Tanggapan Berita Hoax Terjadinya Suara Dahsyat pada Pertengahan Ramadhan

Tanggapan Berita Hoax Terjadinya Suara Dahsyat pada Pertengahan Ramadhan
Muhammad Yusran Hadi, | Foto: Ist

Persoalan aqidah dan ibadah harus berdasarkan dalil yang qath'i atau hadits shahih dan hasan.

 بسم الله الرحمن الرحيم

Telah beredar di media sosial berita yang dinisbahkan kepada Nabi saw padahal beliau tidak mengatakannya. Bunyi haditsnya:
Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda “Akan terjadi suara dahsyat di bulan Ramadhan. Mereka (para sahabat) bertanya, “Di awal Ramadhan, atau di tengahnya atau di akhirnya? Beliau menjawab, “Tidak, akan tetapi di pertengahan bulan Ramadhan, yaitu apabila pertengahan bulan Ramadhan terjadi pada hari Jumat, maka akan ada suara dahsyat dari langit, karena suara itu akan tersungkur 70.000 orang, menjadi bisu 70.000 orang, menjadi buta 70.000 orang, menjadi tuli 70.000 orang, mereka bertanya, “Siapa yang selamat dari umatmu?

Beliau menjawab, ‘Siapa yang tetap di dalam rumahnya, meminta perlindungan dengan sujud dan mengeraskan ucapan takbir kepada Allah. Kemudian disusul suara dahsyat lainnya. Suara pertama adalah suara Jibril sedangkan suara kedua adalah suara setan. Dan suara dahsyat ini akan terjadi di bulan Ramadhan, akan terjadi huru-hara di bulan Syawwal, akan terjadi perselisihan antar kabilah di bulan Zulqaidah, para jamaah haji akan diserang pada bulan Zulhijjah, sedangkan di bulan Muharram, tahukah kalian bulan Muharram? Awalnya adalah ujian bagi umatku, akhirnya adalah kebahagiaan bagi umatku…”

Dalam riwayat lain dari Ibnu Mas'ud, Rasulullah saw bersabda, "Apabila terjadi suara dahsyat di bulan Ramadhan maka akan terjadi huru hara di bulan Syawwal, akan terjadi perselisihan antara kabilah (suku) di bulan Zulqaidah, dan akan terjadi pertumpahan darah di bulan Zulhijjah dan Muharram. Tahukah kalian bulan Muharram? Rasulullah mengulangi hal tersebut sampai 3 kali. Jauhilah. Jauhilah. Pada bulan itu manusia akan saling membunuh dan keadaannya sangat kacau.

Maka kami bertanya, "Wahai Rasulullah, apa suara dahsyat itu? Rasulullah menjawab, "Suara dahsyat itu terjadi pada pertengahan Ramadhan bertepatan dengan malam Jum'at, dan suara dahsyat itu akan membangunkan orang-orang sedang tidur, menjatuhkan orang-orang yang sedang berdiri, menghempas para gadis dari kamar-kamarnya di malam Jum'at, di tahun banyak terjadi gempa bumi dan cuaca dingin. Hal itu terjadi apabila pertengahan bulan Ramadhan pada tahun itu bertepatan dengan malam jum'at. Maka apabila kalian telah melakukan shalat Shubuh pada hari Jum'at pertengahan Ramadhan itu, maka masuklah ke rumah-rumah kalian, kuncilah pintu-pintu kalian, tutuplah jendela-jendela kalian, selimutilah diri-diri kalian, dan tutuplah telinga-telinga kalian. Apabila kalian merasakan ada suara dasyat itu maka menyungkurlah dengan bersujud kepada Allah, dan ucapkan: subhanal quddus (Maha Suci Allah), subhanal quddus (Maha Suci Allah), rabbunal quddus (wahai rabb kami Yang Maha Suci). Barangsiapa yang melakukan hal itu maka ia akan selamat, dan barangsiapa yang tidak melakukan hal itu maka ia akan binasa."

Sehubungan dengan beredar berita di media sosial seperti disebutkan dalam hadits-hadits tersebut dan semaknanya sehingga menimbulkan kegelisahan dan ketakutan umat Islam, dan mengingat banyaknya pertanyaan yang ditanyakan oleh orang-orang mengenai kebenaran berita tersebut, serta mengingat pertengahan bulan Ramadhan 1441 H ini bertepatan dengan hari Jum'at, maka saya ingin memberikan tanggapan sebagai berikut:

Pertama: mengecam dan menyayangkan perbuatan orang-orang yang menyebarkan berita ini. Perbuatan ini telah menimbulkan ketakutan dan kegelisahan umat Islam. Bahkan telah menyesatkan umat.

