Tabrani Yunis: Hardikda Aceh Adalah Hal yang Spesial

Tabrani Yunis: Hardikda Aceh Adalah Hal yang Spesial
Tabrani Yunis. | Foto: Kompasiana.com

KBA.ONE, Banda Aceh – Pengamat Pendidikan di Aceh, Tabrani Yunis, mengatakan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh adalah hal yang spesial, karena ini menjadi pembeda dengan daerah lainnya. Karena itu, ia sebagai orang Aceh, dilahirkan dan mengenyam pendidikan di Aceh mengaku bangga dengan adanya Hardikda ini.

Ia menyampaikan eksistensi Hardikda pada 2 September, merupakan momentum untuk mengingat serta merefleksikan perjuangan dari para tokoh pejuang pendidikan Aceh, yang mendapatkan kesempatan untuk membangun pendidikan di Aceh.

Kata dia, perjuangan yang dimaksud adalah tentang bagaimana sejarah pembangunan pendidikan Aceh yang telah berhasil diukir oleh mereka, tentu dengan memiliki tekad yang kuat untuk membangun pendidikan di Aceh. 

“Supaya masyarakat Aceh dapat memperoleh pendidikan, menjadi masyarakat yang berkualitas, serta mampu bersaing dengan daerah lain di Indonesia,” katanya kepada KBA.ONE, Rabu 1 September 2021.

Menurutnya, Hardikda adalah wujud keistimewaan Aceh di bidang pendidikan. Maka di hari pendidikan daerah Aceh ini kata dia, semestinya semua pihak baik pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan mulai dari dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, agar melakukan refleksi dan menilai secara objektif terkait cita-cita rakyat Aceh di sektor pendidikan.

“Melihat apa kekurangan atau kelemahan selama ini. Membaca tantangan, ancaman terhadap proses, dan hasil pendidikan yang telah dan akan dilakukan,” imbuh Tabrani. 

Sementara, Kepala Sekolah SMAN 2 Banda Aceh, Mukhtar, menyampaikan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh harus selalu diperingati, karena ini merupakan momen untuk bangkit ke arah yang lebih baik dalam meningkatkan mutu lulusan di semua jenjang pendidikan.

“Di masa pandemi, mutu pendidikan Aceh tidak boleh menurun,” pesannya.

Karena itu, ia berharap agar bisa memastikan Proses Belajar Mengajar (PBM) dapat berjalan dengan baik dan berkualitas. Tentu, dalam hal ini perlu adanya dukungan dari semua pihak baik pemerintah, wali murid, maupun lembaga pendidikan. 

“Tentunya, harus menjamin tersedianya fasilitas sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk terlaksananya pembelajaran secara dalam jaringan (daring). Saat ini, PBM masih sistem daring,” ungkap Mukhtar.***| TASYA, Kontributor Banda Aceh

Anara

Komentar

Loading...