Togel Singapura dan Hongkong Merajalela di Tamiang

Togel Singapura dan Hongkong Merajalela di Tamiang
Sidut Kota Kuala Simpang. | Foto: ranselijo.62

Modus permainannya, jika memasang Rp1.000 (dua angka), bila kena angka yang dipasang itu bandar akan membayar Rp60 ribu. Jika memasang Rp1.000 (tiga angka) bandar membayar Rp400 ribu. Lalu untuk empat angka dibayar Rp2,5 juta.

KBA.ONE, Aceh Tamiang - Aceh Tamiang belum layak disebut "kota togel" tapi praktik judi toto gelap hingga kini terus merajalela di sana. Dulu, di era 90-an sebelum Tamiang menjadi kabupaten, permainan tebak angka ini dilakukan secara terang benderang. Tidak ada yang mampu mengusiknya karena bandar besarnya, Olo Panggabean, sangat berkuasa kala itu. Togel seperti dilegalkan.

Ketika era berganti dan Olo tak ada lagi seharusnya judi ini musnah. Apalagi, ketika Kepala Polri dijabat Jenderal Sutanto, penyakit sosial ini digulung habis. Masyarakat sempat lega. Namun, itu cuma sementara. Selepas Sutanto, bandar togel yang tiarap kembali bangkit menyemarakkan "pertogelan" di Tamiang. Togel kembali bangkit, menyusup ke gang-gang sempit, terminal, jalan-jalan kampung, warung-warung, dan sesekali singgah di pos jaga.

Masyarakat Tamiang yang ingin daerahnya bersih dari togel, kembali mengusap dada. Namun, apa mau dikata, togel tak mudah dibasmi. Maka, masyarakat pun mengira-ngira apa pasal judi ini tidak bisa diberantas. Mereka menduga, bandar-bandar togel membayar "upeti" agar bisnis haram itu berjalan lancar. "Upeti" untuk siapa? Ini yang belum ada jawabannya.

"Kalau tidak ada satu pun pihak yang mampu membasmi judi tersebut, sudah pasti ada apa-apanya. Entah karena para bandar pandai "bermain mata" untuk berikan "upeti", atau memang ada dugaan bisnis haram ini dibiarkan untuk dipelihara, karena omset per harinya begitu menggiurkan, mencapai puluhan juta rupiah," ujar seorang sumber KBA, Minggu, 19 Januari 2020.

Dia mengatakan, permainan togel di Tamiang sekarang menggunakan sistem yang sangat berbeda seperti era 90-an. Para bandar, agen penulis togel, hingga pemasang togel, mengadopsi kemajuan teknologi. Walaupun tidak canggih-canggih amat. Bandar menerima rekap nomor pemasangan togel dari agen melalui SMS. "Begitu juga dengan para agen penulis togel dan pemasang togel, dilakukan dengan cara yang sama. Pokoknya rapilah cara mainnya," ujar sumber tersebut.

Permainan togel dilakukan siang dan malam. "Kalau siang itu namamya togel Singapura, bukanya hari Senin, Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu. Keluar angkanya pada sore hari. Sedangkan togel malam, namanya togel Hongkong. Buka pemasangan dan keluar angkanya setiap malam," cetus sumber. 

Pencatat judi togel di Kuala Simpang. | Foto: KBA.ONE, Sutrisno

Modus permainannya, jika memasang Rp1.000 (dua angka), bila kena angka yang dipasang itu bandar akan membayar Rp60 ribu. Jika memasang Rp1.000 (tiga angka) bandar membayar Rp400 ribu. Lalu untuk empat angka dibayar Rp2,5 juta.

Sementara untuk yang memilih angka bebas, pemasang harus membayar paling sedikit Rp50 ribu. "Bila kena angkanya dibayar Rp120 ribu sudah dengan modal. Kalau angka colok kena double, berarti dibayar Rp240 ribu sudah dengan modal sebesar Rp50 ribu tersebut. Lalu kalau pasangan colok angka batang dan ekor Rp10 ribu, dibayar bandar Rp80 ribu."

Kalkulasi angka tersebut setidaknya menggambarkan bagaimana bandar meraup pendapatan. Ada bandar yang mampu mengantongi Rp50 juta per hari. Tinggal dijumlahkan saja per bulan. "Ini jumlah yang luar biasa besarnya. Anehnya, para bandar togel hingga kini aman-aman saja."

Bandar-bandar tersebut beroperasi di Kualasimpang, Seruway, dan Sungai Yu. Setiap kota berbeda bandar. Sumber KBA menduga, peredaran togel di Kualasimpang, Karang Baru, dan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, dikendalikan bandar berinisial Al. "Setiap wilayah ada agen (tukang tulis) togel," ujarnya. Sementara untuk Seruway dan Sungai Yu, bandarnya bukan Al. Sepengetahuan sumber KBA, para agen di kedua wilayah ini menyetor rekapan nomor dan uang pemasangan togel pada Al. "Artinya, ada bandar yang lain."

Al ketika dihubungi KBA via selular pada Senin, 20 Januari 2020, tak membantah bahwa dia adalah bandar togel. "Semua orang di sini tau saya bandar, Pak, tapi tidak seluruh kecamatan di Aceh Tamiang. Nanti saya kirim anggota saya untuk menemui Bapak, biar anggota lobi Bapak untuk kordinasi," kata Al berterus terang tentang profesi ilegalnya kepada KBA.ONE.

Tokoh Pemuda Aceh Tamiang yang juga Ketua Badan Advokasi Indonesia (BAI) setempat, Syawaluddin, meminta penegak hukum beserta pemerintah kabupaten melalui Dinas Syariat Islam untuk giat melakukan patroli dan penertiban terhadap para bandar dan agen-agennya. "Kalau bandarnya tidak mampu dibasmi tentu kondisi ini sudah pada level stadium cukup parah. Ini tidak bisa dibiarkan, harus segera dihentikan," ujarnya. 

Syawaluddin. | Foto: Ist

Seorang datok penghulu atau kepala desa di Kecamatan Karang Baru berkomentar senada. Riza Zahari, Datok Penghulu Kampong Dalam menyebutkan aparatur pemerintahan kampungnya sangat mendukung program pemberantasan togel. Pihak kampung juga bekerja sama dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk selalu mengarahkan masyarakat agar tidak terjerumus ke dalam judi. "Prinsipnya kami mendukung segala program yang sifatnya memberantas penyakit masyarakat. Saya berharap praktik tersebut segera ditindak tegas tanpa ada kompromi. Perlu tindakan khusus yang lebih akurat dari penegak hukum," ujar Riza.

Sementara Ihsan Nur, salah seorang pengurus dayah di Aceh Tamiang ,meminta pemerintah daerah dan masyarakat mengawasi secara ketat praktik judi tersebut. Masyarakat yang melihat hal itu, kata Ihsan, harus melaporkannya kepada pemerintah. "Lalu Pemerintah Aceh Tamiang juga harus menyikapi dengan serius laporan tersebut. Selain itu di pemda kan banyak tokoh-tokoh agama seperti dai kecamatan, mereka bisa memberikan informasi tentang bahaya, dampak, dan haramnya togel ini," ujarnya.

Ihsan juga berharap penegak hukum menindak tegas para pelaku, terutama para bandar sebagai urat nadi praktik haram tersebut. "Penegak hukum juga harus terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat yang tidak terkontaminasi dengan togel, untuk memutus mata rantai peredaran judi itu, agar ke depan tidak ada lagi genersi muda yang mengenal permainan judi togel tersebut."
SUTRISNO | Kontributor, KBA.ONE, Aceh Tamiang.

Komentar

Loading...