Setelah Drama Tiang Listrik Usai

Setelah Drama Tiang Listrik Usai
Ilustrasi: Wynn Holmes

SUDAH selayaknya Komisi Pemberantasan Korupsi menahan Setya Novanto, politikus Partai Golkar dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI. Ini menunjukkan bahwa KPK bukan lembaga cilet-cilet yang mudah diintimidasi saat berhadapan dengan kekuasaan.

Menghadapi orang seperti Setya, KPK dan lembaga penegak hukum seharusnya tak boleh kendur. Apalagi mundur. Sebagai lembaga tempat jutaan masyarakat Indonesia menggantungkan harapan untuk memberantas korupsi, babak drama Setya sempat membuat jantungan. Tentu saja masyarakat tak rela lembaga yang dibentuk secara khusus ini dipermainkan oleh uang dan kekuasaan. Ini terlihat jelas dari sindiran di media sosial.

Untuk memberikan efek jera, alangkah baiknya jika KPK segera menjerat orang-orang di sekitar Setya yang mencoba merekayasa insiden kecelakaan yang melibatkan Setya, seorang jurnalis, keluarga Setya dan tiang listrik. Seperti yang disampaikan oleh juru bicara komisi antirasuah itu, pihaknya tetap mencermati fakta-fakta seputar kecelakaan yang dialami Setya di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, Kamis malam pekan lalu.

Merekayasa fakta dalam kasus ini sama saja dengan menghalang-halangi proses hukum. Dalam Pasal 21 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, tindakan ini dikategorikan sebagai tindakan pidana. Termasuk juga pengacara Setya yang getol mengancam KPK dan melarang Setya untuk hadir dalam pemeriksaan.

Sebagai bentuk “tobat” Setya atas kekacauan yang dibuatnya dalam beberapa bulan terakhir, ada baiknya jika dia mengungkapkan sosok lain yang menikmati uang dugaan korupsi e-KTP yang mencapai Rp 2,3 triliun itu. Mungkin ini bisa jadi penebus dan menjadi penutup dari drama Setya dan tiang listrik yang cukup menghebohkan itu.

Komentar

Loading...