Tersengat Bayi Lobster

Tersengat Bayi Lobster
Ilustrasi | pixabay

Sebelum keran ekspor dibuka, benur lobster mutiara dihargai Rp30 ribu hingga Rp60 ribu per ekor. Kini, nelayan cuma kebagian Rp7 ribu hingga Rp15 ribu per ekor.

EDHY PRABOWO, Menteri Kelautan dan Perikanan, adalah menteri pertama di era Pemerintahan Presiden Jokowi yang dicokok Komisi Pemberatansan Korupsi (KPK), Selasa 24 November 2020. Edhy dan beberapa koleganya dituduh menerima suap dari perusahaan kargo yang mendapat perlakuan khusus di bisnis ekspor benur.

Dalam operasi tangkap tangan (OTT), KPK mencium jejak duit Rp750 juta singgah di sebuah rekening yang diduga dijadikan tempat menampung dana gelap. Syahdan, ketika di Honolulu Amerika Serikat, duit itu dipakai Edhy Prabowo dan Iis Rosyati Dewi, istrinya, buat "jajan" jam tangan Rolex, tas branded Tumi dan LV, serta baju Old Navy.

Gara-gara itu Edhy harus meringkuk di jeruji tahanan KPK. Edhy gagal mengendalikan libido liarnya di hadapan benur lobster yang seksi dan kaya gizi itu. Berahi Edhy memuncak hingga titik klimaks ketika dia buru-buru membuka keran ekspor benur yang sebelumnya dikunci rapat menteri Susi.

Menteri Susi punya alasan rasional dan manusiawi. Dia ingin meninggalkan legacy bagi nelayan lobster dan tidak mau melihat mereka mati kelaparan di lumbung benur. Karena di pasar, lobster mutiara ukuran satu ekor seberat 2 kg, harga perkilogramnya bisa mencapai Rp5 juta lebih. Sementara jika diekspor ke Vietnam, bibit lobster mutiara cuma dibanderol Rp139.000,- perekor.

Mengapa Edhy tak bersabar sedikit menunggu lobster-lobster itu besar dan dewasa? Hingga harganya berpuluh-puluh kali lipat?

Di jalur padat ranjau ekspor benur, nampaknya Edhy memilih nekad menerabas. Mungkin bekas atlet silat nasional ini melihat ada ceruk bisnis lewat jendela samping. Dari izin-izin, kebijakan dan commitment fee, Edhy bisa manangkul duit miliaran rupiah.

Konon, bisnis basah ini dikuasai pengusaha-pengusaha kartel kolega Edhy dari lintas partai nasional yang sangat kompromis. Edhy semakin pede dan silau terpantul kemilau harta.

Padahal, Edhy mafhum dengan cerita lobser. Jika bibitnya diekspor, lobster akan bernasib serupa dengan balada beras dan bawang putih. Petani bakal kebagian harga murah dan ketahanan pangan ambruk.

Contohnya, sebelum kebijakan ekspor benur lobster, nelayan bisa menjual benur lobster mutiara dengan harga Rp30 ribu hingga Rp60 ribu per ekor. Giliran keran ekspor dibuka, petani lobster cuma kebagian harga Rp7 ribu hingga Rp15 ribu per ekor.

Mestinya Edhy dan jajaran KKP lebih memperjuangkan nasib nelayan lobster sesuai sumpah jabatan yang diembannya, daripada bersekutu dengan para kartel nakal. Setidaknya, jika Edhy tulus membela hak-hak nelayan, bayi-bayi lobster itu tak bakal tega menyengat karier politik Edhy dan istri yang doyan "jajanan" barang branded.***

Komentar

Loading...