Ubah Sampah Menjadi Emas di Bank Sampah Anyelir

Ubah Sampah Menjadi Emas di Bank Sampah Anyelir
Bank Sampah Anyelir di Medan. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Sampah-sampah itu dipilah di bank sampah, lalu ditimbang, hasilnya ditabungkan atas nama warga.

KBA.ONE, Medan - Sampah menjadi masalah serius yang harus diselesaikan bersama. Di beberapa titik di kota Medan, tumpukan sampah tampak menggunung di pinggir jalan. Salah satu nya di Jalan AR Hakim, sekitar Pasar Sukaramai,  Medan, Sumatera Utara. Hampir setiap harinya, sampah terlihat berserakan di kawasan ini.

Kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, dan minimnya edukasi tentang daur ulang sampah, mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Padahal jika dipilah dan dikelola dengan baik, sampah bisa menjadi satu hal yang berharga dan menghasilkan rupiah.

Tumpukan sampah di sudut Kota Medan. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Pekan lalu, KBA.ONE berkunjung ke Bank Sampah di Jalan Bromo Gang Kurnia, Lr. Karyasama, Medan Denai. Di tempat ini, kita bisa mengubah sampah menjadi emas. Menurut Muhammad Iskar, Direktur Bank Sampah Anyelir, bank sampah ini dibangun sejak 27 Desember 2018 dengan program memilah sampah menabung emas.

Sampah-sampah dari masyarakat dikumpulkan dan dipilah di bank sampah, lalu ditimbang, hasilnya langsung ditabungkan atas nama warga yang mengumpulkan sampah tersebut.

“Sebelumnya kita buatkan terlebih dahulu buku tabungan emas pegadaiannya, setelah sampah dipilah, langsung ditabungkan,” kata Iskar. “Dalam perjalanannya kita sudah sampai ke Deli Serdang, Medan Johor,” sambungnya lagi. 

Muhammad Iskar. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Bank Sampah Anyelir merupakan salah satu bank sampah yang berdiri di bawah naungan PT Pegadaian (Persero). Di Indonesia sendiri, sudah didirikan sekitar 85 Bank Sampah milik PT Pegadaian. “Yang Pegadaian punya ada 85 bank sampah, mulai dari Aceh hingga Papua. Di medan ada 2, kita yang kedua ini, Medan 1 yang Puspa, di depan sekolah Sutomo, dekat kuburan, tapi awal yang terbentuk itu kita,” ujar Iskar.

Selain di Medan, terdapat pula bank sampah lainnya di Sumatera Utara, seperti di Danau Toba dan Rantau Prapat. Sedangkan bank sampah milik PT Pegadaian di Banda Aceh sudah lebih dulu berdiri dari pada bank sampah di Medan. 

Tempat memilah sampah. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Saat ini Bank Sampah Anyelir hanya menerima sampah anorganik, sedangkan untuk pengolahan sampah organik, Iskar mengaku Bank Sampah Anyelir sedang dalam proses untuk merambah ke arah sana.

Mengelola bank sampah tentunya memiliki banyak sekali tantangan dan hambatan, mulai dari biaya operasional, lahan dan alat produksi yang kurang memadai, hingga upaya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

“Karena lahan kita ini masih sewa, alat-alat kita untuk produksi sampai saat ini masih belum bisa turun. Saya sudah menyurati Dinas Kebersihan, DLH, minta diberikan lahan Pemko. Kalau sudah ada lahan Pemko baru kita bangun, bisa dari Pegadaian, bisa dari Unilever. Jadi, kita hanya terkendala itu,” jelas Iskar. 

Sampah-sampah yang sudah dipilah. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Selama ini Bank Sampah Anyelir hanya melakukan proses pengumpulan sampah, memilah dan menimbang, lalu mengirimkannya pengepul. Menurut Iskar, hal tersebut menjadi tidak efisien. Dia berharap bisa mengubah konsep dari pengepul menjadi industri. “Ya karena itu, kita terkendala masalah lahan, ditambahlah kita belum menerima biaya operasional apapun baik dari pemerintah maupun instansi lain, jadi sifatnya mandiri,” kata Iskar.

Bergantung Penjualan

Untuk segala kegiatan dan operasional, seperti transportasi, minyak becak motor pengangkut sampah, listrik, dan operasional lainnya, Bank Sampah Anyelir terpaksa bergantung pada penjualan sampah masyarakat. Dari sampah yang dikumpulkan warga, masing-masing terkena biaya potongan sebesar 15% untuk biaya operasional tesebut. “Ya inilah jadi kendala lagi, akhirnya masyarakat jadi kecil dapatnya, terpaksa kita ambil karena memang kita semuanya pembiayaan masih bersifat mandiri,” kata Iskar.

Jumlah nasabah Bank Sampah Anyelir sendiri saat ini sudah berjumlah 200 orang di Kecamatan Medan Denai yang sudah memiliki buku tabungan emas Pegadaian. Namun bukan hanya untuk warga Medan Denai saja, Bank Sampah Anyelir juga menerima nasabah dari seluruh kota Medan.

Transportasi pengangkut sampah Bank Sampah Anyelir. | Foto: KBA.ONE, Ghandi. 

Dalam proses kegiatan pengumpulan sampah, Bank Sampah Anyelir bekerjasama dengan beberapa lembaga dan komunitas. Seperti komunitas Roda Hijau, sebuah komunitas peduli lingkungan yang sering mengutip sampah di daerah Medan Tembung, kemudian dibawa ke Bank Sampah Anyelir untuk dipilah dan dikelola. 

“Kita juga menjadi Mitra Karib Babinsa se Kota Medan dalam pengumpulan sampah-sampah tersebut. Kemudian kita juga kerjasama dengan Bank DBS, setiap hari kita melakukan pengumpulan sampah di sana,” ujar Iskar. 

Bank Sampah Anyelir. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Sedangkan dalam proses pemilahan sampah dari masyarakat, dapat dilakukan pemilahan di rumah masing-masing, atau di Bank Sampah Anyelir dengan harga jual yang berbeda. “Jadi yang udah terpilah itu dihitung harga bersih, dan yang belum, dihitung harga kotor,” jelas pria asal kota Bireuen tersebut.

Iskar berharap ke depannya pemerintah dapat ikut serta dalam membantu operasional agar Bank Sampah Anyelir dapat menjangkau lebih jauh dan lebih banyak lagi. Karena menurutnya, permasalahan sampah di kota Medan merupakan permasalahan klasik yang harus ditangani bersama. “Jadi, kita ikut serta dalam pengurangan sampah di kota Medan, tetapi masih ada keterbatasan. Kita harap ada peran lebih dari pemerintah dala hal ini,” tutup Iskar. *

Komentar

Loading...