Sihir Wifi di Kedai Kopi

Sihir Wifi di Kedai Kopi
Ilustrasi warung kopi | Pixabay

WiFi mengubah kondisi warung-warung kopi di Aceh. Pengunjung tidak hanya menikmati kopi tapi juga memanfaatkan fasilitas internet gratis.

KBA.ONE - "Saya tidak minum kopi, Bang, tapi teh dingin, nih. Sambil browsing lowongan kerja. Kalau udah ada kerja kita kantornya nggak di sini," ujar Tanzil sembari mengangkat gelas berisi teh dingin. Sementara pandangannya jarang lepas dari layar laptop.

Ketika ditemui awal Agustus lalu di warung Taufik Kupi Batoh, Banda Aceh, Tanzil memang sedang sibuk mencari lowongan pekerjaan. Ia nongkrong di tempat tersebut bukan khusus untuk menikmati kopi. Sebagai pengunjung kedai, Tanzil memanfaatkan fasilitas internet lewat WiFi yang disediakan gratis oleh empunya warung. Enak tidaknya kopi di tempat itu, bagi Tanzil hal kesekian. Terbukti, ia memilih menyeruput teh dingin.

Hal senada dikatakan Wahyu, kawan Tanzil. "Kemari karena ingin berjumpa dengan teman dan main game," ujar Wahyu. Hari itu, ia asyik memainkan games di gadget kesayangannya, mengandalkan koneksi internet gratis di warung tersebut.

Wifi atau WiFi merupakan teknologi yang memanfaatkan peralatan elektronik untuk bertukar data secara nirkabel melalui sebuah jaringan komputer. Termasuk koneksi internet berkecepatan tinggi. Faktor terakhir ini yang membuat Akong, juga pengunjung di warung tersebut, betah berlama-lama di tempat itu. Ia mendaku sebagai penggemar berat game online. "Hanya dengan kecepatan WiFi yang stabil game online bisa dimainkan dengan lancar. Apalagi game Dota, nggak boleh lambat koneksinya," ujar Akong. Dota atau Defense of the Ancient, adalah permainan strategi yang para pemainnya memainkan satu tokoh saja yang dikembangkan menjadi lebih kuat.

Akong datang ke warung kopi bersama teman-temannya. Jarang ia pergi sendiri. Tak hanya di warung itu, beberapa kedai kopi lain juga ia datangi asal internetnya kencang.

***

Memasang internet gratis dengan koneksi ngebut memang salah satu jurus andalan meraup pengunjung. Ini umumnya dilakukan warung-warung kopi di Banda Aceh yang muncul selepas tsunami 2004.

Selain itu, warung-warung kopi juga berlomba-lomba mengubah gaya desain interior maupun eksterior mengikuti tren. "Berbeda halnya sebelum tsunami yang notabene pengunjung warung kopi hanya orang tua saja. Kalau sekarang istilahnya, tren kita kan ngumpul di warung kopi gitu," ujar Kepala Bidang UKM Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banda Aceh, Syafruddin, Agustus 2017.

Sebagai penikmat kopi, Syafruddin melihat aktivitas pengunjung warung kopi di Aceh bukan hanya duduk semata. "Mungkin kalau di Jakarta sana orang ngomongin bisnis di hotel, kalau kita di warkop. Bahkan orang Aceh bisa bertransaksi miliaran rupiah di warung kopi. Konon, katanya mau jadi Anggota DPR harus duduk di warkop," ujar Syafruddin sambil tertawa.

Di sisi lain, selepas tsunami warung kopi juga tumbuh pesat di Banda Aceh. Setiap bulan, kata Syafruddin, ada kedai kopi baru yang tumbuh. Ia mencontohkan sejak Juni hingga Agustus lalu, beberapa warung kopi baru dibuka di kawasan Pango dan sepanjang Jalan Panglima Nyak Makam dekat Simpang BPKP.

Tak hanya itu, di sepanjang jalan menuju Ulee Lheue juga ada dua warung kopi baru. "Kemudian di simpang tiga depan Rumah Sakit Malahayati Jalan Cut Nyak Dhien ada satu warkop yang baru dibuka," ujarnya.

Jumlah warung kopi baru yang diperlihatkan Syafruddin bulan itu belum dipilah secara rinci. Soalnya, kata dia, Disperindag Banda Aceh mencatat semua usaha bukan hanya warung kopi. Lagi pula, ketika didata, ada pemilik kedai kopi yang enggan usahanya disebut sebagai warung kopi. "Karena di dalamnya juga ada (dijual) makanan, seperti resto," ujar rekan Syafruddin di ruang Bidang UKM Disperindag Banda Aceh.

Menjamurnya warung kopi berpengaruh terhadap pendapatan kota. “Tentunya berpengaruh, untuk besaran berapa PAD(Pendapatan Asli Daerah)-nya saya tidak tahu. Yang pasti (data) itu ada di BPKK (Badan Pengelolaan Keuangan Kota) Banda Aceh,” ujar Boy, Kepala Bidang Perizinan Pelayanan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu atau DPMPTSP Kota Banda Aceh, saat ditemui KBA.ONE di kantornya, 2 Agustus lalu.

Data yang diperoleh dari DPMPTSP Banda Aceh, sejak Januari hingga Juli tahun ini, ada 30 warung kopi yang sudah terdata dan mendapat izin usaha. Selebihnya, sekitar 50 persen warung kopi belum mendapatkan izin.

Bujang, staf Bagian Informasi dan Pengaduan DPMPTSP mengatakan, warung kopi yang belum mendapatkan izin itu berada di pinggiran kota. “Warkopnya itu mungkin kecil dan milik orang gampong, bangunannya semi permanen. Lahan yang dipakai untuk usahanya juga mungkin tidak luas."

Komentar

Loading...