Selama Enam Tahun Terakhir, Harga Pangan Global Meroket 50 Persen

Selama Enam Tahun Terakhir, Harga Pangan Global Meroket 50 Persen
Ilustrasi |Foto: Republika.co.id

KBA.ONE, Jakarta - Harga komoditas pertanian di tingkat global meroket 50 persen sejak pertengahan tahun 2020. Hal ini menurut ekonom dari Rabobank.

Dalam laporan baru tersebut, kenaikan harga gandum, jagung, kedelai, gula, dan berbagai komoditas lainnya disebabkan kondisi La Niña di belahan utara dunia. Selain itu, kenaikan harga pangan juga dipicu mata uang Amerika Serikat yang melemah, spekulan pasar, dan meningkatnya permintaan dari negara-negara pengimpor.

Temuan ini diperkuat oleh Indeks Harga Pangan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang melacak perubahan harga bulanan untuk sejumlah bahan pangan pokok. FAO mengungkapkan, harga sereal, minyak nabati, gula, susu, dan daging pada Januari 2021 telah naik ke level tertinggi sejak 2015.

Analis komoditas senior Rabobank, Charles Clack mengatakan harga masih akan naik sampai level yang tertinggi untuk beberapa waktu mendatang.

"Kami perkirakan dolar Amerika Serikat tidak akan menguat dalam waktu dekat (dan) La Niña akan terus menyebabkan kondisi yang lebih kering di belahan bumi utara, sementara permintaan global akan tetap kuat," katanya.

Musim panas lalu, petani gandum Australia menuai hasil panen besar-besaran dan akan mengeruk keuntungan dari hasil panen yang melimpah untuk dijual ketika harga sedang tinggi.

"Kondisi ini sangat positif bagi petani dan masyarakat pedesaan," kata Charles.

Analisis oleh lembaga prakiraan komoditas milik pemerintah Australia, ABARES, menemukan harga pangan lokal naik tipis pada tahun 2020, terutama dipicu kenaikan harga daging.

ABARES memperingatkan kemungkinan ada kenaikan harga di tingkat petani untuk buah dan sayuran, karena produksi yang lebih rendah tahun ini.

Diperkirakan akan terus berlangsung
Permintaan impor juga meningkat. Sebab, negara-negara berusaha memenuhi pasokan komoditas di dalam negerinya masing-masing, seperti gandum, jagung, dan kedelai.

Permintaan yang tertinggi datang dari China yang kondisi ekonominya sedang melambung kembali setelah beberapa saat menurun, dengan tingginya permintaan gandum untuk pakan ternak.

Rabobank memperkirakan permintaan akan berlangsung sampai bertahun-tahun mendatang.

Seiring dengan meningkatnya permintaan, eksportir utama juga berupaya untuk menahan stok. Misalnya, Rusia yang memberlakukan pajak ekspor gandum atau Argentina yang memberlakukan kuota ekspor jagung.

Perusahaan makanan besar yang terdaftar di bursa juga meningkatkan jumlah stok yang mereka miliki di gudang untuk menghindari gangguan yang disebabkan COVID-19.

Kondisi ini merupakan cermin pergeseran manajemen inventaris, dari pendekatan 'just-in-time' (pengadaan yang tepat waktu) ke 'just-in-case' (pengadaan jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak terduga), menurut laporan tersebut.

Rabobank memperkirakan pergeseran pendekatan manajemen menyebabkan permintaan global naik dua persen.'


Apa dampaknya selain kenaikan harga?
Pada tahun 2007 dan awal 2008, kenaikan tajam harga pangan menyebabkan kerusuhan sipil di sekitar 37 negara di Eropa Timur, Amerika Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan serta Tenggara.

Meskipun tren kenaikan harga pangan saat ini mengkhawatirkan banyak orang, skalanya belum mencapai skala krisis pangan 13 tahun yang lalu.

Menurut Charles Clack, dalam kedua contoh inflasi harga pangan, spekulan pasar memainkan peran.

"Sementara hal-hal yang lebih fundamental, seperti cuaca dan jumlah permintaan merupakan pemicu kenaikan harga. Tak diragukan lagi, spekulasi oleh pemain non-komersial di pasarlah yang mendorong langkah tersebut."

Saat ini, suku bunga yang rendah telah membawa uang dari obligasi pemerintah masuk ke pasar komoditas karena mereka mencari keuntungan yang lebih tinggi.

"Kami mengamati para pedagang pasar saham yang cenderung lebih pasif dan memilih produk keuangan jangka panjang, seperti dana pensiun, menjadi sangat tertarik pada komoditas pertanian," kata Clack.

Komentar

Loading...