Tarek Pukat, Tradisi Usang yang Masih Mentradisi

Tarek Pukat, Tradisi Usang yang Masih Mentradisi
Aktivitas tarek pukat di Kampung Jawa, Banda Aceh. | Foto: KBA.ONE, Tasya

Tradisi tarek pukat juga memiliki aturan batasan wilayah agar tidak mengganggu pelaut lain.

KBA.ONE, Banda Aceh - Tarek (tarik) pukat adalah tradisi menangkap ikan menggunakan jaring panjang hingga ratusan meter yang ditarik dengan perahu dari darat ke tengah laut. Setelah jala disauhkan, ujung tali jaring ditarik melingkar ke darat. Inilah warisan indatu orang Aceh yang terus terawat dan dilestarikan hingga kini. Kelak, tradisi ini lebih masyhur dengan sebutan “tarek pukat”.

Di pesisir Kampung Jawa Banda Aceh, tradisi ini masih dipertahankan oleh nelayan di sana. Sedikitnya tiga hingga empat kali sehari, kelompok nelayan terdiri dari 10 hingga 15 orang melakukan aktivitas tarek pukat untuk menghidupi keluarganya.

Selama ini, aktivitas tarek pukat di sana terbuka untuk umum, mengingat kawasan itu sudah menjadi mata pencaharian bagi masyarakat Aceh, khususnya di Banda Aceh dan Aceh Besar. Bahkan, lokasi ini memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat setempat maupun pendatang. Sebab, selain menyaksikan langsung kegiatan tarek pukat, warga juga bisa membeli ikan segar hasil tangkapan nelayan.

Ada yang berbeda antara nelayan di tengah laut dengan nelayan tarek pukat (pinggir laut). Bagi nelayan tarek pukat, biasanya angin kencang dan cuaca ekstrem tidak mempengaruhi kegiatan mereka karena hanya bermain di pinggiran pantai. Itu berbeda dengan nelayan biasa. “Tapi ini hari kami cuma sekali narek tadi pagi. Kebetulan tadi kan angin kencang, pukatnya sobek, jadi istirahat dulu. Mungkin besok aktivitasnya udah narek lagi,” cerita Abdullah Hazi, 47 tahun, anggota penarik pukat di Gampong (Kampung) Jawa Banda Aceh, kepada KBA.ONE, Rabu 17 Februari 2021.

Alat tarek pukat satu-satunya yang dimiliki kelompok Abdullah ini kini harus dijahit dan disambung kembali. Wajar saja, jaring pukat itu sudah termakan usia karena awal sekali dipakai sejak 2007 hingga sekarang. Dia mengaku sudah mempunyai persiapan untuk mengganti peralatan tarek pukat yang dinilai sudah tidak layak pakai lagi.

Abdullah bercerita tradisi tarek pukat tak hanya sekadar membentangkan jaring lalu ditarik bersama-sama. Tetapi kegiatan ini juga memiliki aturan seperti batasan wilayah agar tidak mengganggu aktivitas pelaut lainnya.

“Kita enggak bisa labuh terlalu luas juga, ada batasnya, jadi kita ada wilayah sendiri. Supaya tidak mengganggu aktivitas boat yang keluar masuk. Untuk labuh itu udah ada ketentuan dan aturan dari panglima laotnya yang enggak boleh kita langgar, demi menghindari sanksi-sanksi adat atau kerugian lainnya,” ungkap Abdullah.

Untuk mendapatkan ikan, dalam sehari tarek pukat di Kampung Jawa ini dilakukan tiga sampai lima kali, yaitu pukul 06.00 WIB, 10.00 WIB, 14.00 WIB, 16.00 WIB, terkadang juga di malam hari. Dalam sekali tarik, kelompok nelayan ini bisa mengumpulkan ikan sebanyak 60 kilogram (kg) bahkan lebih.

Kata Abdullah, hasil tangkapan tersebut dijual kepada masyarakat yang ingin membeli langsung di lokasi tarek pukat dengan harga bervariasi. Per tumpuk biasa mulai dari Rp20 ribu hingga 50 ribu atau lebih, sedangkan ukuran yang lebih besar dihargai mulai Rp50 ribu sampai Rp300 ribu per ekor. Semua tergantung jenis ikannya. "Tarek pukat adalah tradisi warisan nenek moyang kami yang masih bertahan sampai kini," kata Abdullah.*** | TASYA, Kontributor Banda Aceh

Komentar

Loading...