Vaksinasi dan Teror Verba AtelisĀ 

Vaksinasi dan Teror Verba Atelis 
Ilustrasi | sutterstock-photo.

Mestinya vaksin sukarela. Tugas negara meyakinkan rakyat agar tidak takut. Ancaman verba adalah bentuk kejahatan purba yang didaur ulang di setiap zaman.

BUKAN salah Alhudri bila ultimatum yang keluar dari mulutnya langsung memantik kontroversi. Bisa jadi, Kepala Dinas Pendidikan Aceh ini kelewat semangat dalam "mengelaborasi" perintah atasan terkait vaksinasi siswa.

Alhudri mungkin juga tak menyangka ucapan yang awalnya dibuat untuk melecut semangat para kepala sekolah agar proaktif memvaksin siswa, ditangkap media, lalu viral dan bikin gaduh.

“Ini saya tegaskan kepada kepala sekolah SMA, SMK dan SLB, jika tidak mampu maka saya persilakan mundur saja."

Di media sosial banyak orang memprotes ancaman Alhudri itu. Mereka menilai hal itu tidak layak disuarakan seorang kepala dinas pendidikan. Mutu pendidikan Aceh yang nyatanya masih merosot, kok, seolah diabaikan Alhudri.

Vaksinasi dan mutu pendidikan Aceh memang saling berkaitan tapi tidak jeruk to jeruk. Vaksinasi lain soal. Begitu juga kualitas pendidikan.

Selain itu, ancaman yang dilontarkan Alhudri tidaklah bersifat resmi. Ini hanya semacam "wejangan" dari atasan untuk bawahan. 

Ultimatum Alhudri barangkali berkaitan dengan mepetnya waktu yang tersedia. Gerakan Vaksinasi Siswa yang digagas Pemerintah Aceh terlampau pendek menetapkan tenggat. 

Hingga 30 September ini ditargetkan seluruh pelajar tingkat menengah atas di Aceh telah menerima suntikan vaksin pertama. Bila mengaca pada tahapan vaksinasi yang telah dilakukan pemerintah sebelumnya, deadline yang ditetapkan Gerakan ini seolah bahkan tidak cukup untuk menarik nafas.

Kenapa semua serba cepat? Bisa dimaklumi karena pemerintah sedang ngebut mengejar herd immunity. Harapan lain yang disematkan di sini, bila semua siswa sudah divaksin, pembelajaran tatap muka bisa segera dilangsungkan.

Pandemi memang bikin semua orang tersudut. Padahal, di awal-awal virus ini merebak di Wuhan, pejabat-pejabat Jakarta dengan sembrono bermain kata di media, mengejek kemunculan penyakit ini. Mereka merasa virus itu hanya fenomena sesaat.

Maka, ketika virus ini benar-benar merebak secara global, pemerintah pun kelimpungan. Aturan demi aturan dibuat tapi banyak yang tak mujarab. Rakyat tak segan memprotes. Sama halnya dengan sepotong kalimat yang diucapkan Alhudri.

Kini, harapan penanganan virus ini diletakkan pada vaksinasi. Semua paham kita mesti bergegas sebelum wabah ini merusak lebih dalam. Tapi, main ancam seperti yang dilakukan Alhudri tidaklah elok.

Bukankan jauh-jauh hari sebuah kearifan tua telah mengingatkan kita: lembu dihela dengan tali, manusia dihela dengan kata. Setiap kerja mesti dilakukan sesuai aturan main masing-masing.

Tidak boleh ada paksaan dalam vaksinasi. Apalagi main ancam. Lagipula, Alhudri mewakili sebuah institusi besar bernama negara. Alangkah baiknya bila setiap perkataan yang keluar dari mulut negara itu menentramkan jiwa rakyatnya. Walau kita tahu ini utopia belaka. Tapi apa boleh buat, inilah selemah-lemah harapan yang kita gantungkan di dunia pendidikan Aceh meski pemimpinnya latah melakukan teror verba atelis! 

Anara

Komentar

Loading...