Terinspirasi dari Teman, Antarkan Zaidil Raih Banyak Medali

Terinspirasi dari Teman, Antarkan Zaidil Raih Banyak Medali
Zaidil Al Muqqadim. | Foto: Ist

KBA.ONE, Banda Aceh - Anggar merupakan salah satu olahraga favorit di Aceh, diawali dari permaianan tradisional dengan menjadikan pedang sebagai alat permainan dan juga alat pelindung diri, hingga membuat para atletnya merasa aman dalam setiap ajang lomba anggar, "bak pendekar robinhood," ujar Zaidil Al Muqaddim.

Zaidil Al Muqqadim adalah salah seorang atlet anggar yang telah halang melintang dalam dunia permainan anggar, dengan berbagai juara yang telah diraihnya.

Atlet anggar kelahiran Banda Aceh, 27 Agustus 2001 ini, selalu mengedepankan sportifitas dalam setiap even. Setiap usai pertandingan dijadikan bahan evaluasi agar lebih baik kedepannya.

Putra kedua dari pasangan Nasri Mualem dan Nila Marlinda ini jika dilihat dari kehidupan ekonomi, Zaidil tergolong cukup sehingga aktivitas latihan tidak terkendala.

Kepada KBA.ONE, Selasa 15 Desember 2020, ia mengaku memulai debutnya di bidang olahraga anggar, ketika seorang guru atau biasa disebut pelatih menyarankannya ikut olahraga anggar yang kini menjadi profesi utamanya. Pelatih yang melihat kemampuan Zaidil ketika latihan, kemudian merekrutnya untuk dilatih menjadi atlet anggar.

Bukan hanya saran dari pelatihnya saja, ia juga terinspirasi mengikuti olahraga anggar ini dari temannya yang sering mendapatkan juara. Sehingga membuatnya berkeinginan juga untuk mendapatkan juara, dan bahkan terus berlanjut sampai sekarang.

Ketika masih sekolah, Zaidil berlatih anggar hanya 3 jam sehari. Sekarang, setelah lulus sekolah menengah atas (SMA) ia tetap mengikuti latihan anggar, hanya saja latihannya itu bisa seharian penuh. Latihan anggar yang diikuti ini dimulai dari Senin sampai Sabtu. Ia hanya memiliki satu hari untuk berlibur dari latihan anggar.

Setelah mendapatkan izin dan dukungan dari kedua orangtuanya, ia berlatih dengan giat dan disiplin. Berkat keseriusannya itu, hingga akhirnya memberikan hasil yang manis. Terbukti, saat 2014 dan masih berusia 13 tahun, Zaidil mampu mendapatkan kejuaran di tingkat nasional antar pelajar di Palembang dan Kalimantan Timur.

Sejumlah medali dan piagam penghargaan yang terlah diraih Zaidil. | Foto: Ist

Tahun berikutnya, nama Zaidil semakin cemerlang saat dia berhasil mendapatkan mendali emas untuk pertama kalinya di Solo. Perlombaan yang diikutinya itu merupakan lomba kejuaran tingkat nasional antar pelajar.

Dari tahun 2014 sampai 2019, Zaidil terus mendapatkan kejuaran di setiap tahunnya. Di bulan Desember 2020, ia juga mengikuti lomba kejuaran Daerah (Kejurda) di Gor Koni Aceh. Perlombaan itu tetap diadakan meski sedang pandemi Covid-19, tetapi tidak boleh ramai dan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Laki-laki yang saat ini berdomisili di Pidie tersebut sudah banyak meraih mendali, yakni lima mendali emas, empat perak, dan 11 perunggu. Dari semua medali yang didapatkannya, dua diantaranya dipersembahkan untuk kampus Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Bina Bangsa Getsempena (BBG) Banda Aceh di tahun 2019, yaitu satu perak dan perunggu.

Dengan prestasi telah didapatkannya, hingga saat ini ia merasa sangat puas, bangga, dan bersyukur atas apa yang telah dicapai. Meskipun begitu, ia tetap terus latihan demi satu target yang belum didapatkan. "Aku tu pengen bawa nama Indonesia ke kancah internasional," kata Zaidil dengan penuh semangat.

Target ini, kata Zaidil, semata-mata untuk membuat orang tua bangga dan bisa membawa nama Indonesia, khususnya Aceh ke tingkat internasional. Baginya, jika ingin menjadi atlet jangan setengah-setengah. "Harus giat berlatih dan tetap disiplin."*** | Fhona, Kontributor Banda Aceh

Komentar

Loading...