TMMD Aceh Tamiang, Warisan Keringat Para Penjaga “Jiwa Korsa”

TMMD Aceh Tamiang, Warisan Keringat Para Penjaga “Jiwa Korsa”
Pembukaan jalan penghubung di Kampung Rimba Sawang oleh Satgas TMMD Kodim Aceh Tamiang. | KBA.ONE; Sutrisno.

Kini, setelah kerja keras satgas TMMD Reguler 108 Kodim 0117 Aceh Tamiang, Kampung Rimba Sawang tak terisolir lagi. Akses jalan sudah bisa dilalui kendaraan roda empat.

KBA.ONE, Aceh Tamiang – Empat puluh tahun bukanlah masa yang pendek. Apalagi selama 40 tahun itu, sejak 1980, penduduk kampung di Rimba Sawang, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, menjadi potret desa tertinggal dengan infrastruktur paling buruk. Tentu bukan perkara gampang menjalani hidup melarat hampir setengah abad. Tapi, itulah secuil balada dari sebuah desa bernama Rimba Sawang!

Kampung Rimba Sawang boleh dibilang kampung pelosok dan terisolir. Ekonomi penduduknya tersekat; kurang mapan. Dari Karang Baru, jantung ibu kota Aceh Tamiang, kampung ini lumayan jauh. Berjarak 32 kilometer ke arah timur Provinsi Aceh.

Sekitar 70 persen penduduk Rimba Sawang hidupnya bergantung kepada sektor pertanian dan perkebunan. Tak heran jika di kampung yang dihuni 442 kepala keluarga, atau 1.902 jiwa ini, sektor perdagangan tidak tumbuh dengan baik. Begitu juga sektor pertanian dan perkebunan.

Padahal, Kampung Rimba Sawang telah ada sejak 1830 dengan empat dusun yang mengitari, yaitu Dusun Damai, Dusun Harapan, Dusun Perkebunan, dan Dusun Tanjung Periuk.

Pohon yang diyakini bagian dari jejak sejarah Kampung Rimba Sawang. | KBA,ONE; SUTRISNO.

Nama Rimba Sawang, ceritanya, bermula dari nama sepasang suami istri asal Blangkejeren, Gayo Lues, yaitu Sawang dan Dayang. Merekalah orang yang pertama kali membuka lahan di kampung itu. Konon, di ujung cerita, keduanya raib “ditelan” hutan belantara. Jasad keduanya tak terungkap, menyisakan misteri.

Cerita raibnya kedua pasangan itu, kelak, diyakini secara turun menurun oleh warga setempat. Apalagi ada kemunculan sebatang pohon besar menjulang tinggi berumur ratusan tahun, yang jika dipandang lama akan terlihat mirip seperti wajah manusia. Permukaan wajahnya timbul di batang pohon itu. Malah, oleh sebagian warga, pohon itu dianggap sebagai jelmaan pasangan Sawang dan Dayang.

“Dari cerita tersebut, kemudian kampung itu diberi nama Rimba Sawang," kata Said Razali, Datok Penghulu (sebutan kepala desa di Aceh Tamiang) Rimba Sawang, Kecamatan Tenggulun, kepada KBA.ONE

Said Razali mengaku kehidupan warganya biasa-biasa saja, jauh dari kemapanan. Pertumbuhan ekonomi juga lambat dan megap-megap. Keterbatasan infrastruktur jalan adalah alasan utama penyebab kemunduran Kampung Rimba Sawang. Sehingga hasil-hasil pertanian dan perkebunan kalah saing di pasar kabupaten gara-gara akses jalan yang tak memadai.

Padahal, di Rimba Sawang ada sekitar 65 hektar ketersediaan lahan pertanian dan perkebunan warga yang terdiri dari 30 hektar lahan perkebunan karet, 20 hektar lahan perkebunan sawit, dan 15 hektar lahan pertanian. Ini pencarian utama warga untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. "Sekitar 15 hektar lahan persawahan warga di kampung ini ditanami padi," kata Said.

Hasil perkebunan sawit milik petani di Rimba Sawang. Sebelum dibangun dan diperbaiki akses jalan oleh tim Satgas TMMD, hasil pertanian dan perkebunan sulit dipasarkan. | KBA.ONE: Sutrisno.

