Vaksinasi di Aceh Tengah Capai Angka 43,3 Persen  

Vaksinasi di Aceh Tengah Capai Angka 43,3 Persen  
Jubir Satgas Penanganan dan Pengendalian Covid-19 Aceh Tengah, Yunasri. | Foto : KBA.ONE, Karmiadi

KBA.ONE, Takengon – Capaian vaksinasi secara umum di Kabupaten Aceh Tengah telah menyentuh angka 43,3 persen. Hal itu dikatakan oleh Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) penanganan dan pengendalian Covid-19 di kabupaten berhawa sejuk itu.

“Secara umum sudah di angka 43,3 persen, kita terus berupaya angka ini akan naik hingga mencapai 70 persen, sehingga kegiatan masyarakat akan kembali normal dan ini harapan semua kita,” ungkap Yunasri, kepada KBA.ONE, Rabu 10 November 2021 di Takengon.

Dari angka itu, secara umum yang telah melakukan vaksinasi sebanyak 67.800 warga yang telah menerima dosis pertama, sedangkan warga yang telah menerima dosis kedua sebanyak 40 ribu orang atau setara dengan 26,4 persen.

“Di dalamnya terdapat nakes, pelayanan publik, lansia, masyarakat umum dan remaja. Serapan ini cukup baik, pelayanan publik telah mencapai angka 66 persen, remaja 59,1 persen, nakes dosis ke tiga 60.2 persen, dan pesantren pesantren 37 persen,” kata Yunasri.

Serapan vaksin untuk lansia terbilang masih rendah, masih bertahan di angka 25 persen, dalam pelaksanaanya masih perlu upaya koordinasi serta melibatkan Alim ulama dan tokoh agama yang ada di kabupaten itu untuk mendukung pelaksanaan vaksin.

“Kami sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan mengundang tokoh agama, alim ulama untuk membahas masalah ini, supaya kegiatan ini berjalan lancar,” timpal Plt Kadis Kesehatan itu.

Ia juga membeberkan beberapa kendala vaksinasi untuk lansia berumur diatas 60 tahun, kata dia, kendalanya adalah harus melalui screening yang ketat, sehingga dapat dipastikan boleh divaksin atau ditunda bahkan tidak diperbolehkan untuk disuntik.

“Masih banyak lansia ditemukan memiliki komorbid, apabila sudah terkontrol dan memungkinkan untuk disuntik, kita kan lakukan proses vaksinasi,” ujar Yunasri.

Komorbid yang dimaksud adalah penyakit penyerta yang dimiliki oleh seseorang sehingga dilakukan penundaan untuk di vaksin, seperti, penyakit jantung, ginjal, diabetes, hipertensi, stroke, dan beberapa penyakit kronis lainnya.

Sejauh pelaksanaan vasksinasi di Kabupaten Aceh Tengah, belum ditemukan adanya efek samping yang berat, seperti stroke dan lumpuh, hanya nyeri lokal pada suntikan, pembengkakan dan kemerahan pada suntikan.

“Ini sering terjadi, sistemik demam, nyeri otot, dan sakit kepala, ini efek samping umum yang sering terjadi. Allhamdulillah untuk KIPI belum ditemukan di sini seperti yang terjadi di sejumlah daerah lain,” terang Yunasri.

Reaksi atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang dimaksud adalah reaksi vaksin dalam tubuh, seperti, nyeri pada lengan di tempat suntikan, sakit kepala atau nyeri otot, nyeri sendi, menggigil, mual atau muntah, lelah, dan demam ditandai dengan suhu diatas 37,8 derajat.

“Jika KIPI berat, seperti terjadi kelumpuhan, tidak sadar, ini belum ditemukan, jika ini terjadi tentu menjadi tanggung jawab bersama, tim KIPI RSUD Datu Beru nanti yang akan menangani, jika tidak memungkinkan akan dirujuk ke RSUD Zainal Abidin,” kata Yunasri berharap efek samping itu tidak ditemukan di kabupaten tersebut.

Ia mengajak seluruh masyarakat yang belum divaksin untuk segera mendaftarkan diri ke gerai-gerai vaksin yang ada atau ke puskesmas terdekat. Tujuannya, kata dia, untuk memutus penyebaran Covid-19 sehingga dapat mencapai herd immunity (kekebalan kelompok).

"Herd imunity adalah ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular tertentu, sehingga memberikan perlindungan tidak langsung atau kekebalan kelompok bagi mereka yang tidak kebal terhadap penyakit menular," tambahnya berharap wabah ini segera lenyap.

Anara

Komentar

Loading...