Walhi: Kerusakan Hutan Akibat Pembangunan Infrastruktur

Walhi: Kerusakan Hutan Akibat Pembangunan Infrastruktur
Salah satu areal hutan Aceh yang dirusak. Foto: Aceh Indie Foto.

Penyebabnya, kata Nasir, daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang tidak memadai.

KBA.ONE, Banda Aceh - Kerusakan hutan dalam perspektif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh disebabkan oleh aktifitas pembalakan liar.

"Seperti perambahan hutan secara terus menerus," kata Nasir, kepala Divisi Advokasi, kepada KBA, Jumat, 8 Desember 2017.

Pada 2014 Walhi mencatat kerusakan kawasan hutan Aceh mencapai 1751 hektare. Pada 2015 tercatat 5.740 hektare. Jumlah kerusakan pada 2016 meningkat berkisar angka 62.240 hektare. Sedangkan di tahun 2017, angka kerusakan hutan akan dikeluarkan akhir Desember ini.

Terkait banjir akhir-akhir ini, kata Nasir, terjadi 31 kasus yang meliputi daerah Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Singkil, Aceh Selatan, serta Aceh Tenggara.

Nasir mengatakan pada  2015 terdapat 39 kasus banjir, 2016 sebanyak 26 kasus, dan 2017 berkisar 23 kasus belum termasuk bencana pada Oktober sampai Desember.

Penyebabnya, kata Nasir, daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang tidak memadai. Kawasan hulu yang rusak akibat pembangunan serta aktivitas ilegal mempengaruhi kawasan tangkapan air. Sehingga di saat hujan dengan intensitas tinggi tidak mampu ditampung oleh kawasan yang telah rusak.

“Selain itu, kondisi fisik sungai dan sedimentasi dapat mempengaruhi laju permukaan air sehingga mengakibatkan meluapnya air ke pemungkiman warga," kata Nasir.

Kontributor Rahmadana Jamaluddin

Komentar

Loading...