Sayang, hasil panen perkebunan dan pertanian masyarakat di Rimba Sawang sulit dibawa keluar dan dijual ke pusat ibu kota  Kabupaten Aceh Tamiang. Infrastruktur jalan terlalu buruk sehingga petani harus menempuh jalan penuh lubang, melintasi semak belukar, ditambah tebing jalan sering longsor, semakin melengkapi penderitaan warga di kampung itu.

Bila musim penghujan, kondisi jalan bagaikan kubangan kerbau. Sebaliknya, jika kemarau tiba, jalanan penuh debu dan berlubang. Warga serba salah. Ketika menjual hasil panen saat musim penghujan, mereka terpaksa melansir menggunakan kendaraan roda dua menuju perbatasan Langkat – Tamiang.

Lintasan ini adalah jalan alternatif. Jaraknya lebih dekat menuju perbatasan Kampung Rimba Sawang ketimbang harus menempuh jarak menuju Kampung Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang.

"Tapi, bila musim kemarau, petani harus lewat jalan perbatasan Langkat – Tamiang. Ada agen karet dan sawit masuk ke kampung itu. Mereka menggunakan kendaraan roda empat. Begitulah kondisi jalan Kampung Rimba Sawang tembus ke Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, selama ini," terang Datok Penghulu Rimbang Sawang itu.

Kini, memasuki penghunjung 2020, secercah asa muncul di Kampung Rimba Sawang. Guratan dari ketidakberdayaan dan penderitaan yang membelit ekonomi warga puluhan tahun lamanya, bakal menjadi bagian dari cerita sejarah. Begitu juga cerita jalanan penuh lubang, terjal dan rawan longsor. Semua akan terkubur bersama kisah-kisah lama yang memilukan. 

Mengapa? Ya, karena program Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) Reguler 108 Komando Distrik Militer (Kodim) 0117 Aceh Tamiang sudah masuk ke kampung Rimba Sawang. TMMD menargetkan membuka akses jalan baru sepanjang 3,1 kilometer dengan lebar 6 meter. Jalan ini menghubungkan antara Kampung Rimba Sawang ke Dusun Sejahtera, Kampung Seumadam.

Tiga alat berat telah dipersiapkan dan dipeseujuk salah seorang pemuka agama pada pembukaan TMMD Reguler ke 108 Komando Distrik Militer (Kodim) 0117 Aceh Tamiang di Dusun Sejahtera, Kampung Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, Selasa, 30 Juni 2020 lalu.

Akses jalan baru sepanjang 3100 meter x 6 meter ini merupakan kesepakatan para camat se- Aceh Tamiang pada saat digelarnya Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) Kabupaten pada 2019 lalu. Sebab, program TMMD lebih mengutamakan hal terpenting dan urgen untuk kepentingan masyarakat.

Sejak awal, persiapan matang pelaksanaan program TMMD Reguler ke 108 Kodim 0117 Aceh Tamiang terus dipacu oleh personel TNI/Polri dan masyarakat. Tiga alat berat  dan fasilitas pendukung pelaksanaan pembuatan jalan, langsung dikerahkan menuju lokasi yang ditarget. Mesin-mesin pembangunan itu “meraung” membuka dan meratakan akses jalan rusak untuk disulap menjadi lebih bagus.

Satgas TMMD Aceh Tamiang sedang meratakan jalan berkubang menuju Kampung Rimba Sawang. | KBA.ONE: Sutrisno.

Peribahasa "berakit - rakit kehulu, berenang ke tepian, bersakit – sakit dahulu, bersenang kemudian", agaknya menjadi modal penyemangat para personel TNI/Polri dan masyarakat walau harus bermandi peluh. Para motor pendobrak pembangunan desa-desa terisolir di pelosok nusantara ini tampak ikhlas, tak pernah mengeluh dan bersemangat sepanjang hari.

Target program TMMD adalah melepaskan Rimba Sawang dari keterisoliran dan keterpurukan ekonomi. Pembentukan badan jalan sepanjang 3,1 kilometer itu dimulai dari Dusun Sejahtera, Kampong Seumadam, hingga tembus ke Kampung Rimba Sawang.

Jalan di dua kampung itu awalnya hanya jalan setapak, cuma bisa dilalui pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Kini, sudah dilebarkan menjadi 6 meter. Begitu tuntas, akses jalan ini bisa dilalui kendaraan roda empat.

