Yang Bertahan di Galangan Perahu Mayang

Yang Bertahan di Galangan Perahu Mayang
Geladak utama perahu mayang buatan Marzuki dan rekan-rekannya. | Foto KBA.ONE: Nurnisa.

Keahlian Marzuki dan rekan-rekannya tidak diragukan lagi. Mereka sudah terlatih meyulap kayu-kayu pilihan itu menjadi sebuah perahu penangkap ikan yang tangguh di tengah samudera.

KBA.ONE, Banda Aceh  –  Sore itu langit di atas Desa Lamteungoh tertutup mendung. Awan gelap menyebar ke delapan penjuru mata angin; menahan sebagian sinar matahari jatuh ke bumi. Hujan seakan hendak turun. Beberapa jengkal dari bibir pantai, gemuruh ombak terdengar saling bersahutan, seirama dengan entakan palu pemukul pasak besi sebuah galangan perahu tradisional.

Selasa sore itu, 22 Mei 2018, empat pria paruh baya tak memedulikan keadaan cuaca sekitar, bahkan hujan yang mengancam tumpah. Mereka tak henti memaku bagian rusuk perahu kayu sepanjang 30 x 6 meter yang dipacak di atas pasir pantai. Sebagian lagi tampak bersemangat melubangi sisi kanan badan perahu yang masih setengah jadi itu.

Tak cuma palu dan paku, para lelaki ini juga menggunakan mesin bor untuk mengikat rangka perahu mayang (perahu penangkap ikan menggunakan pukat) dengan baut-baut seukuran jari telunjuk tangan.  Sesekali badan perahu serasa bergetar ketika palu-palu itu mulai memaku bagian lantai dasarnya. 

Haluan perahu nelayan tradisional khas Aceh; runcing dan kokoh. | Foto KBA.ONE; Nurnisa.

Marzuki, 40 tahun, adalah satu dari empat pria pekerja pembuatan perahu nelayan tradisional penangkap ikan di Lamteungoh, Peukan Bada, Aceh Besar. Di galangan perahu inilah setiap hari Marzuki dan rekan-rekannya menguras keringat menambat rezeki.

Marzuki adalah putra asli kelahiran Lamtengoh. Dia bercerita bagaimana proses pembuatan perahu  penangkap ikan tradisional di kampungnya. Semua masih dikerjakan secara manual. Peralatan yang digunakan pun hanya mesin bor, martil dan grenda (mesin pemotong kayu).

Tapi, keahlian Marzuki dan rekan-rekannya tidak diragukan lagi. Mereka sudah terlatih meyulap kayu-kayu pilihan itu menjadi sebuah perahu penangkap ikan yang tangguh di tengah samudera.

Sudah puluhan perahu lahir dari kecekatan tangan Marzuki dan teman-temannya. Mereka selalu mendapat order dari toke-toke ikan di Banda Aceh dan Aceh Besar. Marzuki cuma butuh waktu sekitar 3 bulan untuk merampungkan satu unit perahu tradisional berukuran besar.  

Lama atau tidaknya perahu itu selesai, kata Marzuki, semua tergantung dari yang memasok kayu. Biasanya, pengadaan kayu dipasok langsung oleh orang yang memesan perahu. Jika pasokan kayu lamban, maka proses pembuatan perahu akan terhambat. Estimasi waktupun bergeser dari kesepakatan awal, begitu sebaliknya. “Tapi tak masalah karena kami hanya mengambil ongkos pembuatan perahu saja, tidak termasuk menyediakan bahan,” cerita Marzuki.

Marzuki biasa memulai pekerjaan membuat perahu dari pemasangan tunas perahu sebagai permulaan atau kayu pertama perahu. Kemudian menyusul pemasangan gading perahu (rusuk perahu) yang digandengkan  dengan papan badan perahu bagian luar. “Setelah itu baru kami pasang naga-naga (papan tebal 15 cm di bagian dalam) dan balok-balok besar sebagai penahan deck (lantai atas perahu),” kata Marzuki. 

Galangan kapal mayang di Lamteungoh, Peukan Bada. | Foto KBA.ONE: Nurnisa.

Agar perahu tetap kokoh dan tak gampang rusak, kata Marzuki, biasanya kayu yang digunakan juga kayu pilihan. Misalnya kayu jenis alban, bayu, bungo madam, dan mane. Kekuatan sebuah perahu sangat  tergantung dari kualitas kayu yang digunakan.

Untuk satu perahu penangkap ikan tradisional, Marzuki biasa menghabiskan 30 kubik papan dan kayu. Ongkos pembuatannya sekitar Rp300 juta hingga Rp400 juta, tergantung tingkat kerumitan dan besaran ukuran perahu. “Tapi, untuk perahu jenis pukat langgar seperti ini,  pemesan bisa menghabiskan dana hingga Rp1 miliaran,” jelas Marzuki.

Marzuki dan rekan-rekan sesama pembuat perahu mengaku sudah menyelesaikan sekitar 10 perahu. Modal yang mereka keluarkan sekitar Rp1 miliar. ”Itu cuma boat saja,  belum termasuk mesin, jaring, cat dan bahan pendukung lainnya,” ujar Marzuki.

Model perahu yang dibuat Marzuki dan teman-temannya tetap sesuai keinginan pemesan, bukan selera dia. Tapi, kebanyakan pemesan memilih model khas Aceh, yaitu bagian depannya runcing.  Model ini dianggap paling aman dari segi keselamatan karena ujung kapal lebih efektif memecah serangan ombak di tengah laut. 

Perahu pukat langgar yang tengah dikerjakan Marzuki. | Foto KBA.ONE: Fatma

Berbeda dengan model perahu Sibolga yang bulat di bagian depannya. Meski dari segi estetika lebih indah dan enak dilihat, perahu model ini mudah terombang-ambing dan kurang memiliki daya tahan ketika dihantam badai ombak. “Kemungkinan besar perahu akan lebih gampang patah dan tenggelam. Sebab, saat berbenturan dengan ombak, perahu akan naik ke atas ombak itu. Begitu seterusnya,” kata Marzuki.

Marzuki memang punya pengalaman cukup soal itu. Sejak muda dia sudah menekuni usaha perajin pembuatan perahu nelayan tradisional di gampong nya. Dari usaha ini pula ia menghidupkan api dapur keluarganya, begitu juga rekan-rekan se-galangan Marzuki. “Alhamdulillah kami bisa bertahan hidup di galangan perahu nelayan ini,” kata Marzuki mengakhiri wawancaranya dengan Nurnisa dan Fatma dari KBA.ONE. ***

Komentar

Loading...