Sultan, Sisi Gelap Kejahatan Anak di Bawah Umur

Sultan, Sisi Gelap Kejahatan Anak di Bawah Umur
Lapas Kelas II B Lhoksukon. | KBA.ONE: Try Vanny

Ibu Sultan sempat koma begitu majelis hakim mengganjar anaknya dengan hukuman 4 bulan penjara.

KBA.ONE, Aceh Utara – Dinginnya ubin penjara Lhoksukon, Aceh Utara, seketika mengubah jalan pikiran Sultan. Kehidupan di balik jeruji besi itu tak sanggup dia telan meski cuma sekejap.

"Saya berniat berubah setelah keluar dari penjara ini. Saya tidak mau lagi, Kak," cerita Sultan kepada KBA.ONE, Senin 6 April 2020, dengan logat Aceh yang kental.

Sultan bukan nama dalam akte kelahiran remaja 16 tahun ini. Lelaki tampan bertampang lugu itu menukil kisah bagaimana  dia hingga bisa terjerembab masuk ke bui.

Satu hari, bertepatan hari ketiga kematian neneknya, Sultan terpaksa digiring ke Markas Polres Aceh Utara. Dia  kedapatan tengah mengonsumsi narkotika kelas wahid, sabu-sabu, di dalam kamar tidurnya.

Padahal waktu itu, remaja berperawakan junkis ini sedang menjalani pendidikan di salah satu pondok pesantren di Banda Aceh.

Sultan adalah anak keempat, satu-satunya lelaki dari lima bersaudara. Dia lahir dari pasangan keluarga pas-pasan. Ibunya hidup menjanda dan bekerja sebagai buruh tani dengan pendapatan Rp50 ribu perhari.

“Ayah sudah meninggal delapan bulan lalu karena sakit DM (darah manis). Ayah  sering cuci darah sebelumnya,” kenang Sultan di sebuah warung kopi di Aceh Utara.

Kehilangan sang ayah, bagi Sultan, seolah kehilangan sosok yang ia takuti di keluarga. Ibunya yang tak muda lagi pun tak sanggup melerai polah Sultan yang mulai menggandrungi dunia gelap narkoba. Bahkan Sultan sempat menjadi kurir bisnis barang celaka itu. Dia terpengaruh lingkungan sekitar.

Setiap kali dinasehati, Sultan  berang dan membantah. Bahkan ia tak segan memaki sang ibunda jika ditegur kesalahannya.

“Mungkin karena hanya saya sendiri laki-laki di rumah. Tiga orang kakak saya sudah menikah, sementara adik masih sekolah,” kata Sultan yang mulai terbuka dan menyesali diri di hadapan KBA.ONE.

Dia pun tak canggung lagi  berbagi kisah pribadinya yang sempat  lama terjerumus di lembah hitam. Petaka itu berawal  ketika temannya berinisial M menukar jasa pinjaman Rp50 ribu dengan sabu.  Sultan langsung candu setelah beberapa kali mengisap barang haram itu dari M. Usai itu, dia pun mulai ketergantungan.

“Saya pinjamkan uang Rp50 ribu, tapi saya minta isap sabunya. Lalu, saya mulai ketagihan,” ujar lelaki yang memiliki bekas luka di bagian kiri kepalanya gara-gara terjatuh saat ikut balapan motor liar.

Setelah ketergantungan, Sultan  mulai mencari uang dengan bekerja serabutan untuk memenuhi nafsunya. Tak lama, M mengenalkan Sultan  kepada seorang bandar sabu. Dan diapun direkrut menjadi kurir untuk mengantar paket-paket sabu kecil dengan harga Rp80 hingga Rp100 ribu perpaket.

“Dalam sekali antar saya dapat upah Rp50 ribu, dan dikasi sabu gratis supaya tidak mengambil paket yang dititipkan,” aku Sultan polos.

Hampir dua tahun juga Sultan menjadi kurir sabu. Tapi, langkahnya terhenti setelah polisi mengendus dan meringkus Sultan di kamar tidurnya. Dia tak berkutik karena polisi mendapati  barang bukti satu set alat hisap dan lima paket sabu dengan berat 0,78 gram.

Bagaikan disambar petir di siang bolong, sang ibu yang saat itu sedang sibuk memasak di rumah duka (nenek Sultan), tersentak kaget ketika mendengar kabar anaknya diboyong petugas sekitar pukul 12.00 WIB.

“Mamak panik dan langsung menyusul ke Polres naik angkutan umum. Sampai di sana sekitar magrib. Dia langsung peluk saya sambil nangis,” ucap Sultan dengan sorot mata yang mulai berkaca-kaca.

Selama dikurung 15 hari di tahti Polres Aceh Utara, sang ibu jarang membesuk Sultan karena keterbatasan biaya untuk ongkos. Upah kerja harian yang didapat habis untuk menghidupi kebutuhan rumah tangga. Tapi, ibunya selalu menyisihkan sebesar Rp15 ribu untuk ongkos kendaraan jika hendak menjenguk Sultan. Setelah itu, dia dipindah ke Lapas.
.
“Saat di Lapas mamak baru sering datang bawa makanan karena tidak begitu jauh dari rumah,” tutur Sultan.

