Teror Bom Makassar, 2 Dekade Api Dendam Tak Pernah Padam

Teror Bom Makassar, 2 Dekade Api Dendam Tak Pernah Padam
Polisi menyisir TKP ledakan di Gereja Katedral Makassar, Minggu 28 Maret 2021. Kasus peledakan terus terjadi oleh pihak yang terkait dengan teroris yang ditindak sebelumnya. | Foto: AFP/IRVAN ABDULLAH.

Perlu ada evaluasi penanganan terorisme oleh Pemerintah. Dalam sepuluh tahun terakhir, aksi terorisme di Indonesia bermotif dendam. | Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya

KBA.ONE, Jakarta -- Aksi bom bunuh diri terjadi di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu 28 Maret 2021, dinilai memiliki motif dendam. Penindakan aparat yang diduga tak sesuai prosedur dan kegagalan program deradikalisasi pun disorot.

Sebelumnya, ledakan bom bunuh diri terjadi di sekitar Gereja Katolik Katedral Makassar, Minggu 28 Maret 2021, pukul 10.28 WITA, di saat jemaat baru saja selesai melaksanakan Misa Minggu Palma.

Menurut polisi, terduga pelaku terdiri atas dua orang yang merupakan suami istri yang berboncengan sepeda motor dan ingin menerobos masuk ke dalam gereja.

Akibat insiden itu, 20 orang mengalami luka ringan hingga berat, termasuk petugas gereja dan jemaat.

Teror bom ini menambah panjang peristiwa yang terjadi di Indonesia beberapa tahun belakangan. Jika merujuk data yang dirilis Public Virtue Research Institute, dalam dua dekade terakhir, ada sembilan kasus ledakan bom yang terjadi sejak 2000.

Rinciannya, yakni Bom Bali I (2002), Bom JW Marriot (2003), Bom Bali II (2005), Bom Ritz Carlton (2009), Bom Masjid Az-Dzikra Cirebon (2011), Bom Sarinah (2016), Bom Mapolresta Solo (2016), Bom Kampung Melayu (2017), serta Bom Surabaya dan Sidoarjo (2018).

Di luar itu, ada bom Konsulat Jenderal Filipina di Indonesia, Menteng, Jakarta, pada 1 Agustus 2000; bom Bursa Efek Jakarta 13 September 2000; hingga bom malam Natal, 24 Desember 2000.

Komentar

Loading...