Sempat Dibebaskan, Pelaku Jarimah Kembali untuk Dicambuk

Sempat Dibebaskan, Pelaku Jarimah Kembali untuk Dicambuk
Terpidana saat sedang menjalani hukuman cambuk. | Foto: KBA.ONE, Try Vanny

KBA.ONE, Aceh Utara – Dibebaskan pada 2017, Zulfahmi, 20 tahun, warga Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, datang kembali ke Kejari Aceh Utara untuk menjalani eksekusi cambuk, Selasa 15 September 2020.

Sebelumnya terpidana sudah dijemput oleh pihak Kejari Aceh Utara ke rumahnya, namun terpidana sudah berada di Banda Aceh. Setelah dibujuk oleh pihak keluarga, akhirnya Zulfahmi pulang ke Aceh Utara untuk menjalani hukuman cambuk sebanyak 25 kali dari ketentuan 30 kali.

Terpidana dinyatakan tidak bersalah oleh Mahkamah Syariah Lhoksukon, dan dibebaskan sesuai putusan. Namun pihak jaksa mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, dan diputuskan terpidana bersalah serta harus menjalani hukuman cambuk.

“Saya sangat mengapresiasi sikap dari Zulfami, dia mau datang dengan sendirinya ke kantor untuk menjalani hukuman cambuk hari ini,” ucap Kajari Aceh Utara Pipuk Firman Priyadi kepada wartawan.

Selain Zulfahmi, para terpidana lainnya yang menjalani eksekusi adalah Riki Aulia, 21 tahun, warga Kecamatan Tanah Jambo Aye, Jufriadi, 18 tahun, warga Kecamatan Meurah Mulia, dan Juanda, 25 tahun, warga Kecamatan Baktiya, seluruhnya merupakan terpidana kasus pelecehan seksual.

Terpidana pertama, Riki, menjalani hukuman cambuk sebanyak 105 kali dari ketentuan 110 kali, kemudian Jufriadi menerima 100 kali cambuk dan harus menjalani hukuman 10 bulan penjara. Sedangkan Juanda dicambuk 75 kali dari keputusan 90 kali, seluruhnya dikurangi dengan kurungan yang telah dijalani.

“Satu kali cambukan sama dengan satu bulan kurungan, jadi semua jumlahnya sudah dikurangi masa penahanan yang dijalani. Setelah ini tiga terpidana bisa langsung pulang, sedangkan satu lainnya harus menyambung kurungan lagi,” katanya.

Selama pandemi Covid-19, sambung Pipuk, pihaknya telah menggelar tiga kali eksekusi cambuk di halaman kantor kejaksaan setempat. Hal tersebut tidak dapat ditunda walaupun jumlah korban virus corona terus bertambah, namun pihaknya tetap melaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan.

“Menunda eksekusi sama dengan menunda keadilan, jadi kita tetap harus menjalankan proses cambuk,” ungkapnya. *** 

Komentar

Loading...