Susah Senang Nova Iriansyah Emban Amanah Baru

Susah Senang Nova Iriansyah Emban Amanah Baru
Nova Iriansyah | Ilustrasi: Decky R Risakotta

Dulu, ia rival Irwandi Yusuf. Kini, mendampingi Gubernur Aceh yang baru itu untuk lima tahun mendatang.

KBA.ONE - Lantai dua kantor Partai Demokrat Aceh di kawasan Lueng Bata, Banda Aceh, penuh dengan kesibukan, Selasa, 4 Juli 2017. Beberapa orang staf kantor sedang membenahi berkas-berkas. Yang lain membagi-bagikan badge kepanitiaan acara pelantikan Gubernur-Wakil Gubernur Aceh.

Di lantai dua tersebut ada beberapa ruangan, salah satunya ruang Nova Iriansyah, Wakil Gubernur Aceh terpilih. Pintu ruangan tampak tertutup. Untuk masuk ke sana harus menempelkan ujung jari ke mesin pemindai agar pintu terbuka. Karena akses yang agak ketat itu, terlihat tak banyak orang leluasa keluar masuk.

Dari informasi seorang staf kantor, Nova sedang menerima beberapa tamu di ruangan itu. Salah satunya, Wakil Ketua DPR Aceh, Dalimi, yang juga politisi Demokrat.

Di antara lalu lalang manusia di lantai dua tersebut tampak seorang perempuan tengah sibuk menyiapkan seragam. Ia Dyah Erti Idawati, istri Nova Iriansyah. Dyah adalah dosen di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Syiah Kuala.

Menjelang pukul 18.00 WIB barulah Nova keluar. Ia masih memakai kemeja putih yang dikenakan saat geladi pelantikan di gedung DPR Aceh beberapa jam sebelumnya. Tas kecil tersampir di bahunya.

Saat ditanyakan tentang jabatan baru sebagai wakil gubernur, Nova menjawab perasaannya campur aduk. Satu sisi ia senang karena dipercaya memimpin Aceh ke depan. Namun, di sisi lain ia merasa susah karena harus menanggung amanah baru.

Setelah mendapat amanah baru, Nova bakal fokus pada rencana-rencana yang telah disusun bersama Irwandi Yusuf sejak awal mereka mencalonkan diri sebagai Gubernur-Wakil Gubernur Aceh. Di dalam biodata yang diunggah di laman Komisi Independen Pemilihan Aceh, Nova tercatat pernah mengampu beberapa perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur. Namun, ia mengaku tak lagi terlibat di perusahaan-perusahaan tersebut. "Sekarang fokus amanah baru dan di partai juga," ujar Nova.

Pria yang menyukai minuman teh ini berasal dari Takengon, Aceh Tengah. Namun, Nova tidak lahir di kota penghasil kopi tersebut. "Bapak saya orang Gayo ada (darah) Acehnya juga. Ibunya saya orang Minang, saya asli Indonesia," ujar pria kelahiran Banda Aceh, 22 November 1963, ini.

Sebelum mencalonkan diri sebagai wakil gubernur, Nova merupakan anggota DPR RI periode 2009-2014. Ia pernah menjadi Ketua Tim Pemantau Undang Undang Pemerintahan Aceh dan Undang Undang Otonomi Khusus Papua DPR RI. Saat pemilihan presiden 2009, Nova dipercaya sebagai ketua tim kampanye daerah pasangan SBY-Boediono untuk wilayah Aceh.

Pada Pilkada 2012, ia menjadi rival Irwandi Yusuf. Ketika itu, Nova Iriansyah menjadi kandidat wakil gubernur berpasangan dengan Muhammad Nazar yang pernah menjadi wakil Irwandi.

Sama seperti istrinya, bidang ilmu yang digeluti Nova adalah arsitektur. Ia menamatkan strata satu arsitektur Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya pada 1988. Lalu melanjutkan ke Magister Teknik Arsitektur di Institut Teknologi Bandung dan selesai pada 1998.

Saat menjadi mahasiswa, ia aktif dalam berbagai kegiatan. Di antaranya, Ketua Pelajar Mahasiswa Keluarga Tanah Rencong Surabaya dan Ketua Temu Karya Ilmiah ke-5 Mahasiswa Arsitektur se-Indonesia di Surabaya. Setelah lulus kuliah, ia dipercaya sebagai Sekretaris Ikatan Arsitek Indonesia Provinsi Aceh.

Kecintaannya pada bidang arsitektur membuatnya memilih untuk berkiprah di dunia akademisi sebagai dosen. Sejak 1998 hingga 2004, Nova menjadi dosen sekaligus Ketua Jurusan Teknik Arsitektur di Fakultas Teknik Unsyiah.

Di luar kampus, sederet jabatan pernah dipegang Nova. Misalnya, sebagai Ketua DPP Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) Aceh, Komite Jasa Konstruksi Kadin Indonesia, dan Ketua Umum LPJKD Aceh.

Nova Iriansyah kini menjabat sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Aceh untuk periode 2015-2020. Ia juga ditugaskan sebagai Ketua Departemen Perindustrian DPP Partai Demokrat. | RG/Syukran Jazila

Komentar

Loading...