Tasya dan Sentuhan Cinta Magister Newborn Photography

Tasya dan Sentuhan Cinta Magister Newborn Photography
Tasya. | Foto: Ist

Idealnya, newborn photography dilakukan saat bayi berusia antara 5 hingga 14 hari.

MULANYA cuma hobi memotret otodidak di pojok-pojok Kota Banda Aceh, lalu nama Natasya Amelia Yosa melambung sebagai photographer bayi atau newborn photography. Dan, perempuan kelahiran Langsa, Aceh, 23 Maret 1993, ini pun tumbuh menjadi sosok profesional.

Kisah itu terbentuk ketika Natasya masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Banda Aceh. Jadwal memotretnya sibuk luar biasa di masa itu.

Tapi itu tidak lantas membuatnya ambruladul soal manajemen waktu. Ia boleh dibilang bijak mengendalikan dan mengatur waktu. Natasya pintar memisahkan antara hobi dan cita-cita. Apalagi kini, Natasya juga dosen part time di Lembaga Pendidikan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I), Politeknik Kutaraja, dan juga mengajar di Balai Latihan Kerja (BLK) Aceh.

Kepada KBA.ONE, Natasya berbagi kisah. Mengupas perjalanan sosok photographer profesional newborn photography tanpa meninggalkan cita-cita menjadi seorang dosen. "Hobi yang dibayar adalah kebahagian tiada tara, karena saya hanya meluapkan apa yang sudah menjadi kebiasaan saya dan itu dibayar," kata Natasya mengawali kisahnya.

Lima tahun silam, modal Natasya memotret cuma kamera handphone Nokia e63. Ia lalu menyasar sembarang objek foto yang bergelimpangan di sudut-sudut kota Banda Aceh, pesisir pantai, dan tempat-tempat unik yang jarang dikunjungi.

Sabtu dan Minggu adalah hari dimana ia membunuh waktu mengililingi Banda Aceh, mencari spot foto dengan tema-tema khusus. Berbekal kamera Nokia e63 itulah Natasya mampu menghasilkan foto dengan rating bintang lima. “Itu penilaian orang tua,” kata Natasya. Semangatnya bangkit. Dan ia semakin pede menggeluti hobinya sebagai seorang photographer. Intuisinya meyakinkan soal itu. 

"Karena tentang apapun yang berkaitan dan berhubungan dengan kamera, saya tidak pernah merasa lelah," tutur Natasya, sembari meneguk segelas lemon tea di salah satu kafe di Banda Aceh, Jumat, 26 Juni 2020. Di sinilah Natasya membagikan kisahnya.

Ada rasa bangga dalam benak Natasya ketika mendapat rating lima dari orang tua. Tasya, begitu dia akrab disapa, selalu menyempatkan waktu beberapa menit untuk meminta penilaian hasil photonya kepada orang tuanya. “Saya juga meminta penilaian kepada adik dan sahabat-sahabat saya. Alhamdulillah selalu mendapatkan respon positif,” kata Tasya.

Keberuntungan memang selalu berpihak kepada orang yang mau berusaha, sabar, dan berdoa. Saat beberapa bulan menjelang Ujian Akhir di SMA, ia mendapat informasi di Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) akan diadakan lomba photography dengan tema bebas.
Tasya tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dia langsung mendaftar dan mengikuti lomba, yang menurut Tasya, saat itu sangat bergengsi. Ajang itu sekaligus untuk menguji hasil foto-foto yang selama ini mendapat nilai positif dari orang terdekatnya. 

Ketika mendaftar, Tasya mulai kebingungan memikirkan tema apa yang akan diambil. Dia sempat pesimis dan ingin membatalkan mengikuti lomba. Mentalnya sempat down ketika di tempat pendaftaran dia melihat orang-orang dengan gagah menenteng tas berisikan kamera dan perlengkapannya. Ada juga kamera besar dan mahal digantung di leher. Sementara Tasya masih awam soal teknik memotret.

"Apalah daya saya yang tidak mengerti akan lensa-lensaan. Saya cuma tau ambil gambar dan menampakkan hasil gambar itu kepada orang terdekat," cerita Natasya ditemani Tiaro Harahap, asistennya.

Tapi, optimisme Tasya mendadak bangkit Ketika ia melihat iklan di TV yang memperlihatkan kamera dengan kualitas pencahayaan luar biasa. Seketika, Tasya mengatakan kepada Ibu yang duduk bersebelahan dengannya. "Buk, Tasya harus bisa beli kamera itu, pokoknya harus bisa. Tasya akan beli menggunakan uang hasil juara photography di Unsyiah nanti," tegas Tasya menancapkan kembali semangatnya yang sempat memudar.

