Sosok Perempuan di Balik Puisi Samudera Keumala

Sosok Perempuan di Balik Puisi Samudera Keumala
Syarifah Zatul Ibrar. | Foto: Ist

Perempuan mana di semua samudera yang menjadi laksamana perkasa?
Perempuan Eropa? Masih berjalan di terjal gelap!
Keumalahayati sudah menghunus belati memimpin pasukan laut, mengusir angkara Eropa.

| Kutipan puisi Syarifah Zatul Ibrar

TANGANNYA bergetar, suaranya lantang. Kata demi kata dari bait puisi sejarah dunia itu dibacakan dengan semangat kepahlawanan yang kuat. Seakan meremuk-redamkan deru ombak dan gelombang samudera di depannya. Itulah cara Syarifah Zatul Ibrar mengekspresikan hari Pahlawan 10 November 2020 lewat sebuah puisi bertajuk Samudera Keumala.

Pembacaan puisi ini merupakan serangkaian kegiatan sayembara puisi yang diadakan Garda Wanita (Garnita) Malahayati, Aceh Timur, dalam memperingati hari pahlawan.

Dalam video berdurasi 3.04 menit yang diunggah di akun youtube reefamoda official, tepat di atas batu kerikil di pinggir pantai, berdiri kokoh Syarifah melantunkan bait demi bait sajak yang sudah tersusun rapi dalam puisi. Sesekali matanya berbinar menatap langit, keningnya mengernyit seakan mememeluk masa depan.

Semangatnya berkobar, terbakar, di bawah terik matahari, layaknya Laksamana Malahayati, sang pahlawan hebat itu.

"Sosok Laksamana Malahayati sangat gagah kuat dan sabar, itu bisa menjadi contoh untuk wanita Aceh hari ini," kata Syarifah kepada KBA.ONE, 9 November 2020.

Syarifah sangat terinspirasi dengan sosok Malahayati yang memimpin 2.000 pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) saat berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda pada 1599. 

Ketangguhan Malahayati, saat itu mampu membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal, tergambar dalam puisi Samudera Keumala karya Syarifah. 

"Hebat ya. Padahal beliau saat itu tanpa didampingi suami yang sudah duluan meninggal dunia," sebut Syarifah.

Karena kehebatan Malahayati itu, ia ingin menorehkan tinta hitam di selembar kertas putih. "Banyak sekali saat ini yang tidak kenal Malahayati, sosok pahlawan perempuan dari Aceh yang sangat disegani dan memiliki kekuasaan besar di masanya itu."

Sejarah Malahayati begitu menginspirasi dunia. Dia mampu memimpin pasukannya dalam peperangan panjang yang menggadaikan nyawa untuk sebuah kejayaan Aceh. Karena itu, ketika menulis dan membaca puisi Samudera Keumala, darah Syarifah "menggigil" seakan menyatu dalam tubuh perempuan hebat dan masyhur itu.

"Maka saya angkat kembali sejarahnya, saya kagum akan perjuangan beliau. Pinter, memiliki strategi yang bagus. Menariknya lagi beliau satu-satunya wanita yang dijuluki Laksamana di dunia yang berasal dari Aceh," tegas Syarifah yang mengidolakan sosok Keumala sejak duduk di Sekolah Dasar (SD).

Tentang Syarifah, Sang penyair Samudera Keumala

Perempuan kelahiran Idi Rayeuk, Aceh Timur, 10 September 1988, itu saat ini tengah melanjutkan kuliah di Universitas Cut Nyak Dhien, Langsa, jurusan Agrogeknologi. Syarifah kerap menghabiskan kesehariannya sebagai penyiar di salah satu radio Pemerintah Aceh Timur di Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Radio Swara Cempla Kuneng.

"Sering juga ambil job sebagai reporter dan MC. Di samping itu saya juga punya usaha di bidang fashion designer (usaha jahit) dengan merk Reefamoda," tutur Syarifah.

Sejak kecil, Syarifah sudah mengikuti histori Malahayati. Ia bilang bangsa indonesia memiliki sejarah kuat dalam hal tradisi, kebudayaan dan seni yang harus dijaga sama-sama.

Syarifah mulai berhasrat menyukai puisi sejak di sekolah dasar. Ia pernah mengikuti berbagai perlombaan puisi, meskipun saat itu tidak juara. Ia percaya kekalahan adalah pelajaran terbaik untuk mencicipi kemenangan.

Ketika ingin menguatkan roh kepahlawanan dalam puisinya, Syarifah kerap membaca dan membuka kembali artikel lama tentang sejarah dan mendalami karakter sang idola secara harfiah. "Agar lebih bisa menjiwai," kata perempuan 32 tahun ini.

Perempuan semampai ini punya cita-cita menjadi sosok Malahayati untuk keluarga kecilnya. Selain sama-sama ditinggal suami tercinta, ia juga dituntut harus kuat, sabar, tangguh dalam membesarkan anak-anaknya. "Suami meninggal tahun 2015. Sangat terinspirasi dari sosok Malahayati," ujar Syarifah.

Jika dulu Malahayati memimpin pasukan di arena peperangan, Syarifah memimpin keluarga untuk kehidupan dunia dan akhirat kelak.

Semangat Malahayati terus membaja dalam diri Syarifah. Karena itu, bait demi bait puisi karyanya berhasil memasuki dan membawanya seakan berada di antara Malahayati dan para pasukan Inong Bale.

"Terasa sesak rasanya ketika perjuangan beliau terlalu besar untuk negeri ini dan banyak yang terlupakan dari beliau," sebut Syarifah.

Penting bagi generasi milenial dan generasi Z untuk meneladani semangat para pejuang seperti Malahayati. Meski tak dapat dielak kemajuan teknologi informasi semakin memanjakan sebagian kawula muda. "Kemajuannya jangan sampai melemahkan rasa nasionalisme, menimbulkan sifat materialisme, dan ujaran kebencian," pesan Syarifah.

Di hari Pahlawan ini, Syarifah mengingatkan jangan Bhinneka Tunggal Ika hanya akan menjadi slogan semata. "Jadilah pemuda-pemuda yang bersemangat, bertanggung jawab untuk indonesia yang lebih baik dan maju," kata Syarifah bersemangat.

Di ujung wawancaranya, perempuan yang kini aktif terlibat dalam organisasi sosial dan keagamaan, ini menitip pesan bahwa cara generasi muda menghargai pahlawannya bisa diekspresikan lewat hal-hal positif. "Salah satunya lewat puisi," sebut Sekretaris DPD Garda Wanita (Garnita) Aceh Timur ini.

Di dunia literasi, ia juga gemar mengikuti seminar dan pelatihan-pelatihan jurnalistik. Itulah dia sosok Syarifah Zatul Ibrar, Sang penyair puisi Samudera Keumala yang menggetarkan jiwa para penikmatnya. ***

Komentar

Loading...