Selewengkan Insentif Guru TPA, Bendahara DSI Aceh Tengah Divonis 3 Tahun Penjara

Selewengkan Insentif Guru TPA, Bendahara DSI Aceh Tengah Divonis 3 Tahun Penjara
Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Aceh Tengah, Zainul Arifin didampingi mantan Bendahara Dinas Syatiat Islam, AY, saat mengikuti sidang putusan di Rutan Takengon. | Foto: KBA.ONE, Karmiadi

KBA.ONE, Takengon - Kasus dugaan penyelewengan insentif guru TPA, TKA, dan TQA dengan nominal Rp398 juta yang seharusnya diterima oleh 1.259 orang, kini menempuh babak baru. AY, 34 tahun, mantan bendahara Dinas Syariat Islam (DSI) terbukti secara hukum bersalah dan divonis tiga tahun penjara.

Hal itu dikatakan Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Tengah, melalui Kasi Pidsus Zainul Arifin, di Takengon, Minggu 21 Februari 2021.

Ia menyampaikan AY turut didenda 50 juta, subsider tiga bulan kurungan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Banda Aceh, dalam sidang putusan pada Kamis lalu.

Secara sah, AY menggelapkan dana insentif untuk 1.259 guru Tempat Pengajian Anak (TPA) Aceh Tengah semester ke-II tahun anggaran 2019 sebesar Rp398 juta.

Dalam amar putusannya, majelis hakim juga mewajibkan terdakwa membayar uang pengganti Rp398 juta, subsider enam bulan penjara.

Majelis hakim juga memutuskan barang bukti berupa dua petak tanah dan rumah milik terdakwa disita untuk negara. Aset itu akan dilelang jika terdakwa tidak sanggup membayar uang pengganti. “Hukuman itu potong masa tahanan selama AY diproses,” kata Zainul,

Zainul mengaku putusan majelis hakim lebih ringan dari tuntutan jaksa. Pada hukuman pokok, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut 3,6 tahun penjara, subsider enam bulan. Sementara, hakim menjatuhkan hukuman pokok tiga tahun penjara, subsider tiga bulan.

Keringanan lainnya terdapat pada subsider uang pengganti. JPU menuntut dua tahun kurungan, sementara hakim menghukum enam bulan penjara. Karenanya, kata Zainul Arifin, JPU masih pikir-pikir untuk banding hingga tujuh hari kedepan sejak putusan dibacakan. “Terdakwa melalui kuasanya juga masih pikir-pikir,” ucapnya.

Zainul menyebutkan sidang putusan yang dipimppin hakim ketua Nurmiati itu dihadiri kuasa hukum terdakwa. Sementara terdakwa AY mengikuti secara virtual dari Rutan Kelas II B Takengon. Selanjutnya, jaksa akan mengeksekusi terdakwa jika putusan sudah berkekuatan hukum tetap.*** | KARMIADI, Kontributor Aceh Tengah

Komentar

Loading...