Taqwallah, Sekda Aceh Lulusan "S3" Pengganti Dermawan

Taqwallah, Sekda Aceh Lulusan "S3" Pengganti Dermawan
Taqwallah | Foto: Ist

Bagi yang terbiasa bermain anggaran, Taqwallah adalah "palang pintu" yang harus dijauhkan.

KBA.ONE, Banda Aceh - Siapakah Taqwallah, yang hari ini dilantik sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh?

Ada yang bilang, dia itu Sekda lulusan S3. Maksud S3 di sini adalah pernah bertugas di Seunuddon (1995), Samalanga (2000) dan Simeulue (2003) sebagai kepala Pukesmas.

Penyematan "gelar" itu menunjukkan bahwa lulusan S2 Manajemen Kesehatan Universitas Indonesia itu adalah sosok yang akrab dengan lapangan. Hingga kini, dalam posisisnya sebagai Kepala P2K APBA, sebuah unit kerja pendukung yang dibentuk tahun 2010 di periode awal Gubernur Non Aktif Irwandi Yusuf.

Sebagai orang lapangan, lelaki kelahiran Lubuk, 4 Mei 1964, itu terbilang berprestasi. Sebagai dokter Taqwallah memperoleh piagam penghargaan dokter teladan dari Menteri Kesehatan RI, tahun 1996.

Dan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang banyak mendedikasikan dirinya dibidang kerja monitoring dan evaluasi, anak dari Razali Cut Lani dan Rohani Harun ini terpilih sebagai Inovator Top 9 Inovasi Pelayanan Publik Kemenpan 2014.

Ini tentu berkat dedikasi, kerja keras dan kerja cerdasnya sebagai PNS. Tak berlebihan, apalagi pada 2010 suami dari Safrida Yuliani ini pernah mendapat penghargaan dari Badan Kepegawaian Negara sebagai PNS yang berprestasi kerja luar biasa.

Ternyata, berlatar kedokteran yang akrab dengan deteksi dini penyakit sebelum melakukan tindakan medis, memberinya inspirasi untuk menghadirkan format kendali hulu dan hilir kegiatan APBA.

Dengan dukungan format pandu pantau inilah, beragam penyakit PNS dikenali, lalu dicoba atasi, satu persatu. Sayangnya, karena kewenangannya yang terbatas, sebatas memandu, hasil panduannya masih terpulang kepada kepala dinas masing-masing.

Namun, karena hasil panduannya menjadi "mata" Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, yang didedah saban Rapat Pimpinan secara blak blakan, Taqwallah pun, mengutip testimoni Irwandi Yusuf, banyak dimusuhi dari kalangan internal, khususnya mereka yang masih bermazhab Asal Bapak Senang (ABS), lempar tanggung jawab, dan ngeboss.

Dengan memegang dukungan pimpinan, Taqwallah makin "ditakuti", apalagi setiap pesannya selalu bertembuskan ke gubernur, wakil gubernur dan kepala dinas. Jadi, wajar manakala ragam penilaian dicoba lekatkan kepada Taqwallah, termasuk sosok otoriter.

Padahal, jika direnungi, siapa lebih kejam gagal melayani rakyat dengan kerja keras bagi PNS yang memang digaji untuk berkerja.

"Musuh" bagi Taqwallah ternyata belum habis. Bagi mereka yang terbiasa bermain anggaran, Taqwallah adalah "palang pintu" yang harus dijauhkan dari pimpinan.

Maka, seperti pernah diselorohkan oleh Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, sosok yang dinilai sukses menghantar Kuntoro menyelesaikan tugasnya di BRR NAD Nias ini juga salah seorang yang kerap diminta untuk diganti.

Memang, Taqwallah dengan posisinya pemandu proses kegiatan APBA, terasa sangat misterius, karena tidak mudah untuk diajak komunikasi. Baginya, semua pekerjaannya sebagai Ketua P2K APBA sudah tersajikan di TV Monitor. Dan karena bukan sebagai kepala dinas, dirinya tidak meras perlu bermesraan dengan media.

Begitulah, pada akhirnya, sikap menjauhnya dari media, membuat segenap serangan terasa empuk mengenai dirinya, sekalipun itu bisa jadi fatal jika dikaitkan dengan posisinya sebagai salah seorang calon Sekda Aceh.

Kini, semua badai telah berlalu. Sosok yang tadinya terlihat kaku dan misterius sudah dilantik menjadi Sekda Aceh menggantikan Sekda Aceh lama, Dermawan.

Beberapa fotonya dalam pose senyum beredar, dan itu pertanda, Asisten II Sekda Aceh, dan pernah pula dipercaya sebagai Plh Sekda Aceh,  akan siap menyesuaikan diri dengan posisi barunya, sebagai Sekda Aceh terhitung sejak dilantik, sore hari ini.

Besok, pemerintah Aceh sudah memiliki Sekda definitif. Kerja-kerja berat di depan mata sudah tersaji, terutama terkait APBA 2020. Kita tunggu saja, inovasi apalagi yang akan dihadirkan oleh sosok yang pernah berkerja di unit kerja Presiden UKP4 (2012) dan Kepala Unit Percepatan dan Pengenslian Insfrastruktur ESDM (2017) ini.[]

Komentar

Loading...