‘Tapee’ Penganan Lebaran Khas Abdya

Oleh ,
‘Tapee’ Penganan Lebaran Khas Abdya
Tapee, penganan lebaran khas Abdya | KBA/Khalis Surry

KBA.ONE - Tiga perempuan paruh baya itu menampakkan wajah sangat serius. Di sebuah ruang yang berukuran 4x5 meter persegi, berdinding kayu yang telah lapuk, tangan mereka sibuk sedang membungkus beras ketan putih ke dalam daun pisang. Mereka membuat penganan untuk disantap saat lebaran

“Masyarakat Aceh Barat (Abdya) Daya tidak pernah lupa (membuat) Tapee dan Leumang ini saat hari raya,” kata Surya Ningsih (43), warga Gampong Krueng Batee, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya, Sabtu, 24 Juni 2017.

Tapee merupakan makanan khas yang selalu tersedia saat perayaan lebaran di Abdya. Tapee memiliki rasa yang manis dan legit di lidah. Mayoritas masyarakat Abdya membuat Tapee dua hari menjelang hari lebaran. Lantaran, pembuatan Tapee membutuhkan waktu selama dua malam untuk proses penyimpanan, baru nantinya Tapee bisa disantap.

“(Setelah disimpan dua malam) langsung bisa dimakan,” ujar Neneng—sapaan—Surya Ningsih. Pemilihan waktu dua hari sebelum lebaran, tidak mempunyai alasan yang berarti, hanya saja, katanya, mereka menargetkan supaya Tapee itu bisa dimakan saat hari pertama lebaran. Namun, tidak tertutup kemungkinan Tapee tersebut tidak bisa dimakan, walaupun telah melalui proses penyimpanan selama waktu dua malam. Hal itu, kata Neneng, kesalahan pada proses peragian yang tidak bagus.

“(Tidak bisa dimakan) karena rasanya asam, Tapee yang bisa dimakan itu rasanya manis,” ujar Neneng. “Ada yang setengah (rasanya) asam setengah (rasanya) manis. Bahkan ada juga yang satupun tidak bisa dimakan.”

Panganan ini terbuat dari beras ketan putih ataupun ketan hitam. Untuk proses pembuatannya, terlebih dulu beras ketan itu dikukus hingga matang. Kemudian, menjalani proses peragian (membubuhi ragi) pada ketan tersebut, selanjutnya dibungkus dengan daun. “Bisa daun pisang, bisa daun waru, bisa juga daun kemiri,” sebut Neneng. Kemudian baru disimpan dua malam.

Untuk proses penyimpanannya, pertama sekali Tapee yang telah dibungkus dalam daun, dimasukkan ke dalam panci yang telah dilapisi daun pisang berukuran lebar. Kemudian panci itu dibungkus dengan kain untuk disimpan ditempat yang aman. “Jangan dibuka kalau belum sampai dua malam,” Siti Zahara (59)—ibu dari Neneng—sembari tangannya membukus panci itu dengan kain.

Saat itu, Neneng membuat Tapee sebanyak satu Bambu atau dua liter beras ketan putih. Selain beras ketan, ia juga membutuhkan ragi sebanyak satu biji. Untuk bungkusannya, Ia memilih daun pisang dan lidi yang telah dipotong seukuran tusukan gigi untuk pengikat duan tersebut. “(Daun pisang) mudah dicari,” ujarnya. Neneng menambahkan, membuat Tapee sebanyak dua liter beras ketan bisa menghasilkan paling sedikit 80 buah, bahkan hingga 100 buah Tapee. 

Proses membuat Tapee | KBA/Khalis Surry

Lawan Tapee; Leumang atau Ketupat
Setalah ada Tapee, tidak lengkap rasanya jika saat disantap tanpa lawan di dalam piring. Saaat lebaran, masyarakat Abdya memilih lawan Tapee yaitu, Leumang atau Ketupat. “Sudah menjadi makanan tradisi, kalau mau lebaran selalu buat tapee, enggak enak rasanya kalau enggak buat Leumang dan Ketupat. Tapee itu ada lawan yang selalu dimakan pada lebaran, selain Leumang, Ketupat,” sebut Neneng.

Leumang, juga merupakan salah satu kuliner khas Aceh. Biasanya sering dijumpai di wilayah Barat Selatan dan pantai Timur Aceh. Panganan ini tidak hanya terlihat saat lebaran, namun warga Aceh juga sering berbuka puasa dengan menyantap Leumang.

Leumang juga terbuat dari beras ketan, atau adonan ubi yang telah diparut dan campuri dengan santan, yang dibuhi gula secukupnya. Lalu, semua bahan tersebut dimasukkan ke dalam bambu muda yang dilapisi daun pisang di dalamnya, masyarakat Aceh akrab menyebutnya buloh. “Kemudian baru dibakar,” ujar Siti Zahara. Leumang itu dibakar dengan menggunakan bara api yang tidak terlalu besar dalam posisi berdiri. Membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk menunggu Leumang itu matang.

Saat ditanya sejarahnya, Siti Zahari mengatakan tradisi membuat Tapee dan Leumang saat menyambut lebaran telah berlangsung sejak lama. Sebelum ia lahir pun tradisi seperti ini telah berlangsung di wilayah Barat Selatan Aceh. “Sudah sejak dulu, turun-temurun. Enggak tahu dari kapan, sebelum (saya) lahir sudah ada,” ujarnya. “Ciet na sebee (Tapee), peunajoeh uroe raya (Selalu ada, makanan hari raya)” nimbrung Rohana Puteeh (80)—ibu dari Siti Zahari—saat diwawancarai KBA.

Komentar

Loading...