2020; Tahun Aroma Kematian

2020; Tahun Aroma Kematian
Ilustrasi | pixabay

Ancaman kematian demokrasi juga menggelegak di tengah pandemi.

PADA MULANYA adalah Wuhan. Di sebuah pasar hewan laut, di kota pertemuan Sungai Yangtze dan Sungai Han, Cina, Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) menampakkan jejak pertamanya pada 31 Desember 2019. Ketika itu otoritas kesehatan di Wuhan mengeluarkan peringatan adanya serangan virus pernapasan secara misterius.

Mikroorganisme mematikan itu pun beranak pinak dan mengubah wajah dunia menjadi menakutkan. Orang terpapar bergelimpangan di jalanan, di ruang-ruang publik, di rumah pribadi, di rumah sakit, di rumah ibadah, bahkan 657 orang di rumah jagal di wilayah baratlaut Jerman. Jagat buana seketika panik!

Di Indonesia, pandemi spesies virus baru ini meletup dan terkonfirmasi pertama kali pada Senin 2 Maret 2020. Saat itu, Presiden Joko Widodo mengumumkan ada dua orang Indonesia, yaitu perempuan 31 tahun dan seorang ibu 64 tahun, positif terjangkit Covid-19.

Kasus ini bermula dari pertemuan perempuan 31 tahun itu dengan seorang WN Jepang yang masuk ke Indonesia. Pertemuan terjadi di sebuah klub dansa di Jakarta pada 14 Februari. Mitos Indonesia kebal Corona pun terjungkalkan. Sejak itu, nyawa terus melayang; berhamburan.

Memasuki 2021, Corona masih mengancam. Aroma kematian karena virus itu masih kuat. Lemahnya kesadaran dan pelaksanaan testing, tracing, treatment (3T) selama pandemi di Indonesia, ikut menyumbang tingginya angka kematian akibat Covid-19. Bahkan, Indonesia bertengger di peringkat 20 dunia.

Kita berhadapan dengan musuh yang tak bisa dipelototi oleh mata telanjang. Rantai penularannya begitu cepat dan makin menggila. 727.122 warga Indonesia terpapar Corona, 21.703 meninggal dunia, di antaranya ratusan tenaga medis yang berada di garda terdepan, dan 596.783 orang dinyatakan sembuh.

Tapi, mengapa penanganan Covid-19 di negeri ini terkesan mengedepankan kekuatan politik keamanan dan militeristik? Hingga ada orang-orang dipenjara dan “diteror” oleh negara gara-gara membonceng dan memanfaatkan isu Covid-19?

Mestinya kita belajar dari Vietnam, Thailand dan Selandia Baru. Di negara yang pernah mengalami traumatik kekejaman perang sekelas Vietnam sendiri ogah meminjam tangan tentara untuk memukul rakyat menggunakan isu Corona.

Selain menerapkan prosedur secara ketat, pemerintah di negara itu menekan laju Covid-19 dengan menggenjot kapasitas pengetesan sampel sambil melakukan pelacakan kontak yang masif. Singapura menerapkan kebijakan circuit breaker. Sedangkan Cina dan Korea Selatan secara agresif mengetes warganya sebanyak mungkin.

Apakah kita sudah meniru langkah negara-negara itu dalam menghempang pandemi Covid-19? Jika belum, berarti tahun 2020 bukan saja menyisakan jejak kematian puluhan ribu manusia di negeri ini. Tapi, aroma kematian demokrasi juga mengintai negara kita di tengah pandemi Covid-19 yang semakin tak karuan. ***

Komentar

Loading...