Seladang Coffee; Kopi yang Berdaulat

Seladang Coffee; Kopi yang Berdaulat
Kedai Seladang Coffee di Bener Meriah. Foto: KBA/Fauji

Seladang Coffee tak hanya menyimpan cerita tentang menikmati kopi di kebun kopi. Seladang bercerita tentang petani kopi yang berdaulat.

KBA.ONE, Bener Meriah - Banu mendorong udara dari perut melalui mulutnya. Perlahan-lahan. Matanya melihat ke bawah, memastikan udara panas dari tenggorokannya berubah menjadi uap saat beradu dengan udara dingin yang menyelimuti kebun kopi di Seladang Coffee, di Bener Meriah.

“Lihat ma, lihat. Ada asap,” kata Banu, pelajar kelas dua SD Nurul Fikri, Aceh Besar, kepada ibunya, Sabtu malam pekan lalu.

Hujan di sepanjang akhir pekan itu membuat suhu di dataran tinggi itu menjadi lebih dingin. Namun tak cukup dingin untuk menahan sejumlah pengunjung keluar dari kendaraan mereka dan masuk ke kafe yang berada di ladang kopi tersebut. Bahkan setelah matahari terbenam, para pengunjung tetap ramai.

Sejak pagi dibuka, hingga pukul 21.00 WIB, lebih dari seribu gelas kopi terjual. “Benar-benar akhir pekan yang melelahkan,” kata Sadikin alias Gembel, pemilik Seladang. “Hari ini sengaja buka lebih malam biar pelanggan yang datang dari jauh tak kecewa.”

Seladang memang unik. Sesuai tagline-nya: Ngopi di Kebun Kopi, di sini para penikmat kopi dan kerabatnya menyeruput minuman di tengah-tengah kebun kopi. Hanya kopi dan variannya serta cokelat dan kuliner lain sebagai tambahan.

Bangunan utama berupa rumah kayu berlantai tiga. Dua lantai di atas dijadikan tempat tinggal. Lantai dasar disulap menjadi bar dan dapur serta tempat duduk pengunjung yang dibuat terpisah-pisah. Di sisi kiri, terdapat lapak yang dilengkapi dengan tungku pemanas.

Dinding di bagian belakang terbuat dari potongan kayu yang disusun melintang. Di sini lapak ini, para pengunjung duduk bersila di atas karpet. Ruangan ini juga dipenuhi dengan foto-foto di sekitar Seladang yang diambil oleh sejumlah fotografer pada peringatan hari jadi Seladang Coffee, tahun lalu.

Tamu melihat lukisan kopi di Seladang Coffee. Foto: Fauji

Mereka yang ingin ngopi sambil memandangi kebun kopi--jika udara tak terlalu dingin, ini adalah pilihan yang asyik--dapat memilih pondok-pondok yang terdapat di sekitar bangunan utama. Gembel memiliki konsep ini sejak 15 tahun namun baru pada 2013 ide ini benar-benar diwujudkan.

Bersama Hasanah, Gembel membersihkan sendiri areal yang akan digunakan untuk bangunan. Termasuk memotong 60 batang pohon kopi. “Saya menangis saat memotong batang kopi itu. Dalam adat Gayo, batang kopi tak boleh ditebang, harus dibiarkan mati sendiri. Kemali.”

Gembel pula yang mengangkat kayu untuk tiang bangunan dari hutan di belakang kebun itu, sendirian. Praktis, selama proses pembangunan, Gembel dan Hasanah menetap di tengah kebun yang saat itu sepi. Gembel masih mengingat proses pembuatan itu: berat dan sangat melelahkan.

Semua proses mereka kerjakan sendiri. Bukan tak ada yang menawarkan bantuan. Namun mereka berpikir usaha ini harus dibangun secara “merdeka”. Sebuah pemikiran yang sama seperti saat Gembel meninggalkan pekerjaan rutin di sebuah lembaga nirlaba asing. Saat itu dia berujar singkat kepada orang-orang yang mempertanyakan keputusannya untuk berhenti dengan sebuah jawaban lugas, “bosan jadi babu bule.”

Tak ada ilmu khusus tentang kopi saat memulai bisnis ini. Walau sempat masuk ke Institut Pertanian Bogor dan Universitas Syiah Kuala, Gembel tak sanggup “menyiksa diri” di dalam ruangan kuliah. Seluruh pengetahuan diserap dari interaksi di luar kelas. Kini, dia lebih suka berada di dalam kebunnya. Di sini, Gembel merasa merdeka.

Menurut Gembel, saat ini, para petani kopi jauh masih belum mendapatkan kedaulatan mereka. Kekayaan hanya dimiliki oleh para pebisnis yang menjadi telangkai pengiriman kopi ke luar negeri. Di desa-desa, petani masih belum mampu mendongkrak harga komoditas yang bermula dari Turki itu.

Perlahan-lahan, bisnis kopi Gembel dan Hasanah mulai kesohor. Menyeruput kopi di kebun kopi “wajib” hukumnya bagi penikmat kopi yang bertandang ke Tanah Gayo. Kepada para tamu--tak sedikit dari mereka pejabat di daerah masing-masing--Gembel selalu bercerita tentang pentingnya menjadikan kopi sebagai komoditas yang mampu menyejahterakan petani.on

Hasanah dan Sadikin alias Gembel. Foto: dok KBA

Hal ini pula yang akan disuarakan oleh Gembel di sebuah pertemuan di Turki, bulan depan. Dia berharap Turki dapat meningkatkan volume pembelian kopi dari Tanah Gayo. Di saat bersamaan, Turki juga harus melakukan transfer pengetahuan teknologi kopi. Dengan demikian, petani kopi tak sekadar menjadi penyedia biji kopi. Apalagi, Aceh memiliki sejarah panjang dengan kopi dan Turki.

Di Seladang, mimpi Gembel dan Hasanah belum tuntas. Mereka berencana membuat homestay buat para backpacker di bagian belakang kebun itu. Satu lagi mimpi yang ingin mereka wujudkan adalah membangun laboratorium coldbrew. Dia berharap, laboratorium ini dapat memberikan sensasi berbeda bagi pengunjung yang masuk dan melihat langsung proses pembuatannya.

“Kelak, musik di ruang kedap suara itu hanya suara dari setiap tetesan air hasil coldbrew. Sebuah sensasi yang berbeda,” kata Gembel sambil menarik dalam-dalam asap dari sebatang rokok putih di tangannya. Udara di Seladang semakin dingin. Di sudut ruangan, Banu meringkuk. Matanya terpejam; terlelap di dalam pelukan ibunya.

Komentar

Loading...