Trans Continent Buktikan Kemudahan Izin Investasi di Aceh

Oleh ,
Trans Continent Buktikan Kemudahan Izin Investasi di Aceh
Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah bersama CEO Trans Continent Ismail Rasyid, Direktur PT PEMA Zubir Sahim, dan Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh Safuadi menekan bel saat ground breaking di KIA Ladong | Istimewa

KBA.ONE, Banda Aceh - Di depan Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah, CEO Trans Continent Ismail Rasyid mengungkapkan kemudahan proses perizinan yang diperoleh perusahaannya terkait investasi di Kawasan Industri Aceh atau KIA Ladong, Aceh Besar. Ismail membuktikan izin investasi di Aceh ternyata cepat dan mudah.

"Penyederhanaan prosedur perizinan, khusus di bidang kepabeanan saya sudah mendapatkan respon yang luar biasa dan sekali lagi apresiasi saya kepada Bapak Kakanwil Bea Cukai [Aceh] yang telah memberikan feedback yang sangat cepat untuk PLB [Pusat Logistik Berikat] ini,” ujar Ismail saat peresmian pusat logistik berikat dan pergudangan terpadu milik PT. Trans Continent di KIA Ladong, Aceh Besar, Sabtu 31 Agustus 2019.

Trans Continent merupakan perusahaan pertama yang melakukan ground breaking di KIA Ladong. Ismail menilai kelancaran proses perizinan yang dia peroleh itu salah satu aspek terkait kepastian hukum yang selalu menjadi pertimbangan investor. “Saya hanya mengirim permohonan lewat WhatsApp dari Australia dan langsung direspons dan diproses, semoga diikuti oleh departemen lainnya,” ujarnya.

Mendengar ucapan Ismail tersebut, Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh Safuadi berjanji akan terus memberi kemudahan bagi investor yang mengurus segala perizinan. Semua layanan di kantornya, kata Safwandi, bakal selesai dalam 10 menit lewat landing page services. Layanan ini, kata Safuadi, dibuatnya karena bea cukai ingin memudahkan pengusaha.

Jika sebelumnya Bea Cukai mewajibkan mengeluarkan izin-izin kegiatan usaha itu dalam waktu tiga hari plus satu jam (tiga hari survei dan satu jam untuk mengeluarkan SK), Safuadi membaliknya. “Saya sudah perintahkan untuk pelayanan tidak boleh lebih dari 10 menit. Saya bangun sistem, tetapi harus masuk ke sistem itu kalau tidak saya tidak bisa layani,” ujarnya. Dia mencontohkan di KEK Arun ada salah satu pengusaha yang semestinya sudah memperoleh izin usaha tapi hingga 1,5 tahun tidak terbit. “Saya sarankan pakai fasilitas Bea Cukai dan sudah terbit [izin usaha],” ungkap pria kelahiran Bireuen 50 tahun lalu ini.

Safuadi wajib membuat layanan seperti itu karena Bea Cukai berhubungan dengan pasar lokal maupun pasar internasional. “Setiap Selasa saya menjual surat utang negara yang jumlahnya Rp4-20 triliun. Kalau saya terlambat sedikit saja, kurs bergerak. Satu rupiah saja bergerak dikalikan 20 triliun bisa dibayangkan kerugian orang lain. Makanya saya ubah, mereka wajib mendapatkan pelayanan dari saya dengan tempo tidak lebih dari 10 menit,” ujar Safuadi yang juga alumni Unsyiah.

Sementara, PLB merupakan salah satu fasilitas fiskal yang ditawarkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kepada perusahaan logistik dan industri yang memenuhi persyaratan tertentu. PLB dibolehkan menimbun barang asal luar atau dalam negeri untuk didistribusikan ke luar atau dalam negeri dengan penangguhan bea masuk dan pajak impor serta tidak dipungut PPN penyerahan.

Di Aceh, PT Perta Arun Gas merupakan PLB pertama sejak 2016. Disusul KEK Arun Lhokseumawe pada 2018. Tahun ini, selain Trans Continent, dua perusahaan lain yang mendapatkan izin PLB adalah PT Aceh Makmur Bersama dan PT Yakin Pasifik Tuna.

PLB Trans Continent jenis usahanya berupa penimbunan bahan baku bidang pertambangan dan migas. Sedangkan pendistribusiannya untuk perusahaan pertambangan maupun migas di Aceh dan sekitarnya.

Kanwil Bea Cukai Aceh menerbitkan izin PLB Trans Continent sehari sebelum peletakan batu pertama. Di sisi lain, ada regulasi dari Menteri Keuangan tentang pusat logistik berikat yang menyebutkan, selambat-lambatnya satu jam sejak pemaparan proses bisnis, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib memberikan respon berupa persetujuan atau penolakan. Hasilnya, izin dikeluarkan hanya sejam setelah Ismail Rasyid memaparkan tentang usahanya itu kepada Safuadi dan jajarannya di Kantor Wilayah Bea Cukai kawasan Lueng Bata, Banda Aceh, Jumat, 30 Agustus 2019.[] ADV

Komentar

Loading...