Terbius “Makar” Para Bandar Dadah

Terbius “Makar” Para Bandar Dadah
ilustrasi Medcom.id (Tosiani)

Periksa kekayaan oknum aparat kita, siapapun dia; polisi, jaksa, hakim, tentara, ASN, yang rekeningnya mendadak “gendut”, bergaya hidup glamour dan flamboyan.

PETUALANGAN Zainudin, 36 tahun, warga Sawang, Aceh Utara, diduga salah satu aktor sindikat narkotika dan obat-obatan terlarang (Narkoba) antarprovinsi, berakhir di dalam bus Antar Lintas Sumatera (ALS).

Pada Selasa 9 Juli 2019, di Palembang, Sumatera Selatan, langkah sesat guru honorer ini dihentikan polisi bersama barang bukti 1 kilogram sabu-sabu atau setara Rp1 miliar lebih.

Zainudin tak berkutik. Dan "pahlawan tanpa tanda jasa" ini terancam dihukum mati di depan regu tembak.

Sosok Zainuddin bukan warga Aceh pertama bersentuhan kasus narkoba. Sebelumnya di Aceh ada Murthala, Faisal, Mahyuddin, M Abakir, Azhari, Abdul Hanas, Doyok, juga tertangkap dengan barang bukti puluhan bahkan ratusan kilogram sabu, atau setara ratusan miliar rupiah.

Mereka rata-rata divonis mati, seumur hidup, dan puluhan tahun oleh majelis hakim. Tuduhannya sebagai kurir, bandar, dan terlibat Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) hasil penjualan narkoba. Jika dibanding pendahulunya, kelakuan Zainudin belum sebanding.

Cerita Zainudin dan para “senior” nya tak bakal berakhir di sini. Kelak, dengan skenario berbeda, akan tetap ada cerita lain tentang manisnya bisnis kejahatan purba tersebut.

Ini karena di mata para pemujanya, narkoba adalah "dewa penyelamat"; penebar harapan, kegembiraan, dan kekayaan. Ancaman hukuman mati bukan alasan ngeri untuk menghentikan bisnis narkoba.

Ironinya, semakin diancam mati, mata rantai perdagangan narkoba di Aceh semakin menggila. Bisnis haram ini malah menjadi tren dalam belasan tahun belakangan. Menyihir kelompok muda yang ingin mendapatkan uang lewat jalur pintas.

Bandar narkoba terus bertumbuh dan datang silih berganti. Korban berjatuhan di antero negeri ini. 

Tak cuma di arena pesta dansa, rumah gubuk, bahkan sekolah dan pesantren pun menjadi sasaran narkoba.

Narkoba menyusup seperti angin, halus, menembus setiap celah terbuka meski selebar lubang jarum. Gerak laju bisnis narkoba seperti hantu; muncul hilang, sulit dihentikan. Ada apa ini?

Di Amerika Latin, Kolombia, kartel narkoba hidup subur lantaran terjalin simbiosis mutualisme antara kelompok mafioso dengan oknum aparat keamanan dan pemerintah. Keuntungan kartel ini begitu menggiurkan ketimbang bisnis legal  lain.

Laporan Business Insider menyebutkan, pada era 1980-an, kartel Medellin tumbuh menjadi raksasa bisnis narkotika dengan menguasai 80 persen pasar kokain di seluruh dunia—15 ton setiap hari dikirim ke Amerika Serikat.

Keuntungan diraup mencapai $420 juta per minggu atau sekitar $22 miliar per tahun. Begitu berjibunnya uang itu, sampai-sampai tiap minggu mereka membelanjakan $1.000 hanya untuk membeli gelang karet guna membungkusnya.

Selepas Escobar tewas dalam pengejaran polisi dan kartel Medellin amblas, posisi raja bisnis narkotika di dunia diambil alih kartel Cali.

Berbeda gaya kartel Medellin yang brutal dan memosisikan diri sebagai musuh pemerintah, kartel Cali justru memperkokoh jejaring bisnisnya melalui pendekatan persuasif terhadap figur-figur penting di pemerintahan, aparat, hingga para oligarki Kolombia.

Nah, di Aceh, peredaran narkoba memang belum bisa disetarakan Kolombia. Tetapi mata rantai bisnis itu hampir menyerupa kartel dunia. Bedanya, belum terorganisir secara baik dan profesional.

Untuk Anda tau saja, saat ini terdeteksi ada 129 jalur (pelabuhan) tikus sebagai pintu masuk narkoba  internasional ke Aceh. Jalur itu membentang sepanjang pesisir Selat Malaka, terutama di pantai utara dan timur Aceh.

Pemainnya rata-rata anak muda  yang belajar memasok dan mengedarkan sabu ke Aceh di luar negeri bersama jaringan internasional.

Jalur pasokan sabu yang mereka lalui selama ini juga  jalur peredaran narkoba internasional (data BNNP Aceh).

Para bandar ini sangat menguasai teknologi dan sistem penyimpanan uang yang aman. Mereka terdidik untuk bergerak cepat dan senyap. Ada indikasi, lancarnya bisnis sabu ini karena dibekingi oknum aparat. Mereka  berbagi hasil dan kemewahan.

Inilah pemuncak mengapa peredaran narkoba di negeri ini tak bisa dihentikan. Para bandar narkoba selalu memiliki hubungan “garis darah” bisnis dengan oknum aparat dari level bawah hingga jenderal.

Oknum aparat yang congok seolah membiarkan generasi kita dilumpuhkan dan dibunuh perlahan. Ini sangat berbahaya. Negara dan rakyat harus bergerak masif melakukan perang terbuka terhadap narkoba.

Pemerintah sepatutnya lebih bernyali membersihkan lingkungan dari kaki tangan bandar narkoba. Periksa kekayaan oknum aparat kita, siapapun dia; polisi, jaksa, hakim, tentara, ASN, yang rekeningnya mendadak “gendut”, bergaya hidup glamour dan flamboyan.

Negara tak boleh terjajah kejahatan extraordinary ini. Karena kuasa uang dan tipu muslihat para bandar dadah jauh lebih “makar” dari sekadar tuduhan makar para tokoh, jenderal purna tugas, dan ulama yang bikin “geli” sejarah itu. Semoga kelak Indonesia tidak menjadi The next level of Colombia! ***

Komentar

Loading...