Senja Temaram di Pantai Iboih

Senja Temaram di Pantai Iboih
Senja di Pantai Iboih, Sabang. | Foto KBA.ONE: Fatma.

Penyuka diving dan snorkeling bisa menjajal pesona flora dan fauna bawah laut Pulau Rubiah. Jaraknya tak sampai 10 meter dari pantai pasir putih Iboih, langsung tampak trumbu karang dan aneka biota laut dalam satu kedipan mata.

DESIR angin yang berkirim suara jangkrik; deburan ombak yang menikam bibir pantai, berbuih, lalu menari-nari, semakin melengkapi dinginnya malam di Pantai Iboih, Sabang, Aceh. "Ini malam yang menghidupkan rasa damai, ketenangan, kelembutan, bahkan rasa cemburu," kataku dalam hati.

Ya, perjalanan pertama seumur usiaku ke Iboih, Minggu Pekan lalu, terasa serba berbeda. Cerita baru, suguhan keindahan alam baru, di mata dan benakku, membuat hati ini terkagum-kagum. Beranjak dari ketidakberdayaan melawan rasa capek.

Khayalku pun ikut melambung jauh, menembus pekatnya malam. Seonggok Pulau Rubiah di depan mata, jaraknya cuma sekitar 350 meter dari tempatku berdiri, hampir tak bisa kupandang gara-gara aliran listrik padam. Iboih gelap gulita malam itu.

Tak ada tersisa cahaya untuk membantu mataku melihat Pulau Rubiah di malam hari. Cuma lampu-lampu kecil dari perahu-perahu kecil yang menjelma seperti gugusan  bintang. Pulau yang melegenda itu bertambah samar dalam jarak pandang yang tidak begitu jauh, mengunci pandanganku yang haus dan penat. 

Pulau Rubiah. | Foto KBA ONE: Fatma 

Beruntung, sebelum senja berlalu, aku sempat menelanjangi sekujur tubuh pantai Iboih, menggunakan mata dan pikiranku. Aku juga sempat snorkeling, menyelam di permukaan air, mengintip keindahan biota laut Pulau Rubiah.

Mengagumkan! Benar kata orang, isi perut laut Iboih sungguh menakjubkan. Ini adalah surga tersembunyi di ujung barat Indonesia, kerajaan bawah laut habitat ikan hias angel fish, nemo, dan lion fish. Kawasan ini juga dijadikan lokasi transplantasi karang; rehabilitasi terumbu karang dengan cara pencangkokan.

Tak heran jika pantai bernama asli Teupin Layeu ini masyhur hingga pelosok dunia sejak berabad silam. Dan garis pantainya yang berbentuk cekungan, kini paling diminati komunitas backpacker di Pulau Weh.

Penyuka diving dan snorkeling, kapan saja, bisa menjajal pesona flora dan fauna bawah laut Pulau Rubiah. Jaraknya tak sampai 10 meter dari pantai pasir putih Iboih, kita bisa langsung melihat trumbu karang dan aneka biota laut dalam satu kedipan mata.

Air lautnya yang memiliki gradasi warna biru kehijauan, menyatu dengan hamparan pasir putih berkilau di balik teduhnya hutan lindung, menegaskan Iboih adalah taman firdaus yang menghipnotis.

Melihat biota laut lewat snorkeling. | Foto KBA.ONE: Fatma.

Pantai ini menjadi salah satu tujuan para pelancong dari berbagai belahan dunia. Tidak heran jika Iboih selalu disinggahi pelancong dari manca negara yang betah menetap berminggu-minggu di sana. Jumlah mereka cukup ramai, datang dari berbagai belahan dunia. Bahkan, mereka gampang menyatu dengan alam Sabang dan kehidupan sosio kultural warga Iboih.

Malam itu, pantai Iboih menawarkan banyak pilihan. Cahaya lampu redup dari perahu-perahu kecil yang mengirim sinarnya hingga ke resort tempatku bersandar, melengkapi bukan malam biasa bagiku dari seberang Pulau Rubiah.

Mengapa Pulau Rubiah? Nama Pulau Rubiah, konon, diambil dari nama Cut Nyak Rubiah, yang makamnya bisa diziarahi di pulau itu. Memiliki luas sekitar 2600-an hektare, Pulau Rubiah hanya dihuni sepasang suami-istri; Pak Yahya dan Ibu Ismar. Mereka mengisi hidup dan menghabiskan hari-harinya di pulau, bahkan menetap di situ.

Di pulau ini, kata warga, cuma ada satu bungalow dengan dua kamar. Biasanya, bungalow ini disewakan untuk turis asing dan lokal. Tapi, aku tak sempat ke sana meski sekadar untuk bertanya berapa harga sewa permalamnya. Sedangkan aku, menginap di sebuah cottage seharga Rp300 ribu permalam. Ini harga kompromis untuk sebuah penginapan yang menyuguhkan keindahan alam dari berbagai sudut pandang; pantai, laut, pulau, hutan lindung, lokasi diving dan snorkeling sekelas dunia.

Teluk Sabang. | Foto KBA.ONE: Fatma

Bagi para traveler atau snokeler yang ingin ke Iboih melalui Pelabuhan Balohan, hanya memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Setelahnya, cuma beberapa menit menyeberang ke Pulau Rubiah. Tapi, dalam perjalanan menuju kawasan Iboih, Anda akan disuguhi panorama indah Danau Aneuk Laot, danau yang katanya tak bisa diukur kedalamannya. Lalu, adrenalin Anda sedikit terunggah ketika melewati jalanan menanjak, menurun dan terjal.

Ketika mata mengalihkan pandangan sedikit ke arah kanan bawah, Anda disuguhi birunya hamparan laut Teluk Sabang dan Dermaga CT3 yang begitu memukau. Inilah dermaga tempat "bersandar" pesta rakyat Khanduri Laot, sebuah tradisi yang menyatukan waktu dan cara melaut yang benar lewat para Panglima Laot di seluruh pelosok Aceh.

Rasanya, lelah di perjalanan terbayar sudah begitu menjejak pasir pantai Iboih. Airnya yang bening bak kristal hijau telah memanjakan suasana hati yang gundah gulana sekalipun.

Setiba di Iboih, Anda juga dapat berjemur sejenak di pantai pasir putih yang bersih dan halus. Destinasi wisata ini memang memesona, hampir sempurna.

Sayang, tanpa terasa, deburan ombak malam yang berkejar-kejar seperti suara musik orkestra, menutup senja temaramku di Iboih. Kidung alam itu begitu indah dan syahdu. Kelak, bisa jadi, Anda pun merasakan hal serupa, bila satu kala berlabuh di Pantai Iboih yang eksotik dan dipenuhi cerita cinta anak manusia itu.

Komentar

Loading...