Teror Militer Myanmar, Umbar Senjata hingga Tabrak Demonstran

Teror Militer Myanmar, Umbar Senjata hingga Tabrak Demonstran
Unjuk rasa anti-kudeta militer Myanmar. | Foto: Cnnindonesia.com

KBA.ONE, Jakarta - Setidaknya tiga orang tewas dalam aksi protes anti-kudeta di beberapa kota di Myanmar, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, Senin 8 Maret 2021.

Militer Myanmar terus meneror demonstran anti-kudeta dengan kekuatan mematikan di seluruh negeri, menewaskan sedikitnya tiga pengunjuk rasa dan melukai banyak warga sipil lainnya.

Di kota Pyapon, wilayah Ayeyarweday seorang bernama Thiha Oo, 30 tahun, tewas dalam tindakan keras oleh pasukan keamanan. Enam lainnya terluka, dua orang luka parah, selama serangan itu berlangsung, menurut penduduk.

Thiha Oo ditembak di dada bagian bawahnya. "Kami tidak tahu apakah itu peluru tajam atau peluru karet," kata seorang penduduk kepada Myanmar Now.

Dia meninggal sebelum tiba di klinik.

Sekitar 100 pengunjuk rasa anti-kudeta, termasuk guru sekolah dan remaja, ditangkap selama tindakan keras tersebut.

Di kota lain, di Myitkyina, Kachin dua orang ditembak mati oleh pasukan keamanan, kata penduduk dan seorang penyelenggara protes.

Kedua korban telah diidentifikasi sebagai Ko Ko Lay, 63 tahun, yang juga dikenal sebagai Cho Tha, dan Zin Min Htet, 23 tahun. Mereka berdua ditembak di bagian kepala.

Pasukan keamanan juga menggunakan granat kejut dan gas air mata saat menyerang pengunjuk rasa di depan gereja Katolik Saint Francis Xavier.

"Mereka tewas di tempat kejadian di depan gereja. Kedua kepala mereka terkena peluru," kata pimpinan demonstran kepada Myanmar Now.

Pemakaman Ko Ko Lay dilaksanakan sesuai dengan tradisi Islam, sementara jenazah Zin Min Htet dibawa ke rumahnya, kata Lamai Gum Ja dari Peace-talk Creation Group, sebuah organisasi relawan lokal.

Sedikitnya sepuluh orang ditangkap dan lima lainnya luka parah dalam serangan itu.

Di Mandalay, sebuah truk pasukan keamanan menabrak pengunjuk rasa yang melarikan diri dengan sepeda motor di dekat Jalan 57, Mandalay pada Senin pagi, sedikitnya 6 orang terluka.

Menurut tim penyelamat relawan, dua dari mereka Mya Thway Chel, 22 tahun, dan Han Lin Aung, 15 tahun, berada dalam kondisi kritis.

Di kota lain Myanmar, Htilin, Magway, pada Minggu malam satu orang tewas ditembak mati oleh pasukan keamanan. Dia adalah Aung Myat Lin, 23 tahun.

"Mereka menembakkan dua peluru terlebih dahulu dan kemudian melemparkan granat kejut. Dan kemudian mereka mulai menembak. Anak laki-laki itu ditembak. Peluru menembus dadanya. Dia meninggal di dekat kantor polisi," kata penduduk Htilin.

Aung Myat Lin tertembak di dada dan tewas di tempat kejadian.

Sekelompok penduduk Htilin, termasuk Aung Myat Lin, berkumpul di depan kantor polisi setempat pada Minggu malam menuntut pembebasan seorang penyelenggara protes sebelum pasukan keamanan menembakkan peluru tajam ke kerumunan.

Enam orang lainnya terluka dalam serangan itu. Tiga di antaranya ditembak dengan peluru tajam dan tiga dengan peluru karet.

Kematian baru-baru ini menambah jumlah korban yang tewas selama aksi kudeta berlangsung. PBB mencatat lebih dari 50 orang tewas oleh polisi dan tentara sejauh ini, saat melawan rezim militer.

Pekan lalu, PBB mengatakan jumlah kematian sebenarnya kemungkinan besar jauh lebih tinggi daripada jumlah korban yang dapat dikonfirmasi.

Laporan Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik pada hari Minggu mengatakan hampir 1.800 orang telah ditangkap, didakwa atau dijatuhi hukuman setelah kudeta 1 Februari.***

Komentar

Loading...