Tanpa Pendidikan Berkualitas, Kita Hanya akan Jadi Penonton

Tanpa Pendidikan Berkualitas, Kita Hanya akan Jadi Penonton
Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah. | Foto: Humas Pemerintah Aceh.

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, guru, kepala sekolah, dan para tenaga pendidikan lainnya tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknik, tapi harus pula memiliki disiplin dan kepribadian yang terpuji.

PERAN pendidikan yang memberi kontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi telah menjadi kebenaran yang bersifat aksiomatis. Hal itu sudah dibuktikan keabsahannya lewat berbagai kajian akademis dan penelitian empiris. Apalagi pendidikan bukan cuma melahirkan sumber daya manusia berkualitas, memiliki pengetahuan dan keterampilan serta menguasai teknologi saja, tetapi juga dapat menumbuhkan iklim bisnis yang sehat dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, investasi di bidang pendidikan tidak saja bermanfaat bagi perorangan, tetapi juga bagi komunitas bisnis dan masyarakat umum. Pencapaian pendidikan pada semua level niscaya akan meningkatkan pendapatan dan produktivitas masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.

Sebab, pendidikan merupakan jalan menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi. Sedangkan kegagalan membangun pendidikan akan melahirkan berbagai problem krusial yaitu pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan penyakit sosial lain yang menjadi beban sosial politik bagi pemerintah.

Menyikapi dinamika pendidikan yang terus berkembang di era milineal ini, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah berjanji akan terus mendorong kemajuan pendidikan di Aceh dengan meningkatkan kualitas di berbagai lini, termasuk mengucurkan anggaran yang besar untuk membantu meningkatkan fasilitas sekolah dan peningkatan kapasitas guru.

Setiap tahun, kata Nova Iriansyah, rata-rata 20 persen anggaran APBA dan APBK dialokasikan di sektor pendidikan di daerah Aceh. Anggaran itu ditambah lagi dengan dukungan dari dana otonomi khusus Aceh (DOKA). “Tapi, jika anggaran itu tidak diiringi kemampuan mengajar dan disiplin yang tinggi dari para tenaga kependidikan, niscaya target-target yang diinginkan pasti tidak akan tercapai,” kata Nova Iriansyah.

Agar program pendidikan berjalan dengan baik, Nova berjanji, Pemerintah Aceh akan lebih serius memberikan perhatian pada kapasitas dan keteladanan guru, kepala sekolah, pengawas sekolah serta tenaga pendidikan lainnya.

Dia menilai dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, guru, kepala sekolah, dan para tenaga pendidikan lainnya tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknik, tapi harus pula memiliki disiplin dan kepribadian yang terpuji agar bisa menjadi teladan bagi para peserta didik.

Hal itu secara jelas disebutkan pada Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang menyatakan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban memberi teladan demi nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan dengan kepercayaan yang diberi kepadanya.

Artinya, cakap dalam hal ini mengajar tidaklah cukup sebagai pendidik. Keterampilan itu harus disertai sikap disiplin, perilaku yang baik dan komunikasi yang efektif. Dengan memadukan semua kemampuan itu, seorang pendidik akan mampu menghasilkan generasi muda yang unggul.

Kerja keras Pemerintah Aceh untuk meningkatkan kualitas pendidikan merupakan jantung dari visi dan misi pasangan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf (nonaktif) dan Wakil Gubernur Nova Iriansyah (Plt). Pemerintah Aceh mencanangkan tiga program utama terkait pendidikan, yaitu Aceh Carong, Aceh Meuadab, dan Aceh Teuga.

Program Aceh Carong menekankan kepada prestasi pendidikan Aceh di tingkat nasional. Strategi yang ditempuh untuk meningkatkan prestasi tersebut melalui perbaikan fasilitas pendidikan, kualitas guru, dan peningkatan sistem.

Program Aceh Carong ini dimunculkan karena secara kualitas pendidikan Aceh berada pada peringkat ke-3 terendah secara Nasional, Aceh berada pada urutan 32 dari 34 provinsi. Padahal, anggaran yang dikucurkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) mencapai rasio maksimal yaitu 20% dari total anggaran (acehprov.go.id, 28/2/2018).

Melihat fenomena miris itu, pemerintah Aceh juga menggulirkan rangsangan akan memberi reward kepada guru dan tenagan pendidik yang memiliki prestasi dan dedikasi yang tinggi terhadap dunia pendidikan. “Bagi mereka yang berprestasi layak diganjar dengan penghargaan khusus,” janji Nova Iriansyah.

Lagi pula, tambah Nova, Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen menegaskan perlunya penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan berprestasi sebagaimana tertuang dalam pasar 36 ayat (1) yang menyatakan bahwa guru yang berprestasi atau bertugas di daerah khusus berhak memperoleh penghargaan. “Tanpa kualitas pendidikan yang baik, kita hanya akan menjadi penonton dalam era persaingan bebas saat ini,” tegas Nova Iriansyah, beberapa waktu lalu di Banda Aceh. ***

Komentar

Loading...