Sayangi “Ginjal Mu Ginjal Ku”

Sayangi “Ginjal Mu Ginjal Ku”
Ilustrasi | ist

Masalah ginjal dapat terjadi tanpa mengenal umur baik bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa dan pada usia lanjut.

Hari ginjal sedunia ( World Kidney Day) sudah berlalu tepatnya tanggal 14 Maret 2019, namun perhatian kita terhadap penyakit senyap Gagal Ginjal harus tetap harus ditingkatkan. Penyakit senyap tersebut semakin hari semakin bertambah dan menjadi tren di indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini.

Tubuh manusia mempunyai sepasang ginjal yang sering dikenal dengan renal. Organ ini mirip seperti kacang dan ukurannya sebesar kepalan tangan yang memiliki panjang sekitar 12 centimeter dan lebar 6 centimeter. Letaknya di sepanjang dinding otot bagian belakang (otot posterior) rongga perut.

Ginjal yang sehat akan memisahkan limbah beracun, mengatur keseimbangan cairan, elektrolit, keseimbangan asam basa dalam tubuh. Selain itu ginjal juga berfungsi memproduksi hormon yang membantu dan mengendalikan tekanan darah, membuat sel darah merah, dan menjaga tulang tetap kuat. (dilansir oleh Compas Com tanggal 14 Mei 2019)

Ginjal yang bermasalah pada beberapa kasus tidak menimbulkan gejala apapun sampai penyakitnya memasuki stadium lanjut. Namun, beberapa gejala yang mungkin dialami oleh seseorang yang ginjalnya bermasalah di antaranya sulit tidur, mudah cemas, sulit berkosentrasi, kulit kering dan gatal, perubahan frekwensi urine, nyeri saat buang air kecil, kencing berdarah, kencing berbusa, bengkak di sekitar mata dan kaki, nafsu makan berkurang dan kram otot.

Berbagai macam masalah yang bisa terjadi pada ginjal atau organ penyaring cairan tubuh yaitu gagal ginjal akut, batu ginjal, glomerulonefritis, nefritis akut, infeksi saluran kencing, asidosis, uremia, ginjal polikistik dan gagal ginjal kronis.

Masalah ginjal dapat terjadi pada seseorang tanpa mengenal umur baik bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa dan pada usia lanjut serta bisa terjadi padi laki-laki juga perempuan.

Artikel ini mengupas tentang Gagal Ginjal Kronis (GGK) dimana disebabkan oleh penurunan fungsi ginjal yang terjadi di bawah batas normal dengan waktu lebih dari 3 bulan. GGK biasanya berlangsung lama tapi progesif dan disebabkan oleh penyakit lain di luar ginjal seperti diabetes, hipertensi, infeksi, penyakit autoimun dan lainnya.

Di Indonesia penyebab utama dari GGK biasanya hipertensi, infeksi, autoimun dan harus menjalani cuci darah ( hemodialisis). Gagal Ginjal Kronis (GGK) dikelompokkan dalam lima tahap sesuai tingkatan tahapan gangguan fungsi ginjalnya yaitu stadium I (minimal) dengan LFG (laju Filtrasi Glumerulus) 90-120, Stadium II ( ringan-sedang) dengan LFG 60-89, Stadium III (sedang-berat) dengan LFG 30-59, stadium IV (berat) denagn LFG 16-29, dan stadium V (Gagal Ginjal) dengan LFG <15.

Terapi pengganti ginjal (TPG) sangat dianjurkan pada tahap gangguan berat yaitu hemodialisis (cuci darah melalui mesin), Cuci Darah Melalui Perut (CAPD) dan transplantasi mengganti ginjal.
Tidak semua kasus Gagal Ginjal Kronis (GGK) pada gangguan berat harus melakukan cuci darah. Namun, wajib dilakukan cuci darah jika dengan syndrome uremicum yaitu disertai gejala klinis seperti sesak nafas, mual, muntah, tidak dapat makan bahkan sampai tidak sadarkan diri.

Cuci darah yang dilakukan tergantung dengan apa yang tersedia dan kondisi pasien secara keseluruhannya terutama masalah jantungnya.
Perawatan ginjal pada penderita ginjal kronis dengan hemodialysis atau yang sering kita dengar dengan cuci darah.

Meskipun pada awalnya pasien sempat melakukan penolakan untuk melakukan cuci darah, perawatan dengan cara ini dapat memperpanjang usia hidup atau dapat mencegah kematian kecuali takdir.

Perawatan dengan cara ini tidak dapat menyembuhkan atau memulihkan fungsi ginjal secara keseluruhan. Cuci darah dilakukan sepanjang hidupnya dan dilakukan 1 sampai 3 kali seminggu atau sampai mendapatkan pencangkokan ginjal.

Artikel ini saya tulis terinspirasi dari pengalaman suami saya yang terdiagnosa Gagal Ginjal Kronik (GGK) pada tahapan gangguan berat (CKD V) dengan gejala yang tidak pernah diduga sebelumnya. Hal ini menggugah saya untuk menulis artikel ini yang mengajak kita selalu menyayangi ginjal dengan memperbanyak minum air putih, kurangi stres, kurangi penggunaan obat-obatan dan dengan berolahraga secara teratur.

Menjaga ginjal tetap sehat tidak sesulit menyembuhkannya.
Mari sayangi ginjal ku dan ginjal mu dengan menjalankan CERDIK yang digalakkan oleh Kemenkes yaitu Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin Beraktifitas Fisik, Diet yang baik dan seimbang, Istirahat yang cukup dan Kelola stress.

Lindungi keluarga Anda dari makanan dan minuman yang tidak sehat dan hindari risiko perilaku yang kurang sehat karena hal tersebut menjadi faktor utama dari risiko terjadinya penyakit tidak menular ini. ***

Referensi :
1.Compas com searching tgl 14 mei 2019 jam 14.25 WIB
2. Dokter sehat. Com searching tgl 14 Mei 2019 jam 14.40 WIB
3. Fokus Berita : Hari Ginjal 2019 searching 14 mei 2019 jam 15.00 WIB
4. Hello Sehat searching 13 mei 2019 jam 10.40 WIB
5. https//www.honestdocs.id/ciri-ciri-penyakit-ginjal-stadium-awal searching tgl 27 Mei
2019 jam 08.50

Penulis : Maulidar dan Veny Wilya (Teknisi Litkayasa di Balai Litbangkes Aceh)

Komentar

Loading...