Bahkan, ketika  proses persidangan, sang ibunda tidak pernah absen menemani. Tapi, sang ibu sempat jatuh sakit  ketika vonis dijatuhkan. Dia  dihukum empat bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon.

“Mamak sempat koma selama lima hari, tapi saya tidak bisa membesuk saat itu,” kata Sultan.

Diapun resmi menjadi salah seorang warga binaan di Lapas Kelas II-B Lhoksukon. Tidak ada perlakuan khusus untuk anak remaja. Kesehariannya sama seperti narapidana lain.

Hanya saja, aku Sultan, kamar sel yang diberikan pihak lapas berbeda dari napi dewasa yang menghuni satu sel dengan kapasitas 25 orang.

Sempat dua bulan mendekam di sel, tiba-tiba kabar menggembirakan datang bersamaan mewabahnya  Covid-19 di Indonesia. Pemerintah memberi asimilasi kepada sebagian narapidana di seluruh Indonesia sebagai upaya menghempang penyebaran Covid 19.

Sultan tidak menyangka kabar baik itu datang. Bahkan dia tidak  pernah menduga akan bebas secepat itu. Tapi, Sultan sempat bersedih ketika pada gelombang pertama namanya tidak tertera dalam daftar penerima asimilasi.

“Saya sempat sedih dan bernazar saat melihat yang lainnya bebas. Saya langsung niat, kalau saya bebas maka akan memberikan sedekah pada anak yatim,” kenang Sultan.

Asimilasi gelombang pertama, diberikan kepada 52 narapidana pada Kamis 2 April 2020. Sedangkan Sultan masuk dalam daftar nama 10 napi yang mendapat asimilasi gelombang kedua pada Senin 6 April 2020. Di antaranya ada tiga napi wanita, enam napi dewasa dan satu anak di bawah umur; Sultan.

Pemberian asimilasi itu merupakan kebijakan Kementerian Hukum dan Ham kepada narapidana yang telah menjalani masa hukuman 2 per tiga maupun setengah dari ketentuan. Ini dalam rangka untuk pencegahan penyebaran corona virus disease 2019 atau lebih populer disebut Covid-19 di seluruh Indonesia.

“Saat tau saya dibebaskan, saya melompat kegirangan dan langsung membungkus semua pakaian,” kata Sultan menutup sisi gelap cerita hidupnya.

Kisah bahagia dampak penyebaran Covid-19 dan asimilasi juga dirasakan Raden, salah seorang narapidana di Lapas Lhoksukon. "Inilah hikmah di tengah darurat virus corona yang diperoleh para warga binaan," katanya kepada KBA.ONE. Mereka pun dapat pulang dan bertemu keluarga lebih cepat sebelum habis masa hukuman.

“Allah memberikan kemudahan dari ujian ini. Inilah kesempatan kami untuk bertaubat dan berubah,” ucap Raden menyesali jalan hidupnya.

Yusnaidi, Kepala Lapas Kelas IIB Lhoksukon, bercerita ada dua anak di bawah umur yang dibebaskan setelah mendapat asimilasi yaitu napi kasus narkoba (Sultan) dan napi kasus pencurian.

Seharusnya, kata Yusnaidi, kedua anak itu tetap mendapat pendidikan seperti pelajar lainnya. Tapi, karena  keterbatasan sarana dan prasarana maka si anak harus berhenti belajar selama masa tahanan berlangsung.

Di Lapas, jelas Yusnaidi, hanya ada jadwal siraman rohani setiap hari kerja yaitu mendatangkan tokoh agama untuk memberikan pengajian dan ceramah di depan 316 orang napi.

“Padalah kapasitas lapas di sini hanya bisa menampung 150 orang, tapi saat ini di seluruh Aceh Lapasnya sudah overload,” kata Yusnaidi.

Bagaimana seharusnya perlakuan anak di bawah umur yang terlibat kejahatan?  Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Utara, Pipuk Firman Priyadi menilai  pada hakikatnya anak di bawah umur yang terlibat tindak pidana penyalahgunaan narkoba merupakan korban dari peredaran gelap. Seharusnya, kata dia, si anak cukup direhabilitasi karena mereka masih memiliki masa depan yang panjang.

Tapi, karena di Aceh Utara belum memiliki Lapas untuk anak, maka mereka terpaksa digabungkan dengan narapidana lainnya. Apalagi, kata dia, di sini tidak ada BNN (Badan Narkotika Nasional)  sehingga tidak ada asesmen tentang perilaku anak.

“Mereka ini merupakan masa depan bangsa, sudah seharusnya diberikan pendidikan dan rehabilitasi,” begitu saran Pipuk. ***

Komentar

Loading...