Setelah Obligasi Pesawat, Saham Kapal Laut Pula

Setelah Obligasi Pesawat, Saham Kapal Laut Pula
Armija bin Mahjidin, 74 tahun warga Gampong Beurawe, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh menunjukkan lembaran kepemilikan saham asli PT Perusahaan Pelayaran Arafat, Rabu 4 April 2018. Foto: Kba/ Biyan Nyak Jeumpa

Surat ini merupakan saham asli dengan nilai Rp 500 rupiah yang diinvestasikan untuk membeli kapal yang harus disertakan oleh mereka yang ingin beribadah haji tahun 1964

KBA.ONE, Banda Aceh - Heboh kepemilikan obligasi pesawat RI 001 belum berakhir. Setelah Nyak Sandang, kini giliran Armija bin Mahjidin. Pria berusian 74 tahun yang beralamat di Gampong Beurawe, Kecamatan Kuta Alam ini malah menunjukkan lembaran kepemilikan saham asli PT Perusahaan Pelayaran Arafat, perusahaan yang membeli kapal bagi pelayaran jemaah haji Indonesia era 1960-an.

“Sebenarnya saya sudah tidak ingat ada menyimpan lembaran saham ini, tapi tiba-tiba menemukannya dan memperlihatkan kepada anak saya. Ini adalah surat saham asli yang diinvestasikan untuk membeli kapal menunaikan haji waktu itu. Ayah saya kemudian menumpanginnya saat menunaikan ibadah haji tahun 1964 lalu," Kata Armija, Rabu 4 April 2018.

“surat wasiat berupa saham” ini kata Armija, diberikan sang ayah kepadanya tahun 1975, sebagai anak laki-laki pertama didalam keluarga. Ayah Armija akhirnya meninggal dunia tahun 2005.

Dalam lembar saham berwarna hijau itu, tertulis nama pemiliknya Tgk Mahjidin dengan alamat Desa Lamtimpeung, Kecamatan Tungkop Darussalam, Banda Atjeh. Surat tersebut juga bertulis harga pembelian sebuah kapal adalah Rp 560 juta dan harga ini dibagi dalam 1.120.000 saham.

Saat itu setiap warga yang ingin menunaikan haji harus menyertakan uang untuk membeli saham dengan nilai Rp 500. Saham ini ditanda tangani oleh Dewan Pengawas bernama Brigjen TNI Roeshan Roesli.

“Jadi, kalau ayah saya tidak membeli saham itu dan membayarkan ongkos haji Rp 50.000, maka dia tidak akan bisa menunaikan ibadah haji,” ungkap Armija.

Armija mengisahkan tahun 1964 dirinya turut mengantar sang ayah berangkat menuju Kota Makkah menunaikan ibadah haji. Saat itu dirinya harus pulang ke Sabang sebagai kota tempat berkumpul seluruh jamaah haji asal Aceh.

"Di Sabang jamaah akan dijemput kapal bernama Tjoet Njak Dien dan perjalanan menuju haji menghabiskan waktu 3 bulan sejak pergi hingga pulang kembali ke Aceh. Kapal ini mengangkut jamaah dari seluruh Indonesia,” kata Armija.

Kini, sebut Armija, dirinya hanya ingin kejelasan tentang status saham itu. “Kemana kapalnya dan bagaimana status saham ini, itu saja yang kami kejelasan pemerintah,” sebut Armija.

Sebagai catatan, bagi jamaah haji yang berangkat di era 1960 hingga pertengahan 1970-an tentu tidak bisa melupakan begitu saja perjalanan haji melalui jalur kapal laut. Saat itu mereka yang menunaikan ibadah haji harus menggunakan kapal laut dan akan mengingat peran PT Arafat serta nama kapal haji seperti, KM Gunung Djati, Tjut Njak Dhien, Pasific Abeto, Mei Abeto, dan Le Havre Abeto.

Sayangnya nama-nama kapal perusahaan PT Arafat terkubur setelah Departemen Perhubungan menutup perjalanan haji menggunakan kapal laut di tahun 1979. Perintah likuidasi atau pembubaran perusahaan yang meliputi pembayaran kewajiban kepada para kreditor dan pembagian harta yang tersisa kepada pemegang saham, disampaikan wakil presiden Adam Malik Juni 1978 silam.

Kontributor: Biyan Nyak Jeumpa

Komentar

Loading...