Kedua: Berita ini hoax (dusta) dan khurafat yang menyesatkan. Tidak ada hadits yang shahih menjelaskan berita seperti ini. Faktanya juga mengingkari hal ini. Bertahun-tahun pertengahan Ramadhan bertepatan dengan hari Jum'at, namun tidak terjadi peristiwa ini. Jelas orang yang menyampaikan dan menyebarkan berita ini adalah pendusta.

Ketiga: Hadits yang dijadikan dalil mengenai berita ini adalah hadits dhaif jiddan (sangat lemah) bahkan maudhu' (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh para ulama hadits di antaranya, Imam Ad-Daruquthni, Imam U'qaily, Imam Ibnul Qayyim, Imam Az-Zahabi, Imam Ibnul Jauzi, Imam Ibnu Hibban, Imam Al-Haitsami, Imam As-Sayuuthi, syaikh Al-Albani dan lainnya.

Keempat: Para ulama hadits mengatakan haram hukumnya berhujjah dengan hadits dhaif jiddan (sangat lemah) dan maudhu' (palsu). Apalagi sampai meyakini dan mengamalkannya. Tentu lebih haram.

Kelima: Hukum meriwayatkan (menyampaikan) hadits palsu dengan sengaja adalah haram sebagaimana sabda Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang berdusta atas diriku dengan sengaja maka hendaklah tempat duduknya di neraka." (HR. Al-Bukhari). Begitu pula meyakini, menyebarkan dan mengamalkannya .

Keenam: Para ulama telah ijma' (sepakat) bahwa dalam persoalan aqidah dan ibadah wajib berdasarkan dalil qath'i atau hadits shahih dan hasan. Tidak boleh atau haram berhujjah dengan hadits dhaif (lemah), apalagi dhaif jiddan (sangat lemah) dan maudhu' (palsu) dalam persoalan aqidah dan ibadah.

Ketujuh: Adapun dalam persoalan fadhaail a'maal (keutamaan amal), maka para ulama khilafiyyah (berbeda pendapat) berhujjah dengan hadits dhaif. Sebahagian ulama tidak membolehkannya. Sebahagian lainnya membolehkannya dengan syarat yaitu tidak parah dhaifnya (bukan hadits dhaif jiddan), masuk dalam hadits shahih atau hasan yang sifatnya umum, tidak meyakini itu hadits nabi, namun untuk berhati-hati saja, dan tidak dipopulerkan.

Kedelapan: Persoalan ini bukan persoalan fadhail 'amal yang diperselisihkan oleh para ulama berhujjah dengan hadits dhaif. Ini persoalan yang ghaib. Maka jelas ini persoalan aqidah. Harus berdasarkan dalil yang qath'i atau hadits shahih dan hasan.

Kesembilan: Berita ini sengaja disebarkan untuk menakut-nakuti umat Islam. Perbuatan Ini bertentangan dengan Islam. Rasulullah saw melarang menakut-nakuti umat Islam. Apalagi dengan menggunakan hadits maudhu'. Maka pelakunya sudah melakukan dua perbuatan dosa besar sekaligus.

Kesepuluh: meminta kepada umat Islam untuk tidak percaya kepada berita dusta ini. Jangan percaya dan jangan mengamalkan hadits palsu. Haram hukumnya. Masyarakat mesti berhati-hati dalam menerima berita yang berkaitan dengan agama. Persoalan aqidah dan ibadah harus berdasarkan dalil yang qath'i atau hadits shahih dan hasan. Tidak boleh hadits dhaif, apalagi dhaif jiddan dan maudhu'.

Demikianlah tanggapan saya terhadap persoalan ini sebagai wujud kepedulian saya terhadap persoalan umat. Semoga ilmu dan pendapat yang saya sampaikan ini bermanfaat bagi umat dan bangsa. Amin.

Banda Aceh, Rabu 13 Ramadhan 1441 H/ 6 Mei 2020 M
Ttd

*Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA.
Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Provinsi Aceh, Doktor Fiqh & Ushul Fiqh di International Islamic University Malaysia (IIUM), Ketua Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) Provinsi Aceh, dan Anggota Ikatan Ulama & Da'i Asia Tenggara.

Komentar

Loading...