Tidak cuma itu,  setelah TMMD dan masyarakat melakukan pembentukan jalan, pelaksanaan dilanjutkan dengan melakukan penimbunan (pengerasan) jalan sepanjang 3,1 kilometer dari Dusun Sejahtera, Kampung Seumadam menuju Kampung Rimba Sawang.

Kemudian, membagun infrastruktur stabilisasi lereng bukit sepanjang 41 meter dan tinggi 7 meter untuk memperkuat badan jalan yang rawan longsor. Kesemuanya itu bersumber dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tamiang  tahun 2020.

"Alhamdulillah, semua telah rampung dikerjakan. Dan kini masyarakat di dua kampung itu sudah bisa merasakan akses jalan baru yang dibangun lewat program TMMD," kata Dansatgas TMMD Aceh Tamiang Letkol Inf Deki Rayusyah Putra, kepada KBA.ONE.

Alat berat satgas TMMD sedang memperbaiki jalan menuju kawasan perkebunan warga Kampung Rimba Sawang. | KBA.ONE: Sutrisno.

Letkol Inf Deki Rayusyah Putra adalah Komandan Distrik Militer (Dandim) 0117 Aceh Tamiang. Dia menjelaskan program TMMD di Aceh Tamiang ditujukan untuk daerah terpencil dan kurang sejahtera. Tujuannya agar sektor pertanian dan perkebunan tumbuh membaik guna mendongkrak perekonomian warga setempat. Tentu setelah akses jalan baru itu dibangun secara kuantitas dan kualitas.

Kegiatan TMMD Reguler 108 Kodim 0117/Aceh Tamiang itu dilaksanakan mulai 30 Juni hingga 29 Juli 2020, meliputi program sasaran fisik dan non fisik, yakni pengerasan jalan sepanjang 3.100 Meter x 6 meter. Pembangunan stabilisasi lereng bukit sepanjang 41 meter x 7 meter, perawatan jembatan 3 unit, pengrehaban Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) 2 unit, pembangunan orong-gorong  4 unit, serta pengecetan mushala atau masjid.

TMMD juga menggelar kegiatan non fisik yaitu meliputi kegiatan Penyuluhan Keluarga Berencana dan Kesehatan (KB- Kes), Penyuluhan Wawasan Kebangsaan, Penyuluhan Narkoba dan Penyuluhan Pertanian.

"Ke semua program TMMD itu telah rampung dikerjakan dan dilaksanakan sesuai waktu yang ditentukan. Suksesnya program itu tidak terlepas peran serta dari 150 orang Satgas TMMD. Di antaranya 135 personel dari TNI AD, 10 personel dari Polres Aceh Tamiang, 5 orang dari Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, dan 30 orang dari masyarakat setempat," ungkap Dandim. 

Jalan menuju Kampung Rimba Sawang sudah bisa dilalui kendaraan roda empat. | KBA.ONE: Sutrisno

Tim Wasev Pusterad Tinjau TMMD

Tim Pengawasan dan Evaluasi pusat Teritorial Angkatan Darat Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (WASEV PUSTERAD Mabes TNI) meninjau langsung pelaksanaan TMMD Reguler ke 108 Kodim 0117 Aceh Tamiang di Kampung Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, hingga ke Kampung Rimba Sawang, Kecamatan Tamiang Hulu, pada Kamis 23 Juli 2020.

Tim yang diketuai BrigjenTNI Wahyu Sapto Nugroho ini didampingi Dandim 0117 Aceh Tamiang, Letkol Inf Deki Rayusyah Putra, memperlihatkan denah pencapaian kegiatan TMMD yang telah dilaksanakan.

Setelah itu, tim dan rombongan meninjau hasil pelaksanaan TMMD yaitu pengecatan dua unit masjid, masing-masing di Kampung Seumadam dan Kampung Rimba Sawang. 

Ketua tim WASEV PUSTERAD Brigjen TNI Wahyu Sapto Nugroho, didampingi Letkol.Inf. Deki Rayusyah Putra dan Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang, melihat dena pencapaian kegiatan TMMD yang telah dilaksanakan. | KBA.ONE: Sutrisno.