Setelah bangkit, Tasya memutuskan memilih tema lingkungan. Alasan Tasya, lingkungan merupakan isu internasional dan bisa diterima masyarakat manapun di dunia ini. Tasya pun menyasar Tempat Pembuangan Sampah (TPA) di Gampoeng Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, untuk dijadikan objek pemotretan.

Ratusan foto dia produksi dari gunung sampah itu. Kemudian dia pilih foto sosok laki-laki yang sedang berdiri di antara kerumunan sampah yang menjulang tinggi. Kelak, foto itulah yang membawa Tasya menjadi juara harapan 1 dalam perlombaan photography di Fakultas Teknik Unsyiah. Lomba ini dibuka untuk umum. 

"Meski harapan 1, saya merasa sangat bangga, karena hanya bermodalkan Hp Nokie e63. Itulah kemudian yang membuat saya semakin percaya diri untuk memulai hobi menjadi photographer," ujar Tasya. Dia pun mendapatkan hadiah selembar seritifikat, trofi dan uang tunai Rp300 ribu. 

Nokia e63. | Foto: Ist

Beruntung, saat itu dirinya memiliki tabungan. Sehingga, harapannya untuk mendapatkan kamera yang dilihatnya di iklan TV itu bisa terwujud.
"Dengan tambahan uang orang tua Rp2 juta, dan uang dari tabungan, saya berhasil membeli kamera Canon 1100d, yang saat itu harganya Rp4 juta ke atas," ungkap Tasya yang juga pengajar ilmu Costumer Service di BLK Banda Aceh itu.

Penghasilan Pertama Rp35 Ribu

Selesai SMA, Tasya melanjutkan pendidikan Diploma III di LP3I Banda Aceh. Sejak semester II di LP3I, ia kembali fokus menjadi photographer. Dia mengumpulkan teman-temannya yang cantik untuk dijadikan model. Kemudian hasilnya diperlihatkan kepada teman-teman seangkatannya.

"Karena tertarik dengan hasil foto saya saat itu, mulailah, kawan-kawan pada minta difotoin. Kemudian, karena belum ada tarif net saat itu, kawan-kawan pada kasih acakan. Yang saya ingat, penghasilan pertama saya menjadi seorang photographer adalah Rp35 ribu," kenang Tasya.

Semester tiga, Tasya mulai nyambi bekerja di salah satu perusahaan money changer di Banda Aceh. Saat itulah, ia mulai mengatur jadwal antara kuliah, bekerja dan menyalurkan hobi menjadi photographer model dan ulang tahun. Ini adalah konsen pertama yang ditekuninya saat mulai menjadikan hobinya itu menjadi bisnis. 

Senin hingga Jumat, ia bekerja sambil kuliah. Pagi hingga sore adalah waktu untuk bekerja. Sore hingga malam adalah waktu kuliah. Sedangkan Sabtu dan Minggu, ia gunakan untuk bisnis photography model dan ulang tahun yang sudah mulai mendapatkan orderan dengan tarif Rp50 ribu.

Kemudian, setelah mengambil job photography model dan ulang tahun, pelan-pelan Tasya mulai merambah ke job photography tunangan dan pernikahan. "Sebelum saya memutuskan mengambil job tunangan dan pernikahan. Terlebih dahulu saya resign dari perusahaan money changer tempat saya bekerja selama dua tahun itu," ujar Tasya.

Setelah menyelesaikan D-III Ekonomi Manajemen di LP3I, ia melanjutkan pendidikan sarjana di Unsyiah. Saat itulah ia mencoba keberuntungan melamar sebagai dosen part time di LP3I. "Dan alhamdulillah saya lewat," tambahnya. 

Meski sudah menjadi dosen part time di LP3I, ia masih konsisten mengambil job foto tunangan dan pernikahan setiap hari Sabtu dan Minggu. Seiring berjalannya waktu, setelah menyelesaikan sarjana, keberuntungan kembali menyapanya. Tasya direkomendasi LP3I untuk mengajar di BLK dan baru-baru ini kembali direkom ke Politeknik Kutaraja.

Singkat cerita, pada 2016, ia memutuskan tidak mengambil job tunangan dan pernikahan lagi. Sebelum memutuskan job itu, ia telah memikirkan job photography lain yang lebih inovatif dan membutuhkan keahlian untuk menekuninya.

