Si Miskin dan Si Kaya

Si Miskin dan Si Kaya
Ilustrasi | elretornodelossofistas.com.

Tak hanya itu, ketika masih pemeriksaan pun, foto orang-orang "biasa" yang ditangkap itu sudah terekspos lebih dulu. Kita tidak paham maksudnya apa.

Orang miskin dan kaya tak cuma beda harta. Perlakuan dan kesempatan memperoleh keadilan juga berbeda. Jika bicara kaya hati, itu lain babnya. Ini soal hukum semata. Bagaimana penegak hukum (baca: polisi) memperlakukan si kaya dan si miskin dalam sebuah perkara.

Ada cerita pencuri mangga dihukum penjara sedangkan koruptor masih wara-wiri di depan mata. Orang miskin yang pacaran samping perdu pisang dicambuk depan banyak pasang mata. Sementara si kaya indehoi saja di kamar hotel tanpa takut bakal terkena razia.

Baru saja kita mendapat cerita dari Meulaboh saat polisi menangkap tiga tersangka. Salah satunya, anak Wakil Bupati Aceh Barat. Menurut polisi, ketiganya ditangkap tanpa sengaja. Sasaran mereka sebenarnya orang lain.

Ketika ketiganya digelandang ke kantor untuk penyelidikan, polisi hanya memberikan inisial ketiga tersangka, bukan nama lengkap. Ketika ditanyakan oleh wartawan apakah betul ada anak pejabat yang ikut tertangkap, polisi enggan berkomentar.

Dari sini terlihat analogi kaya dan miskin tadi. Ketika kasus-kasus narkoba menimpa orang-orang "biasa", polisi tak segan mengeksposnya. Biasanya digelar konferensi pers dengan menghadirkan tersangka. Tak hanya itu, ketika masih pemeriksaan pun, foto orang-orang "biasa" yang ditangkap itu sudah terekspos lebih dulu. Kita tidak paham maksudnya apa.

Untuk kasus di Aceh Barat, publik seharusnya diberi tahu benar atau tidak ada anak pejabat yang terkena kasus narkoba. Ini bukan lagi persoalan yang berkutat di ranah pribadi. Wakil bupati adalah orang nomor dua di kabupaten. Ia panutan publik. Ia juga salah satu orang yang seharusnya berada di barisan depan memberantas narkoba. Jika keluarganya tersandung kasus narkoba, publik harus diberi pemahaman agar tidak ikut terjerumus ke kejahatan serupa.

Sejak beberapa tahun terakhir, gaung darurat narkoba menggema di negeri ini. Kita sudah menyatakan siap berperang melawan narkoba. Kita tak ingin generasi mendatang hancur akibat barang haram itu. Seriuskah kita? Ketika si kaya dan si miskin yang tertangkap narkoba masih saja kita perlakukan berbeda. Atau jangan-jangan, kita selama ini cuma membual saja.

Komentar

Loading...