, dan memberikan peluang kepada siapapun yang akan berinvestasi di Aceh, apalagi saat ini kondisi Aceh sangat aman dan kondusif seperti yang sudah anda lihat sendiri,” ujar Nova.

Carolyn Wilson sangat mengapresiasi dan akan mempertimbangkan soal investasi maupun kerjasama terutama dalam bidang periwisata, pendidikan dan agroindustri. Ia meminta agar Pemerintah Aceh menyiapkan skema kerjasama yang dapat dilakukan antara Pemerintah Aceh dan Selandia.

Sebulan sebelumnya, Nova Iriansyah juga mempromosikan potensi kebudayaan dan pariwisata Aceh kepada para tamu asal Papua, Papua Barat, Yogyakarta, dan DKI Jakarta. "Banyak daya tarik dari Aceh. Mulai dari kuliner, budaya dan wisata bisa bapak ibu nikmati di sini," ujar Nova Iriansyah.

Ada dua daerah yang potensi wisata dipromosikan Nova saat itu, Sabang dan Aceh Singkil. Sementara untuk wisata sejarah, Nova menawarkan Masjid Baiturrahman sebagai pusat peribadatan dan Museum Tsunami serta PLTD Apung. "Dari sisi kuliner, tidak kalah menariknya bila bapak ibu mencicipi masakan khas tanoh rencong di antaranya kuah beulangong, ayam tangkap, dendeng, mie Aceh, dan kopi yang memiliki cita rasa dunia," ujarnya.

Para pimpinan dari empat provinsi khusus dan istimewa tersebut datang ke Aceh untuk mengikuti Rapat Koordinasi Forum Desantralisasi Asimetris Indonesia atau Fordasi. Papua Barat langsung dihadiri oleh gubernur, sementara Provinsi Papua dihadiri oleh Asisten Pemerintahan. Sementara Daerah Istimewa Yogyakarta diwakili oleh Sekretaris Daerah dan DKI Jakarta diwakilkan oleh Deputi Gubernur.

Perjalanan para tamu dari daerah khusus itu, kata Nova sekalian dengan rangkaian Pekan Kebudayaan Aceh. Untuk itu, dia mengundang seluruh tamu berkunjung dan mengikuti berbagai agenda PKA. "Dengan demikian kita semua dapat mengenal lebih mendalam keanekaragaman Indonesia, sebagaimana juga yang menjadi semangat dari Fordasi."

KEK Arun Harus Dikelola dengan Baik

Selain wisata, kata Samsul Rizal, Aceh kini memiliki Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Arun. Kawasan ini harus benar-benar dikelola dengan baik agar industri tumbuh, dapat menyerap tenaga kerja, dan mengatasi pengangguran. Semua ini, kata Samsul, nantinya secara otomatis berperan dalam penurunan angka kemiskinan.

Untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan yang selama ini masih ada di tengah masyarakat, tambah Samsul, Pemerintah Aceh juga harus dapat mengakses kelompok tersebut. Caranya, dengan memberikan pendidikan kepada anak-anak di kelompok tersebut. "Pendidikan juga sarana yang efektif dalam upaya pengentasan kemiskinan," ujarnya.

Samsul berharap pemerintah menawarkan sekaligus ada aksi nyata untuk mengentaskan kemiskinan di provinsi berpenduduk sekitar lima juta jiwa ini. "Kehadiran semua pihak sangat penting untuk meliterasikan pelbagai ilmu pengetahuan kepada masyarakat sesuai dengan profesinya masing-masing," ujar Samsul Rizal.

Badan Pusat Statistik Aceh mencatat penduduk miskin pada September 2018 mencapai 831 ribu orang atau 15,68 persen bertambah dua ribu orang dari September 2017 sebanyak 829 ribu orang. Pemerintah Aceh, kata Nova Iriansyah, yakin upaya menurunkan angka kemiskinan Aceh satu persen akan tercapai seiring pengesahan APBA 2019.

Menurut Samsul Rizal, Universitas Syiah Kuala siap bersinergi dengan Pemerintah Aceh. Unsyiah akan memberikan asistensi atau tenaga ahli dan pakar berbagai bidang, untuk membantu pemerintah Aceh dalam mencari solusi dan mendesain berbagai program unggulan.

Berbagai hasil penelitian, literasi yang ada di kampus, sebut Samsul, akan diarahkan pada upaya membantu Pemerintah Aceh mengatasi berbagai kendala pembangunan. "Unsyiah siap memberikan apapun kebutuhan akademis yang dibutuhkan Pemerintah Aceh."***ADV

Komentar

Loading...