Awal 2017, ia mulai menjalankan job newborn photography. Untuk tahap percobaan, bayi yang di foto petama kali adalah anak saudara. Saat itu, katanya, pas awal-awal hanya menggunakan peralatan seadanya, seperti seprei yang ada gambar, baju mermaid, dan menggunakan bunga yang ada di rumah. "Sampai-sampai Ibu merepet," lanjutnya.

Tasya mulai fokus dan terlatih. Pesanan untuk newborn photography pun kian berdatangan. Relasi yang dibangun saat masih menekuni job-job lain sebelumnya, diakui Tasya, itu sangat berguna untuk bisnis newborn photography.

Karena bertekad menjadi seorang ahli pada bidang yang ditekuni, Tasya kemudian mengikuti les private newborn photography di Banda Aceh. Untuk mengikuti kelas itu, ia rela mengucurkan uang sebesar Rp20 juta. Ia terpaksa memilih ikut les private di Banda Aceh karena kesibukannya yang juga menjadi seorang pengajar.

"Saya tidak mempersoalkan berapapun biayanya, itu investasi untuk bisnis saya ke depannya. Semakin ahli pada suatu bidang, semakin berani orang membayar mahal hasil karya yang saya kasih," tegasnya.

Mbaktasaphotography, nama bisnis yang hingga saat ini ditekuni Tasya. Omzetnya terus bergerak naik setiap tahun. Berkisaran Rp100 ribu sampai dengan Rp150 ribu untuk tiga tema. Ia menceritakan, dalam sebulan mampu menghasilkan penghasilan mencapai Rp13 juta sampai Rp14 juta dari bisnis newborn photography itu.

Sejenak Tasya terdiam, saat KBA.ONE menanyakan kesulitan apa saja yang dialami selama memulai bisnis newborn photography? Newborn photography adalah foto dimana photographernya dihadapkan pada bayi yang masih berusia 5 hingga 14 hari. "Kesulitan newborn photography adalah saat mensosialisasikan kepada orang tua si anak dan nenek," kata Tasya.

Idealnya, tambah Tasya, newborn photography dilakukan saat bayi berusia antara 5 hingga 14 hari. Pemilihan hari ini bukannya tanpa sebab, ada alasan logis yang melatarbelakangi. Di hari kelima hingga empat belas hari bayi lahir, biasanya kegiatan menyusu sudah cukup stabil, bayi sudah merasa kenyang dan tali pusarnya sudah lepas.

Selain itu, di usia ini lah bayi banyak menghabiskan waktunya dengan tidur sehingga sangat fleksibel untuk melakukan berbagai pose.
Di samping itu, saat ini, meski sudah berpenghasilan belasan juta perbulan, Ia masih menjadikan itu sebagai hobi yang dibayar.

Pasalnya, hingga berita ini diterbitkan, Tasya masih mengajar di LP3I, di Politeknik Kutaraja, mengajar di BLK dan sedang tesis untuk gelar magisternya. Luar biasa, perempuan 27 tahun ini sudah berpenghasilan belasan juta perbulan. Bahkan saat ini ia mempekerjakan seorang mantan anak didiknya di LP3I, Tiaro Harahap, 23 tahun.

Dalam kesempatan serupa, kepada KBA.ONE, Tiaro menceritakan proses pengambilan newborn photography yang paling urgent yaitu mental, keuletan, dan memaksimalkan momen. "Butuh waktu berjam-jam untuk menghasilkan satu foto yang memuaskan pelanggan, belum lagi kalau bayinya nangis dan halangan serta rintangan lainnya," lanjut Tiaro menceritakan kesulitan selama menjadi asisten di Mbaktasaphotography.

Kunci newborn photography itu terletak pada kemampuan handle bayi. Sebelum memulai mencobanya sendiri, ada baiknya photographer mempelajari si kecil beserta kebutuhannya, teknik handling, dan teknik mengatur pose bayi dari berbagai kelas dan workshop. "Dan alhamdulillah Buk Tasya sudah mempelajari, mudah-mudahan selalu aman," harap Tiaro.

Fani Filia, 24 tahun, salah seorang pelanggan newborn photography di Mbaktasaphotography mengatakan ia telah memesan jasa newborn photography, bahkan sebelum bayi itu lahir.

Ada beberapa pose bayi yang menjadi favoritnya, namun, cukup membuat ia deg-degan. Pertama yaitu, pose tangan menopang kepala, kedua, kepala di atas lengan, duduk di atas alat peraga, pose potato shuck, dan angel foto.

"Cukup puas, setidaknya ketika si bayi sudah dewasa, ia bisa kembali melihat dirinya saat masih bayi," tutur Fani, menutup bagian kisah hidup Tasya. ***

Komentar

Loading...