Tim ini melanjutkan peninjauan ke lokasi kegiatan fisik program TMMD dengan mengendarai sepeda motor. Di antaranya meninjau pelaksanaan pengerasan jalan sepanjang 3.100 meter dengan lebar 6 meter dan menambah panjang jalan lebih kurang 900 meter dari Kampung Seumadam tembus ke Kampung Rimba Sawang 

Kemudian tim melanjutkan peninjauan loksi kegiatan pembuatan stabilisasi lereng buket sepanjang 41 meter dengan tinggi 7 meter, yang beada di Dusun Sejahtera, Kampung Seumadam.

Tim WASEV juga melihat hasil pengerjaan gorong-gorong di empat titik, yakni satu titik di Dusun Sejahtera, Kampung Seumadam dan tiga titik di Dusun Tanjung Periuk, Kampung Rimba Sawang. Meninjau pembangunan dua Rumah Tidak Layak Huni(RTLH), masing-masing milik Misnan, 37 tahun, warga Dusun Sejahtera, Kampung Seumadam, dan rumah milik Buhari, 48 tahun, warga Tanjung Periuk, Kampung Rimba Sawang.

Di lokasi pembangunan RLTH milik Buhari, ketua tim Brigjen TNI Wahyu Sapto Nugroho didampingi Letkol Inf Deki Rayusyah Putra dan Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang, Fadlon, melakukan dialog dengan Buhari,  didampingi anak dan istrinya. “Kami ucapkan terima kasih tak terhingga kepada tim TMMD Reguler ke 108 Dandim 0117 Aceh Tamiang yang telah memberikan bantuan rehab rumah milik kami,” kata Buhari dengan nada haru.

Satgas TMMD sedang mengerjakan pembangunan dua Rumah Tidak Layak Huni(RTLH) milik warga Kampung Rimba Sawang. | KBA.ONE: Sutrisno.

Brigjen TNI Wahyu Sapto Nugroho dan tim mengaku puas dengan hasil kerja satgas TMND Reguler ke 108 Dandim 0117 Aceh Tamiang karena target yang dilakukan telah mencapai hasil yang diharapkan.

"Program TMMD TNI AD ini bertujuan untuk membantu percepatan pembangunan daerah, khususnya daerah tertinggal. Selain itu, untuk memperat hubungan kerjasama antara TNI dan Masyarakat," kata Brigjen TNI Wahyu Sapto Nugroho, kepada sejumlah wartawan, di lokasi pelaksanaan TMMD.

Alhafiz Zulamri, warga Dusun Damai Desa Rimba Sawang Kecamatan Tenggulun, Aceh Tamiang, mengungkapkan perasaaan bahagia hatinya berkat program TMMD.  Kata Alhafiz, masyarakat kini merasakan manfaatnya atas akselerasi pembangunan itu. “Kita berharap kesejahteraan masyarakat di daerah tertinggal akan terwujud seperti yang diharapkan,” aku Alhafiz.

Ia menjelaskan sebelum akses jalan baru dibangun TMMD untuk menghubungkan kedua kampung itu, kondisi jalan sangat berbukit, curam dan terjal. Jarak tempuh yang dirasakan penduduk Rimba Sawang menuju Kampung Seumadan sejauh sekitar 8 Kilometer,  kini lewat 'tangan dingin' satgas TMMD, sudah  bisa dilalui kendaraan roda empat.

"Sebelum dibuka akses jalan baru itu, jarak tempuh menuju Kampung Seumadam, menggunakan kendaraan roda dua, sekitar 70 menit. Sekarang, hanya butuh waktu 20 menit saja kami sudah bisa sampai ke Kampung Seumadam," ungkap Alhafiz.

Berakhirnya program kerakyatan ini, realitanya, telah membangkitkan semangat berusaha para petani untuk menghidupkan sektor pertanian dan perkebunan di dua kampung itu. Wajah-wajah warga pun tampak 'sumringah'. Dan, tentu, mereka tak lagi kesulitan memasarkan hasil tani dan kebunnya. Inilah warisan berharga dari cucuran keringat para penjaga “jiwa korsa” NKRI tercinta; Baravo satgas TMMD Aceh Tamiang 2020! | SUTRISNO, Kontributor KBA.ONE di Aceh Tamiang.

Komentar

Loading...