TIK sebagai Instrumen Kemajuan Pendidikan

TIK sebagai Instrumen Kemajuan Pendidikan
Suasana Rakornis TIK | Foto: Tekkomdik

Pendidikan yang maju dan modern tidak bisa dilepaskan dari pengaruh TIK, kata Drs. Syarbaini, M.Si.

PADA era modern, pengaruh teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tidak hanya terasa dalam transaksi bisnis atau hubungan orang per orang. Tapi juga dalam pendidikan. Bahkan kemajuan pendidikan suatu daerah sangat dipengaruhi oleh sejauh mana sumber daya manusia (SDM) daerah tersebut menguasai pemanfaatan TIK untuk mengembangkan pendidikannya.

Selain kurikulum dan rasio guru, TIK menjadi instrumen kemajuan penting. Menyadari posisi penting peran TIK, Dinas Pendidikan Aceh menaruh perhatian yang serius terhadap upaya peningkatan penguasaan TIK di kalangan pendidik dan tenaga kependidikan. Itu sebabnya, setiap tahun, melalui UPTD Balai Teknologi Informasi dan Komunikasi (Tekkomdik) dilaksanakan sejumlah program yang bertujuan memberi penguataan terhadap penguasaan TIK bagi guru.

Untuk tahun 2018, pekan lalu, Balai Tekkomdik melaksanakan rapat koordinasi teknis (Rakornis) TIK dengan seluruh kepala SMA/SMK se-Aceh. Agenda tahunan yang secara resmi dibuka oleh Drs. Syarbaini, M.Si, mewakili Kepala Dinas Pendidikan Aceh ini bertujuan menginventarisir permasalahan dan menyusun rekomendasi dalam rangka meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan TIK dalam proses pembalajaran di sekolah. Setidaknya, terdapat tiga hal yang menjadi rekomendasi Rakornis, meliputi penyusunan bahan ajar berbasis TIK, program penerimaan peserta didik baru (PPDB) secara online, dan pelaksanaan Kuis KiHajar.

 Visi Aceh Carong

Pada kesempatan terpisah, Syarbaini menjelaskan, bahwa penyelenggaraan pendidikan yang maju berbasis TIK merupakan konsep yang selaras dengan kebijakan Pemerintah Aceh yang dikenal dengan Aceh Carong (Aceh pintar). Karena itu, berbagai pilihan kebijakan dan strategi yang diambil oleh Dinas Pendidikan bermuara pada bagaimana mengantarkan pendidikan Aceh menuju kepada sebuah kondisi yang maju dan modern.

Dikatakan, Balai Tekkomdik Aceh menjadi salah satu bagian dari instrumen mewujudkan Aceh Carong tersebut. Karena, pendidikan yang maju dan modern tidak bisa dilepaskan dari pengaruh TIK. “Seperti kita ketahui, teknologi telah menjadi katalisator kemajuan dalam berbagai peradaban manusia, termasuk pembanguna sektor pendidikan,” tutur mantan Kepala Pusat Pengembangan Mutu Guru (PPMG) Meulaboh tersebut.

Dalam konteks tugas tersebut, ia mengaku telah merancang sejumlah agenda kegiatan yang secara garis besar dibedakan dalam dua program prioritas yaitu program penguatan Proses Belajar Mengajar (PBM) dan penguatan birokrasi pendidikan berbasis elektronik atau online.

Di era teknologi yang semakin pesat, katanya, proses pembelajaran dan layanan birokrasi di sekolah pun harus berlangsung dengan dukungan teknologi. “Adalah hal yang kontradiktif kalau pada saat anak-anak sudah sangat mahir teknologi, tapi guru masih mengajar dengan metode lama, seperti pola ceramah atau dikte. Ini tidak selaras dengan konsep Aceh Carong,” katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, Balai Tekkomdik menyusun konsep strategis mewujudkan Aceh Carong dengan memberi penguatan penguasaan TIK bagi guru dan tenaga kependidikan di sekolah. “Ini kami lakukan melalui pembekalan keterampilan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi dalam berbagai bentuk kegiatan,” ucap Syarbaini.

Balai Tekkomdik tidak sendiri. Dalam merancang dan melaksanakan berbagai program penguatan TIK, pihaknya disupport oleh Pustekkom Kemdikbud dan tiga unit pelaksana teknis di bawahnya, yaitu UPT Multimedia Semarang, UPT Pengembangan Media TV Surabaya, dan UPT Media Radio Yogyakarta.

Selain itu, Balai Tekkomdik Aceh juga menggalang kerja sama dengan seluruh UPTD Balai Tekkomdik seluruh Indonesia. “Sejak tahun lalu, Balai Tekkomdik Aceh sudah menggalang kerja sama program UPT BIT LIPI di Bandung. Program kerja sama serupa akan terus dikembangkan, termasuk dengan lembaga yang bergerak dalam bidang tugas yang sama di Aceh seperti  Jurusan TIK pada UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh,” kata Syarbaini.

Dia menambahkan, bahwa pemanfaatan TIK adalah persoalan global. Pemanfaatan teknologi untuk pendidikan harus dilakukan. Penggunaan teknologi harus dialihkan untuk kemajuan pendidikan Aceh. “Kita harus mengikuti perkembangan teknologi secara positif sebagai upaya peningkatan kompetensi tenaga pendidik,” katanya.

Dia melanjutkan, bahwa anak yang hidup di era teknologi modern dewasa ini memiliki daya nalar sesuai dengan zamannya. Mereka akrab dengan gadget. Ini adalah sebuah perubahan yang harus disadari oleh lingkungan sekolah. Oleh karena itu, proses pembelajaran di kelas pun harus mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Syarbaini kemudian mencontohkan bagaimana seorang guru harus menjelaskan materi kepada peserta didik agar para siswa merasa mudah memahami suatu pokok bahasan. Ini bisa dilakukan dengan menggunakan media pembelajaran berbasis TIK, dengan menggunakan animasi, misalnya.”

Dia menjelaskan bahwa inti dari program penguatan Proses Belajar Mengajar (PBM) lewat kompetensi TIK bagi tenaga pendidik, tentu akan memberi manfaat bagi peserta didik atau siswa lewat kemudahan memahami materi pembelajaran di sekolah.

Selain pemanfaatan TIK untuk menunjang kemajuan proses belajar mengajar, menurut Syarbaini, UPTD Balai Tekkomdik yang dipimpinnya juga juga mempunyai agenda penguatan birokrasi pendidikan berbasis elektronik (online) atau e-Office.

Sebagaimana penegasan Permendagri, bahwa UPTD merupakan lembaga teknis yang melaksanakan tugas spesifik di luar tugas unit kerja lainnya yang ada di Dinas Pendidikan, maka implimentasi e-office ini menjadi tugas yang harus dijalankan oleh Balai Tekkomdik,” ujarnya. ***

Komentar

Loading...