Sepi Pembeli, Pedagang Pasar Al-Mahirah Lamdingin Minta Pemko Tegas

Sepi Pembeli, Pedagang Pasar Al-Mahirah Lamdingin Minta Pemko Tegas
Pedagang ayam kampung saat menunggu pembeli di pasar Al-Mahirah Lamdingin, Banda Aceh. | Foto: KBA.ONE, Komar

KBA.ONE, Banda Aceh - Pedagang ayam dan sayur di pasar Al-Mahirah Lamdingin, Banda Aceh, mengeluh karena sepi pembeli akibat dari tidak tegasnya pemerintah kota terhadap pedagang yang masih berjualan di sepanjang jalan Kartini, Banda Aceh.

"Kondisi kami saat ini sangat terjepit, pendapatan dan pengeluaran sangat berbanding terbalik. Sekarang paling banyak laku lima ayam sehari," kata seorang penjual ayam kampung di Pasar Al-Mahirah Lamdingin Banda Aceh, Selasa 11 Agustus 2020.

Kata dia, sepi pembeli dan kurangnya penjualan dikarenakan masih banyaknya para pedagang di pasar sayur di jalan Kartini dan pedagang-pedagang lain di pinggir jalan.

"Katanya tanggal 16 Agustus ini mereka akan dipindahkan juga kemarin. Kami akan menunggu, apabila tidak dipindahkan kami akan berbondong-bondong untuk menggelar lapak di pasar Peunayong," tegas Bang Cut.

Ia berharap, pemerintah kota untuk lebih memperhatikan nasib para pedagang yang hanya mencari sesuap nasi untuk diri sendiri dan keluarga di rumah. Menurutnya, sejak berjualan di Pasar Al-Mahirah Lamdingin belum ada tanda-tanda masyarakat antusias.

"Hal itu juga karena tempat yang jauh dari kota, bisa juga karena masyarakat sudah dapat menjangkau kebutuhan di pasar-pasar yang ada di kota. Kalau begitu, gimana nasib kami dan keluarga," keluhnya.

Sadriah, 63 tahun, salah satu pedagang sayur di pasar Al-Mahirah Lamdingin, Banda Aceh. | Foto: KBA.ONE, Komar

Bersamaan dengan itu, seorang pedagang sayur di pasar Al-Mahirah Lamdingin, Banda Aceh, Sadriah, 63 tahun, menyampaikan sejak berjualan di pasar baru itu, penjualannya menurun drastis, bahkan untuk makan sehari-hari saat ini harus menggunakan uang modal.

"Ditambah lagi dengan kutipan uang adat (pajak) Rp5 ribu per hari. Katanya, itu untuk dua bulan pertama, setelah itu menjadi Rp10 ribu," keluh Sadriah.

Selain itu, ia juga membandingkan pendapatannya saat masih berjualan di pasar Peunayong yang mencapai Rp150 ribu sehari. Saat ini ia hanya mendapatkan hanya Rp30 ribu.

"Ongkos labi-labi Rp10 ribu, makan siang 10 ribu. Tidak ada gunanya kami berjualan, sama kayak di penjara dengan tempat yang tertutup begini," jelas Sadriah.

Ia meminta Wali Kota Banda Aceh untuk sering berkunjung dan melihat kondisi para pedagang. Lebih lanjut, ia juga memohon kepada pemerintah kota untuk lebih tegas terhadap pedagang gelap yang masih berjualan disepanjang jalan.

"Tolong adek-adek sampaikan keluhan kami, kami tidak tahu harus mengeluh sama siapa. Mudah-mudahan pemerintah kota mendengar keluhan kami dan segera memperbaikinya," tutup Sadriah.***

Komentar

Loading...